Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #29

Gambar Wajah Oval Tanpa Muka

Suatu sore, sepulang main sama Toni, Damba duduk sendirian di kamarnya, ngambil kertas gambar sama krayon yang dikasih Bu Wening buat tugas mewarnai bebas, "gambar apa aja yang lagi kamu pikirin."

Dia mulai gambar rumah. Bentuknya kotak, atap segitiga, gambar khas anak kecil. Ada dia sendiri di depan pintu, ada Rindu di sebelahnya, keduanya digambar gandengan tangan, sama-sama senyum lebar dengan gigi kotak-kotak.

Terus dia gambar satu sosok lagi, di sebelah kiri. Dia mulai dengan bentuk oval buat kepala, terus berhenti.

Krayonnya diem di udara. Damba natap kertas itu lama, alisnya berkerut, kayak lagi nyoba inget sesuatu.

Dia coba lagi. Gambar rambut, panjang, terurai. Gambar baju, model gaun sederhana. Tapi pas nyampe di bagian wajah, tangannya berhenti lagi. Dia coba gambar mata, tapi jadinya cuma dua titik nggak simetris. Dia coba gambar senyum, tapi garisnya jadi lurus datar, bukan lengkung.

"Kok susah, ya," gumamnya, ke kertas itu, ke dirinya sendiri, ke kamar yang kosong.

Dia nggak nangis. Dia cuma keliatan bingung, kayak orang yang megang gagang pintu tapi lupa dia mau buka atau nutup.

Dia coba sekali lagi. Sosok ketiga di kertas itu akhirnya jadi, tapi wajahnya kosong. Nggak ada mata, nggak ada mulut. Cuma oval polos, dikelilingi rambut panjang, berdiri di sebelah Rindu dan Damba yang masih gandengan tangan.

Damba natap gambar itu lama. Terus, tanpa bilang apa-apa, dia lipat kertas itu jadi kecil, dan masukin ke laci meja belajarnya, di bawah tumpukan buku PR.

Dia nggak cerita ke Rindu soal gambar itu.

*

Beberapa hari kemudian, di lapangan sekolah, waktu tangannya gemeter mau ngegerakin kerikil ke anak yang ngejek Toni, dia berhenti di tengah jalan. Kerikilnya cuma bergeser sesenti, terus diem.

Damba natap tangannya sendiri. Dia lagi nyariin sesuatu di telapak tangannya sendiri yang, entah kenapa, nggak ada di situ lagi.

*

Kertas itu udah aman di laci, di bawah tumpukan buku PR. Tapi Damba nggak langsung ngelupain apa yang baru aja gagal dia gambar.

Dia duduk di lantai kamarnya, meluk lutut, mikirin kelereng Toni yang dulu bisa dia tarik cuma pake tatapan. Kaleng susu yang jatoh sendiri. Batu kerikil yang meluncur ke kaki anak yang ngejekin dia.

Kalau dia bisa narik benda-benda itu, kenapa dia nggak bisa "narik" muka Ibu?

Nggak ada yang ngajarin dia mikir kayak gitu. Tapi buat anak kelas 4 SD, logikanya sederhana: kalau mata bisa gerakin barang, mungkin mata juga bisa manggil balik sesuatu yang ilang.

Dia natap tembok kosong di depannya. Bukan barang. Bukan kaleng, bukan kelereng. Cuma tembok putih polos, tapi dia paksa matanya nggak berkedip, kayak biasanya dia lakuin sebelum sesuatu bergerak sendiri.

Wajah Ibu, pikirnya, keras-keras di dalam kepala. Aku mau lihat wajah Ibu. Sekarang.

Nggak ada apa-apa.

Lihat selengkapnya