Suatu sore, sepulang main sama Toni, Damba duduk sendirian di kamarnya, ngambil kertas gambar sama krayon yang dikasih Bu Wening buat tugas mewarnai bebas, "gambar apa aja yang lagi kamu pikirin."
Dia mulai gambar rumah. Bentuknya kotak, atap segitiga, gambar khas anak kecil. Ada dia sendiri di depan pintu, ada Rindu di sebelahnya, keduanya digambar gandengan tangan, sama-sama senyum lebar dengan gigi kotak-kotak.
Terus dia gambar satu sosok lagi, di sebelah kiri. Dia mulai dengan bentuk oval buat kepala, lalu berhenti.
Krayonnya nyangkut di udara. Damba natap kertas itu lama, alisnya berkerut, kayak lagi nyoba inget sesuatu.
Dia coba lagi. Gambar rambut, panjang, terurai. Gambar baju, model gaun sederhana. Tapi pas nyampe di bagian wajah, tangannya berhenti lagi. Dia coba gambar mata, tapi jadinya cuma dua titik enggak simetris. Dia coba gambar senyum, tapi garisnya jadi lurus datar, bukan lengkung.
"Aku bisa, kok," gumamnya, ke kertas itu, ke dirinya sendiri, ke kamar yang kosong. "Tapi ini siapa?"
Dia enggak nangis. Dia cuma keliatan bingung, megang gagang pintu tapi lupa dia mau buka atau nutup.
Dia coba sekali lagi. Sosok ketiga di kertas itu jadi, tapi wajahnya kosong. Enggak ada mata, enggak ada mulut. Cuma oval polos, dikelilingi rambut panjang, berdiri di sebelah Rindu dan Damba yang masih gandengan tangan.
Damba natap gambar itu lama. Terus, tanpa bilang apa-apa, dia lipat kertas itu jadi kecil, dan masukin ke laci meja belajarnya, di bawah tumpukan buku PR.
*
Beberapa hari kemudian, di lapangan sekolah, waktu tangannya gemeter mau ngegerakin kerikil ke anak yang ngejek Toni, dia berhenti di tengah jalan. Kerikilnya cuma bergeser sesenti, terus diem.
Damba natap tangannya sendiri. Dia lagi nyariin sesuatu di telapak tangannya sendiri yang, entah kenapa, enggak ada di situ lagi.
Sore itu juga, sewaktu dia pulang dan kesel gara-gara PR-nya basah kena air minum yang tumpah, dia lempar penghapus ke tong sampah, kesel, enggak pake tatapan, cuma lempar tangan biasa.
Penghapusnya enggak jatoh ke tong sampah.
Penghapusnya nempel di telapak tangannya. Cuma dua detik, tapi cukup buat Damba ngerasa ada tarikan aneh, kayak ada lem enggak keliatan yang narik balik benda itu ke kulitnya sebelum akhirnya lepas juga dan jatoh ke lantai, bukan ke tong sampah.
Damba natap tangannya begitu lama. Dia coba lagi, sengaja kali ini, ngelempar bola kertas ke arah keranjang baju kotor. Sama. Bola kertas itu nempel di jarinya dua detik, ketarik balik, sebelum akhirnya lepas dan jatoh asal.
Dia enggak ngerti ini apa. Ini bukan kayak kekuatan dia yang bisa dia panggil dan dia lepas semaunya. Ini kayak kekuatannya punya kemauan sendiri.
Dia berhenti lempar-lempar apa pun buat beberapa hari, taruh semua barang pelan-pelan pake tangan, kayak orang yang baru sadar tangannya sendiri enggak sepenuhnya bisa dipercaya lagi.
*
Kertas itu udah aman di laci, di bawah tumpukan buku PR. Tapi Damba enggak langsung ngelupain apa yang baru aja gagal dia gambar.
Dia duduk di lantai kamarnya, meluk lutut, mikirin kelereng Toni yang dulu bisa dia tarik cuma pake tatapan. Kaleng susu yang jatoh sendiri. Batu kerikil yang meluncur ke kaki anak yang ngejekin dia. Sekarang bahkan penghapus dan bola kertas pun enggak mau nurut cara biasa.
Kalau dia bisa narik benda-benda itu, kenapa dia enggak bisa "narik" muka Ibu?
Enggak ada yang ngajarin dia mikir kayak gitu. Tapi buat anak kelas 4 SD, logikanya sederhana: kalau mata bisa gerakin barang, mungkin mata juga bisa manggil balik sesuatu yang ilang.