Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #34

Blueprint Rumah Impian

Rindu berdiri di depan kaca jendela kamarnya yang netesin air. Dia bisa liat dirinya sendiri di pantulan mengilap itu.

Garis-garis di sudut matanya udah nggak bisa disembunyiin lagi. Rambutnya, yang cuma beberapa helai putih dulu, sekarang nyaris sepertiga bagian depan udah berubah warna, kayak orang yang jauh lebih tua dari tujuh belas tahun. Tangannya gemetar kalau kelamaan berdiri.

Dia tau, kalau dia gagal ngajak keluarganya pergi dari aku: Damba bakal lupa dia selamanya, dan dia sendiri, entah gimana caranya, ngerasa dirinya sendiri juga bakal abis duluan sebelum sempat nyelametin siapa-siapa.

Rindu akhirnya cerita ke Bagja soal kamar bawah tanah, soal aku, Rumemo, yang bisa ngisap rasa sakit kalau mereka tidur buat dijadikan sihir atau kekuatan aneh. Rindu juga cerita kalau Damba lagi dalam bahaya.

Dari kemarin, Damba nggak mau keluar kamar. Rindu sampai harus nyimpen makanan di depan pintu kalau-kalau Damba laper. Padahal, Rindu juga tahu, Damba bisa dengan mudah ngeraih sendiri makanan dari kulkas dengan tatapannya.

“Damba…” gumam Bagja. Dia duduk lemas. Tangannya meremas koran yang tadi dibawanya dari meja makan. “Harusnya nggak begini.”

Rindu natap ayahnya.

Bagja nunduk. Tapi nggak ada yang bisa dipikirkan.

Nggak ada paku yang bisa dipukul. Nggak ada engsel yang bisa dikencengin. Nggak ada atap yang bisa dimiringkan sedikit supaya air jatuh ke tempat yang benar.

Bagja cuma bisa duduk, kayak orang yang baru aja tersesat di rumahnya sendiri.

Bagja, di kamar sebelah, berdiri di depan cermin yang nggak bisa bohong itu. Badannya sekarang keliatan tembus sekilas kalau kena cahaya matahari pagi, kayak foto yang expose-nya kelewat terang di satu sisi.

Dia natap tangannya sendiri, dan buat beberapa saat, dia bisa liat serat kayu lemari di belakangnya, samar-samar, lewat punggung tangannya sendiri.

“Kalau ini bisa dibenerin…” Kalimatnya berhenti. Bagja mengusap wajah. “Hari ini,” gumamnya ke cermin, “harus selesai hari ini.” Dia natap bayangannya lagi.

*

Semua orang di dalam naunganku udah tidur. Bagja nggak bisa tidur. Dia masih berkutat dengan blueprint di tangannya. Di salah satu ruang tertulis jelas tulisan tangan Kenanga yang samar dia ingat sebagai tulisan tangannya sendiri: “Rumah tempat kita pulang.”

Ujung pensilnya bergerak di atas gambar.

Dia nambahin satu garis. Menghapusnya. Nambahin lagi. “Kalau ruang tamunya digeser…” gumamnya. “Tinggal kamar anak di sini.” Dia berhenti. “Kalau tangganya dipindah, tinggal—” Pensilnya gantung.

Bagja merhatiin gambar itu lama.

Selama ini, dia kira dia kehilangan kerjaan, kehilangan kemapanan sehabis di-PHK. Padahal bukan. Yang hilang adalah kehidupan utuh yang dulu pengen dia bangun. Di titik ini, Bagja nangis. Dia nggak bangkrut kayak dulu. Rumahnya juga nggak lagi disita. Tapi dia baru nyadar: bahkan ‘rumah’ yang dia impikan sendiri nggak pernah sempat dia bangun. Bersama anak-anaknya.

Tangannya masih pegang pensil. “Harusnya…” katanya. Dia nggak melanjutkan.

Di situlah, aku coba bisikin dia satu penawaran. Ketenangan yang sempurna, yang bikin dia nggak akan inget lagi kalau dia udah gagal jadi arsitek, gagal bangun rumah, dan gagal jadi ayah.

Tapi Bagja tepis semua rayuanku dengan bilang, “Rumah bukan tempat yang bikin kami nggak pernah sakit.”

Dia ngerobek blueprint lamanya. Kertas itu sobek di tengah garis denah yang sudah berkali-kali dia ubah. Dia lihat sobekan itu. “Harusnya nggak begini.” Lalu dia merobek bagian lainnya. “Kalau dari awal begini…” Tangannya berhenti.

Bagja menggeleng. “Nggak.” Dia meremas sisa blueprint sampai kusut. “Udah.”

Karena selama ini blueprint itu jadi simbol hidup yang nggak pernah selesai.

Dia, seharusnya, nggak lagi hidup demi rumah impian.

Dia, seharusnya, milih bangun keluarganya yang tersisa.

Dan aku, seharusnya, yang ngambil ingatan soal blueprint itu buat kujadikan kabut di dalam toples.

Lihat selengkapnya