Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #40

Blueprint Rumah Impian

Rindu berdiri di depan kaca jendela kamarnya yang netesin air. Dia bisa liat dirinya sendiri di pantulan mengilap itu.

Garis-garis di sudut matanya udah nggak bisa disembunyiin lagi. Rambutnya, yang cuma beberapa helai putih dulu, sekarang nyaris sepertiga bagian depan udah berubah warna, kayak orang yang jauh lebih tua dari tujuh belas tahun. Tangannya gemetar kalau kelamaan berdiri.

Dia tau, kalau dia gagal ngajak keluarganya pergi dari aku: Damba bakal lupa dia selamanya, dan dia sendiri, entah gimana caranya, ngerasa dirinya sendiri juga bakal abis duluan sebelum sempat nyelametin siapa-siapa.

Rindu akhirnya cerita ke Bagja soal kamar bawah tanah, soal aku, Rumemo, yang bisa ngisap rasa sakit kalau mereka tidur buat dijadikan sihir atau kekuatan aneh. Rindu juga cerita kalau Damba lagi dalam bahaya.

Dari kemarin, Damba nggak mau keluar kamar. Rindu sampai harus nyimpen makanan di depan pintu kalau-kalau Damba laper. Padahal, Rindu juga tahu, Damba bisa dengan mudah ngeraih sendiri makanan dari kulkas dengan tatapannya.

“Damba…” gumam Bagja, tapi dia cuma bisa duduk lemas. Kayak orang yang baru aja tersesat.

Bagja, di kamar sebelah, berdiri di depan cermin yang nggak bisa bohong itu. Badannya sekarang keliatan tembus sekilas kalau kena cahaya matahari pagi, kayak foto yang expose-nya kelewat terang di satu sisi.

Dia natap tangannya sendiri, dan buat beberapa saat, dia bisa liat serat kayu lemari di belakangnya, samar-samar, lewat punggung tangannya sendiri.

"Hari ini," gumamnya, ke cermin, "harus selesai hari ini."

*

Semua orang di dalam naunganku udah tidur. Bagja nggak bisa tidur. Dia masih berkutat dengan blueprint di tangannya. Di salah satu ruang tertulis jelas tulisan tangan Kenanga yang samar dia ingat sebagai tulisan tangannya sendiri: "Rumah tempat kita pulang.”

Selama ini, dia kira dia kehilangan kerjaan, kehilangan kemapanan sehabis di-PHK. Padahal bukan. Yang hilang adalah kehidupan utuh yang dulu pengen dia bangun. Di titik ini, Bagja nangis. Dia nggak bangkrut kayak dulu. Rumahnya juga nggak lagi disita. Tapi dia baru nyadar: bahkan ‘rumah’ yang dia impikan sendiri nggak pernah sempat dia bangun. Bersama anak-anaknya.

Di situlah, aku coba bisikin dia satu penawaran. Ketenangan yang sempurna, yang bikin dia nggak akan inget lagi kalau dia udah gagal jadi arsitek, gagal bangun rumah, dan gagal jadi ayah.

Tapi Bagja tepis semua rayuanku dengan bilang, "Rumah bukan tempat yang bikin kami nggak pernah sakit."

Dia merobek blueprint lamanya.

Karena selama ini blueprint itu jadi simbol hidup yang nggak pernah selesai.

Lihat selengkapnya