Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #29

Bagja Berdiri di Depan Gudang, Lalu Milih Pergi

Bagja enggak langsung naik angkot sepulang kerja. Dia jalan kaki, muter, ngambil rute yang lebih jauh, lewat jalan-jalan yang enggak perlu dia lewatin buat sampai rumah.

Bapak enggak perlu kelihatan kuat terus di depan saya.

Kalimat Pak Yono itu masih nempel, udah lebih dari seminggu, kayak kerikil kecil di sepatu yang keras kepala enggak mau keluar sendiri.

Dia berhenti di depan warung kelontong, mikir mau beli rokok yang udah lama dia berhenti hisap, cuma buat alasan berdiri sebentar. Enggak jadi beli. Matanya jatuh ke sekotak paku di etalase, harganya lebih murah dari yang biasa dia beli di toko. Tangannya reflek mau ngambil, terus ditarik lagi. Enggak butuh. Dia udah punya banyak di rumah.

Dia lanjut jalan.

Ada dorongan buat mampir ke gudang, cari Pak Yono, bilang sesuatu. Apa aja. Pak, saya capek. Tiga kata itu udah dia susun di kepala, udah dia coba-coba di mulut tanpa suara, bibirnya bergerak dikit di jalan yang sepi.

Dia sampai di depan gerbang gudang. Lampu masih nyala, ada siluet Pak Yono lagi beres-beres rak terakhir.

Bagja berdiri di situ. Satu menit. Dua menit.

Terus dia mundur, jalan lagi, enggak jadi masuk.

Ngapain juga. Dia pasti udah capek. Enggak enak ganggu.

Alasan itu keluar cepat, kayak reflek. Tapi kali ini, dia dengar sendiri betapa gampangnya dia bikin alasan. Dan itu yang bikin dia berhenti jalan sebentar, di tengah trotoar yang sepi, ngerasa aneh sama dirinya sendiri yang selama ini selalu punya alasan siap pakai buat enggak ngomong apa-apa.

*

Dia duduk di halte kosong, nunggu angkot yang enggak buru-buru dia naikin. Di kepalanya, dia coba sekali lagi apa yang dulu dia coba di gudang, malam itu, sebelum Pak Yono liat kakinya ngambang.

Lihat selengkapnya