Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #36

Jalan Pulang Kepanjangan

Bagja nggak langsung naik angkot sepulang kerja. Dia jalan kaki, muter, ngambil rute yang lebih jauh dari biasanya, lewat jalan-jalan yang nggak perlu dia lewatin buat sampai rumah.

Bapak nggak perlu kelihatan kuat terus di depan saya.

Kalimat Pak Yono itu masih nempel, udah lebih dari seminggu, kayak kerikil kecil di sepatu yang keras kepala nggak mau keluar sendiri.

Dia berhenti di depan warung kelontong, mikir mau beli rokok yang udah lama dia berhenti hisap, cuma buat alasan berdiri diam sebentar. Nggak jadi beli. Dia lanjut jalan.

Ada dorongan buat mampir ke gudang, cari Pak Yono, bilang sesuatu. Apa aja. Pak, saya capek. Tiga kata itu udah dia susun di kepala, udah dia coba-coba di mulut tanpa suara, bibirnya bergerak dikit di jalan yang sepi.

Dia sampai di depan gerbang gudang. Lampu masih nyala, ada siluet Pak Yono lagi beres-beres rak terakhir.

Bagja berdiri di situ. Satu menit. Dua menit.

Terus dia mundur, jalan lagi, nggak jadi masuk.

Ngapain juga, pikirnya, buru-buru cari alasan buat dirinya sendiri. Dia pasti udah capek. Nggak enak ganggu.

Alasan itu keluar cepat, kayak biasanya, kayak reflek. Tapi kali ini, buat pertama kalinya, dia dengar sendiri betapa gampangnya dia bikin alasan. Dan itu yang bikin dia berhenti jalan sebentar, di tengah trotoar yang sepi, ngerasa aneh sama dirinya sendiri yang selama ini selalu punya alasan siap pakai buat nggak ngomong apa-apa.

Lihat selengkapnya