Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #25

Rantai Ayunan Putus dan Tekstur Remasan Tangan yang Jauh dari Radarku

Damba lagi main ayunan bareng Toni di halaman, ayunan besi tua peninggalan penghuni sebelumnya yang rantainya udah lama enggak diganti. Mereka lomba siapa yang bisa ayun paling tinggi, teriak-teriak tiap kali badan melayang di puncak ayunan.

"Lebih tinggi lagi, Dam!" teriak Toni, ketawa, dorong ayunan Damba dari belakang.

Rindu duduk di teras, ngawasin dari jauh sambil nulis jadwal antar-jemput laundry di buku catatannya. Sesekali dia ngelirik ke arah dua anak itu.

Rantai ayunan itu udah karatan. Satu mata rantai udah longgar sebelah waktu Damba ayun makin tinggi.

"Damba!" teriaknya, setengah berdiri dari kursi.

Damba enggak nengok. Enggak ada tanda dia denger sama sekali. Matanya masih ketawa ke arah Toni. Badannya udah di titik paling tinggi.

Rindu teriak lagi, lebih keras kali ini. "DAMBA! AWAS RANTAINYA!"

Enggak ada reaksi. Sejak insiden di kamar ayunan berbulan-bulan lalu, denging di telinganya emang enggak pernah sepenuhnya ilang. Suara Rindu, dari jarak belasan meter, kalah sama denging itu.

Di puncak ayunan, satu mata rantai itu putus.

CTAK!

Bukan cuma putus. Ayunannya lepas sepenuhnya dari satu sisi, dan badan Damba terlempar ke arah pagar besi di pinggir halaman.

Rindu ada di teras, belasan meter jauhnya. Kakinya lari duluan sebelum otaknya sempat mikir jarak itu bisa dijangkau apa enggak.

Dia enggak sempat mikir. Enggak ada waktu buat nimbang-nimbang. Cuma ada satu hal di kepalanya: Damba bakal nabrak pagar besi itu, dan kakinya enggak akan sampai tepat waktu, dan dia udah teriak dua kali dan Damba enggak denger sama sekali.

Waktu berhenti.

Bukan pilihan yang dia susun pelan-pelan. Ini kayak refleks tangan yang narik diri dari api, lebih cepat dari kesadaran itu sendiri.

Rindu lari di tengah dunia yang beku. Toni berdiri kaku di tempatnya. Tangannya masih terulur di posisi abis dorong ayunan. Damba melayang diam di udara. Badannya miring. Wajahnya kaget, dekat beberapa senti dari pagar besi.

Rindu nangkep badan adiknya. Narik dia menjauh dari pagar. Enggak ada waktu buat mikir lebih jauh dari itu. Dia gendong Damba, lari ke teras, dudukin dia di kursi rotan yang biasa dia tempatin buat baca buku catatan.

Begitu dia lepas, waktu jalan lagi.

Kakinya sendiri masih kerasa berat. Napasnya terengah-engah, meski dunia di sekitarnya enggak nuntut kecepatan apa pun darinya. Dia sadar itu aneh: kenapa waktu berhenti buat semua orang, tapi dia sendiri masih harus mikul beban tubuhnya yang capek, harus tetep lari secepat otot-ototnya sanggup. Dia enggak dapet keajaiban buat dirinya sendiri.

Rumputnya juga kerasa aneh. Terlalu diam. Enggak ada satu helai pun yang goyang kena angin yang kembali bertiup sore itu.

*

Lihat selengkapnya