Damba lagi main ayunan bareng Toni di halaman, ayunan besi tua peninggalan penghuni sebelumnya yang rantainya udah lama nggak diganti. Mereka lomba siapa yang bisa ayun paling tinggi, teriak-teriak tiap kali badan melayang di puncak ayunan.
"Lebih tinggi lagi, Dam!" teriak Toni, ketawa, dorong ayunan Damba dari belakang.
Rindu duduk di teras, ngawasin dari jauh sambil nulis jadwal antar-jemput laundry di buku catatannya. Sesekali dia ngelirik ke arah dua anak itu, cuma buat mastiin nggak ada yang aneh-aneh.
Rantai ayunan itu udah karatan lebih dari yang siapa pun sadari. Di puncak ayunan tertinggi Damba, satu mata rantai putus.
Bukan cuma putus. Ayunannya lepas sepenuhnya dari satu sisi, dan badan Damba, yang lagi di titik paling tinggi, terlempar ke arah pagar besi di pinggir halaman.
Rindu ada di teras, belasan meter jauhnya. Kakinya lari duluan sebelum otaknya sempat mikir jarak itu bisa dijangkau apa enggak.
Dia nggak sempat mikir. Nggak ada waktu buat nimbang-nimbang kayak biasanya, buat inget kata-kata Origa, buat inget janjinya sendiri ke Damba. Cuma ada satu hal di kepalanya: Damba bakal nabrak pagar besi itu, dan kakinya nggak akan sampai tepat waktu.
Waktu berhenti.
Bukan pilihan yang dia susun pelan-pelan kayak biasanya. Ini kayak refleks tangan yang narik diri dari api, lebih cepat dari kesadaran itu sendiri.
Rindu lari di tengah dunia yang beku. Toni berdiri kaku di tempatnya, tangannya masih terulur di posisi abis dorong ayunan. Damba melayang diam di udara, badannya miring, wajahnya kaget setengah jalan, beberapa senti dari pagar besi.
Rindu nangkep badan adiknya, narik dia menjauh dari pagar, dan—karena nggak ada waktu buat mikir lebih jauh dari itu—dia gendong Damba, lari ke teras, dudukin dia di kursi rotan yang biasa dia tempatin buat baca buku catatan.
Begitu dia lepas, waktu jalan lagi.
*