Damba duduk bersimpuh di hadapanku.
"Rumemo," panggilnya, pelan, suaranya masih serak abis nangis diam-diam di bawah selimut selama sejam. "Kamu denger aku, kan?"
Aku sengaja geterin dinding, ngasih tanda ke Damba.
"Aku mau minta sesuatu." Dia narik napas, kayak abis latihan ngomong ini berkali-kali di kepalanya sendiri. "Aku mau lupain Kak Rindu."
Aku diam. Baru pertama kali ada penghuni yang minta dihapuskan ingatannya, tanpa aku tawarin.
"Kenapa?" tanyaku, meski aku udah tau jawabannya. Aku cuma pengen denger dia yang ngomong sendiri, biar dia sendiri denger seberapa berat kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Karena aku udah sebel sama kakakku." Suaranya beneran kesal. "Aku sebel punya kakak yang selalu mutusin aku boleh inget apa, boleh lupa apa, boleh pake kekuatan atau enggak. Aku cuma... aku pengen kayak Toni. Toni nggak punya kakak yang harus ngatur-ngatur dia terus. Toni main aja, nggak mikirin apa-apa."
"Kalau kamu lupa dia," kataku, pelan-pelan, "kamu juga lupa semua yang baik.”
Sekarang Damba yang diam. Aku bisa denger dia mikir, tapi tekadnya udah kelewat jauh buat mundur cuma gara-gara satu dua kenangan baik.
"Aku tau," katanya, akhirnya. "Tapi aku nggak suka diatur-atur. Aku nggak bisa diatur-atur kayak gitu, Rumemo."
*
"Aku nggak bisa hisap ingatan soal kakak kamu, Damba," jawabku. "Nggak semudah itu."
"Kenapa? Kamu bisa ngilangin wajah Ibu dari kami. Kamu bisa ngambil resep sup kacang merah."
"Itu beda. Itu kenangan yang dititipin ke aku sedikit-sedikit, tiap tidur.”