Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #32

Pertaruhan Besar

Damba duduk bersimpuh di hadapanku.

"Rumemo," panggilnya, pelan, suaranya masih serak abis nangis diam-diam di bawah selimut selama sejam. "Kamu denger aku, kan?"

Aku sengaja geterin dinding, ngasih tanda ke Damba.

"Aku mau minta sesuatu." Dia narik napas, kayak abis latihan ngomong ini berkali-kali di kepalanya sendiri.

"Aku mau lupain Kak Rindu." Dia menelan ludah. "Aku bisa, kok."

Aku tutup mulutku buat enggak ngomong apa-apa dulu.

Kamu tau, aku ini rumah yang udah berdiri seratus tujuh puluh lima tahun. Aku pernah dengerin ribuan permintaan. Ada yang minta duit balik, ada yang minta enak badan, ada satu bapak-bapak dari keluarga ketiga yang minta bisa nyanyi dangdut lebih merdu biar menang lomba tujuh belasan. Tapi permintaan buat lupain orang yang paling disayang, tanpa aku tawarin duluan, tanpa aku rayu, tanpa aku pasang harga di depan? Itu baru pertama kali.

Ada sesuatu yang aneh nyangkut di aku malam itu. Sesuatu yang enggak pernah aku rasain waktu penghuni lain minta dihapuskan ingatan soal siapa pun.

Aku pernah betulin ban sepedanya diam-diam. Aku pernah dengerin dia ngomong sendiri ke tembok, tentang seneng tinggal di sini, dan aku simpen itu buat diriku sendiri kayak sesuatu yang berharga, walau enggak bisa aku tuker jadi apa pun. Aku enggak pernah ngelakuin itu buat penghuni lain, sesering ini.

Dan sekarang, anak yang sama, minta aku ngapus orang yang paling dia sayang. Bukan aku yang dia minta dihapus. Rindu.

Aku enggak ngerti kenapa itu kerasa kayak ditolak. Aku bukan siapa-siapanya Damba. Aku cuma rumah yang kebetulan ngasih dia kamar. Tapi malam itu, aku ngerasa kayak orang yang udah diam-diam ngerawat sesuatu bertahun-tahun, terus sewaktu akhirnya ada yang minta ditinggal, yang diminta ditinggal bukan aku. Dan entah kenapa itu lebih sakit daripada kalau aku yang diminta pergi duluan.

"Kenapa?" tanyaku, meski aku udah tau jawabannya. Aku cuma pengen denger dia yang ngomong sendiri, biar dia sendiri denger seberapa berat kalimat itu keluar dari mulutnya.

"Karena aku takut." Damba mengerutkan hidung, tapi suaranya enggak sekuat tadi. "Kak Rindu selalu bilang ke aku, jangan ini, jangan itu. Jangan pakai kekuatan. Jangan bikin barang jatuh. Jangan pergi sendiri." Dia berhenti sebentar, kayak nyari kata yang lebih tepat. "Tiap kali Kakak bilang gitu, aku takut. Kayak aku enggak boleh salah sama sekali."

"Takut Kakak marah?"

"Enggak—" Damba buru-buru geleng. "Bukan takut Kakak marah. Takut..." Dia diem, jarinya maen-maenin ujung baju tidurnya sendiri. "Kalau aku salah dikit, Kakak keliatan capek. Kayak abis lari jauh. Terus aku jadi ikutan capek liatnya."

Dia natap tangannya sendiri.

"Toni enggak pernah keliatan capek liat aku," lanjutnya, lebih pelan. "Kalau Toni mau main, ya main. Kalau Toni mau lari, ya lari. Enggak ada yang capek."

"Kalau kamu lupa sama Kakak," kataku, pelan-pelan, "kamu juga lupa semua yang baik. Kamu lupa dia yang nyisirin rambut kamu. Kamu lupa dia yang meluk kamu waktu kamu nangis."

Sekarang Damba yang membeku di tempat. Aku bisa denger dia mikir. Matanya kebuka-tutup kayak lagi ngebayangin sesuatu.

Lihat selengkapnya