Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #36

Gede Taruhannya, Emang Siap?

Damba duduk bersimpuh di hadapanku.

"Rumemo," panggilnya, pelan, suaranya masih serak abis nangis diam-diam di bawah selimut selama sejam. "Kamu denger aku, kan?"

Aku sengaja geterin dinding, ngasih tanda ke Damba.

"Aku mau minta sesuatu." Dia narik napas, kayak abis latihan ngomong ini berkali-kali di kepalanya sendiri. "Aku mau lupain Kak Rindu."

Aku tutup mulutku buat nggak ngomong apa-apa. Baru pertama kali ada penghuni yang minta dihapuskan ingatannya, tanpa aku tawarin.

Ada sesuatu yang aneh nyangkut di aku malam itu. Sesuatu yang enggak pernah aku rasain waktu penghuni lain minta dihapuskan ingatan soal siapa pun.

Aku pernah betulin ban sepedanya diam-diam. Aku pernah dengerin dia ngomong sendiri ke tembok, tentang seneng tinggal di sini, dan aku simpen itu buat diriku sendiri kayak sesuatu yang berharga, walau enggak bisa aku tuker jadi apa pun. Aku enggak pernah ngelakuin itu buat penghuni lain, sesering ini.

Dan sekarang, anak yang sama, minta aku ngapus orang yang paling dia sayang. Bukan aku yang dia minta dihapus. Rindu.

Aku enggak ngerti kenapa itu kerasa kayak ditolak. Aku bukan siapa-siapanya Damba. Aku cuma rumah yang kebetulan ngasih dia kamar. Tapi malam itu, aku ngerasa kayak orang yang udah diam-diam ngerawat sesuatu bertahun-tahun, terus sewaktu akhirnya ada yang minta ditinggal, yang diminta ditinggal bukan aku. Dan entah kenapa itu lebih sakit daripada kalau aku yang diminta pergi duluan.

"Kenapa?" tanyaku, meski aku udah tau jawabannya. Aku cuma pengen denger dia yang ngomong sendiri, biar dia sendiri denger seberapa berat kalimat itu keluar dari mulutnya.

"Karena aku udah sebel sama kakakku." Suaranya beneran kesal. "Aku sebel punya kakak yang selalu mutusin aku boleh inget apa, boleh lupa apa, boleh pake kekuatan atau enggak. Aku cuma... aku pengen kayak Toni. Toni nggak punya kakak yang harus ngatur-ngatur dia terus. Toni main aja, nggak mikirin apa-apa."

"Kalau kamu lupa dia," kataku, pelan-pelan, "kamu juga lupa semua yang baik.”

Sekarang Damba yang diam. Aku bisa denger dia mikir, tapi tekadnya udah kelewat jauh buat mundur cuma gara-gara satu dua kenangan baik.

"Aku tau," katanya, akhirnya. "Tapi aku nggak suka diatur-atur. Aku nggak bisa diatur-atur kayak gitu, Rumemo."

*

"Aku nggak bisa hisap ingatan soal kakak kamu, Damba," jawabku. "Enggak semudah itu."

Lihat selengkapnya