Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #33

Jangan Sentuh Manusia Kecilku!

Rindu nyadar ada yang salah pagi itu, waktu Damba turun sarapan dan natap dia kayak natap orang asing yang kebetulan duduk semeja.

"Damba, kamu—"

"Pagi," jawab Damba, datar, ngambil roti sendiri. Enggak natap Rindu lebih dari sedetik.

Dia enggak ngambek kayak biasanya kalau abis berantem. Ini lebih dingin dari itu, kayak Damba lagi natap seseorang yang dia tau namanya, tau dia kakaknya, tapi rasa yang harusnya nempel di nama itu udah enggak sepenuhnya ada.

Rindu ngerasain sesuatu yang dingin nyusup ke dadanya, kayak kamar esnya sendiri ngehimpit dia.

"Damba, kamu inget kejadian semalam? Kita berantem soal buku catatan aku—"

"Buku apa?" Damba ngunyah rotinya, santai, kelewat santai. "Kakak, aku enggak ngerti Kakak ngomong apa."

*

Rindu lari ke kamar Damba begitu adiknya berangkat sekolah bareng Bagja. Dia geledah laci, kolong kasur, sampai akhirnya nemuin: kotak sepatu tempat Damba biasa nyimpen surat-surat kecil buat Ibu.

Di dalamnya, surat-surat lama masih ada, ditulis tangan Damba, ditujukan ke Kenanga. Tapi begitu Rindu buka satu-satu, dia nemuin sesuatu yang bikin jantungnya berhenti sesaat.

Beberapa surat, yang paling lama, nyebut nama Rindu di dalamnya, "Kak Rindu yang masakin aku", "tadi aku berantem sama Kak Rindu soal PR", tapi tintanya udah mulai pudar di bagian nama itu doang, kayak dihapus pelan-pelan dari dalam kertas, sementara sisa kalimatnya masih jelas.

"Enggak," bisik Rindu, tangannya gemetar. "Enggak, enggak, enggak—"

Dia lari ke ruang tengah, natap ke dinding, ke arah suaraku, matanya udah basah.

"Rumemo! Apa yang kamu lakuin ke Damba?!"

"Aku enggak lakuin apa-apa," jawabku, jujur, tapi aku enggak berhenti di situ, karena aku ngerasa dia butuh konteks, butuh urutan kejadian yang lengkap biar enggak salah paham. "Damba yang minta. Dia dateng sendiri, malem-malem, ke kamar ayunan, dan aku sebenernya sempet mikir dua kali sebelum nerima permintaan itu, soalnya biasanya butuh waktu buat—"

"BOHONG!" Rindu motong, keras, enggak nunggu aku nyelesain.

"Bukan bohong. Aku cuma lagi jelasin proses—"

"Aku enggak nanya PROSES, Rumemo!" Rindu maju satu langkah ke arah dinding, tangannya masih megang surat-surat itu, ngeremes. "Aku nanya KENAPA!"

Aku diam sebentar. Kalimat yang udah antre di ujung lidahku aku telen lagi. "Karena dia enggak suka diatur-atur," kataku, lebih pendek dari yang mau aku katakan. "Bukan kataku. Kata dia."

Rindu jatuh berlutut. Tangannya masih megang surat-surat itu.

"Kenapa... kenapa dia mau lupain aku?"

"Karena—" Aku berhenti sendiri, sadar aku hampir mulai lagi dengan penjelasan panjang soal pola yang sama yang pernah aku liat di keluarga lain. Rindu enggak butuh itu sekarang. "Dia capek, Rindu.”

"Berapa lama lagi?" tanyanya dengan suaranya parau. Nggak sadar, dia udah megang erat-erat jam di pergelangan tangannya. "Berapa lama sebelum dia bener-bener lupa aku sepenuhnya?"

Aku enggak mau jawab. Tapi Rindu udah berdiri. Matanya enggak lagi punya waktu buat nangis lebih lama.

"Prosesnya udah jalan tiga hari," terangku sambil merhatiin lantai yang udah nggak kena cahaya matahari. "Butuh tujuh hari. Hari ini hari keempat."

"Tiga hari lagi," bisik Rindu.

"Tiga hari lagi."

*

Tiga hari itu jadi hari-hari paling aneh yang pernah aku saksiin di rumahku sendiri.

Rindu nyoba segala cara. Dia duduk di samping Damba pas makan, cerita ulang kenangan-kenangan kecil, berharap ada yang nyantol. Damba dengerin, sopan, kayak dengerin cerita orang asing di angkot, terus lupa lagi sebelum sempat masuk ke kepala.

Yang paling nyeri buat Rindu bukan itu.

Yang paling nyeri adalah, tiap kali dia coba pegang tangan Damba, atau coba peluk dia kayak biasa, ada sesuatu yang berubah di reaksi tubuh Damba sendiri.

Hari kelima, Rindu nyoba pegang tangannya waktu nyebrang jalan.

Damba ngerasa ada dorongan panik yang enggak bisa dia jelasin sendiri, seolah ada suara di kepalanya bilang orang ini berbahaya. Orang ini mau ngontrol kamu, dan tangannya ngehindar.

Rindu kepental. Bukan jauh. Cuma beberapa langkah ke belakang, kayak didorong angin kencang yang enggak keliatan, tapi cukup buat dia jatuh terduduk di trotoar.

Damba berdiri kaget. Natap tangannya sendiri, natap Rindu yang jatuh, dengan wajah yang campur bingung dan takut.

Lihat selengkapnya