Rindu nyadar ada yang salah pagi itu, waktu Damba turun sarapan dan natap dia kayak natap orang asing yang kebetulan duduk semeja.
"Damba, kamu—"
"Pagi," jawab Damba, datar, ngambil roti sendiri. Nggak natap Rindu lebih dari sedetik.
Dia nggak ngambek kayak biasanya kalau abis berantem. Ini lebih dingin dari itu, kayak Damba lagi natap seseorang yang dia tau namanya, tau dia kakaknya, tapi rasa yang harusnya nempel di nama itu udah nggak sepenuhnya ada.
Rindu ngerasain sesuatu yang dingin nyusup ke dadanya, kayak kamar esnya sendiri ngehimpit dia.
"Damba, kamu inget kejadian semalam? Kita berantem soal buku catatan aku—"
"Buku apa?" Damba ngunyah rotinya, santai, kelewat santai. "Kakak, aku nggak ngerti Kakak ngomong apa."
*
Rindu lari ke kamar Damba begitu adiknya berangkat sekolah bareng Bagja. Dia geledah laci, kolong kasur, sampai akhirnya nemuin: kotak sepatu tempat Damba biasa nyimpen surat-surat kecil buat Ibu.
Di dalamnya, surat-surat lama masih ada, ditulis tangan Damba, ditujukan ke Kenanga. Tapi begitu Rindu buka satu-satu, dia nemuin sesuatu yang bikin jantungnya berhenti sesaat.
Beberapa surat, yang paling lama, nyebut nama Rindu di dalamnya—"Kak Rindu yang masakin aku", "tadi aku berantem sama Kak Rindu soal PR"—tapi tintanya udah mulai pudar di bagian nama itu doang, kayak dihapus pelan-pelan dari dalam kertas, sementara sisa kalimatnya masih jelas.
"Nggak," bisik Rindu, tangannya gemetar. "Nggak, nggak, nggak—"
Dia lari ke ruang tengah, natap ke dinding, ke arah suaraku, matanya udah basah.
"Rumemo! Apa yang kamu lakuin ke Damba?!"
Aku diam sebentar, karena aku tau, apa pun yang aku bilang, bakal jadi pukulan buat dia.
"Aku nggak lakuin apa-apa," jawabku, jujur. "Damba yang minta."
"BOHONG!"
"Dia dateng sendiri, tiga malam berturut-turut, ke kamar ayunan. Dia yang ngucapin kalimatnya sendiri, Rindu. Aku cuma nerima apa yang diserahin dengan sadar."
Rindu jatuh berlutut. Tangannya masih megang surat-surat itu.
"Kenapa... kenapa dia mau lupain aku?"
"Karena dia nggak suka diatur-atur," kataku, dan aku nggak nutupin ini, karena Rindu berhak tau. "Bukan kataku. Kata dia.”
Rindu diam, isakannya keluar tanpa suara.
"Berapa lama lagi?" tanyanya, akhirnya, suaranya parau. "Berapa lama sebelum dia bener-bener lupa aku sepenuhnya?"
Aku nggak mau jawab. Tapi Rindu udah berdiri, matanya udah beda, matanya udah jadi mata orang yang nggak lagi punya waktu buat nangis lebih lama.
"Prosesnya udah jalan tiga hari," kataku, akhirnya. "Biasanya butuh tujuh hari sebelum penyerahan itu selesai total. Hari ini hari keempat."
"Tiga hari lagi," bisik Rindu.
"Tiga hari lagi."
*
Tiga hari itu jadi hari-hari paling aneh yang pernah aku saksiin di rumahku sendiri.
Rindu nyoba segala cara. Dia duduk di samping Damba pas makan, cerita ulang kenangan-kenangan kecil, berharap ada yang nyantol. Damba dengerin, sopan, kayak dengerin cerita orang asing di angkot, terus lupa lagi sebelum sempat masuk ke kepala.
Yang paling nyeri buat Rindu bukan itu.