Bagja turun hati-hati, kayak orang yang takut suara langkahnya sendiri bakal ngebangunin keputusan yang udah dia bulatkan.
Di tangannya, ada kertas kecil, robekan terakhir dari blueprint rumah impian yang dulu dia sobek sendiri. Dia simpan itu di saku, entah kenapa, kayak mau nyerahin sesuatu yang masih tersisa dari mimpinya sebelum dia nyerahin dirinya sendiri.
"Rumemo," panggilnya, pelan, ke kegelapan di antara rak-rak.
"Aku di sini," jawabku.
"Hapus saya," katanya, akhirnya. "Dari ingatan mereka. Semuanya. Saya mau mereka lupa mereka pernah punya ayah kayak saya."
"Kenapa?" tanyaku. Bukan buat merayu. Aku beneran nggak ngerti.
"Karena setiap kali mereka liat saya, mereka inget rumah yang disita. Mereka inget Kenanga yang nggak sempet saya jaga. Rindu jadi tua sebelum waktunya karena harus jagain saya juga."
Dia berlutut di depan rak-rak yang gelap itu.
"Ambil saya," katanya, lebih pelan. "Sebagai gantinya."
*
"Ayah?"
Damba berdiri di ujung tangga spiral, matanya merah bekas nangis semalaman.
"Aku juga mau minta sesuatu," katanya, suaranya kecil tapi keras kepala. "Aku pengen ngapus ingatan soal Kak Rindu. Aku capek diomelin terus, diatur-atur terus."
Bagja berdiri kaku, nggak tau harus bilang apa. Permintaan anaknya sendiri, tanpa dia duga, jadi cermin dari permintaannya.
*
"Ayah? Damba?" Rindu berdiri di ujung tangga, napasnya berat. "Kalian... ngapain di sini?"
Nggak ada yang jawab.
"Aku turun buat minta semuanya balik," kata Rindu, ke arahku. "Semua yang masih ketinggalan. Aku mau keluarga aku utuh."
Aku belum sempat jawab apa-apa, waktu aku ngerasain sesuatu berubah di udara ruangan itu. Bukan dariku.
Bagja, yang masih berlutut, mulai naik.