Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #36

Cermin Itu yang Menarik Bagja Kembali ke Tubuhnya

Hingga malam itu, getar di suara Rindu, yang sempat keluar tanpa dia minta, enggak sepenuhnya ilang. Bukan kayak uban yang keliatan mata. Ini nyangkut di tempat yang cuma dia sendiri yang bisa rasain: tiap kali dia mau negur Damba, mau bilang "jangan", mau naikin nada sedikit aja, ada jeda kecil sebelum kalimat itu keluar. Jeda yang enggak pernah ada sebelumnya.

Dia takut. Bukan takut Damba enggak nurut. Takut kalau yang keluar dari mulutnya bukan cuma teguran, tapi sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang bisa bikin orang nunduk tanpa mereka pengen.

Jadi dia belajar ngomong lebih pelan. Bukan karena dia lemah. Karena dia enggak pernah lagi percaya penuh sama suaranya sendiri.

Di malam yang sama, Bagja turun ke ruang bawah tanah hati-hati, kayak orang yang takut suara langkahnya sendiri bakal ngebangunin keputusan yang udah dia bulatkan. Di tangannya, ada kertas kecil, robekan terakhir dari blueprint rumah impian yang dulu dia sobek sendiri. Dia simpan itu di saku, entah kenapa, kayak mau nyerahin sesuatu yang masih tersisa dari mimpinya sebelum dia nyerahin dirinya sendiri. Beberapa kali tangannya masuk ke saku, memastikan kertas itu masih ada, lalu keluar lagi. Kebiasaan lama. Memastikan sesuatu masih bisa diperbaiki sebelum benar-benar hilang.

"Rumemo," panggilnya, pelan, ke kegelapan di antara rak-rak.

"Kamu panggil aku?" tanyaku gugup. "Oh, ya, aku di sini," jawabku lagi. "Kamu nggak usah sungkan-sungkan kalau ada perlu, karena aku bisa bantu. Aku bisa bantu apa pun, tapi—”

"Hapus saya," katanya yakin. "Dari ingatan mereka. Semuanya. Saya mau mereka lupa mereka pernah punya ayah kayak saya."

"Kenapa?" tanyaku. Bukan buat merayu. Aku beneran nggak ngerti. “Padahal, aku iri sama kamu. Kamu punya anak yang lucu-lucu. Rindu, favoritku. Tapi dia keras kepala. Menurut kamu dia mirip siapa?” tanyaku lagi. “Eh, maaf, aku lancang. Kenapa memangnya? Kenapa kamu pengen dilupakan?”

Bagja terkekeh. "Karena setiap kali mereka liat saya, mereka inget rumah yang disita. Mereka inget Kenanga yang nggak sempet saya jaga. Rindu jadi tua sebelum waktunya karena harus jagain saya juga."

Dia terduduk di depan rak-rak yang gelap itu. Tangannya meremas robekan blueprint di saku sampai kertasnya kusut.

"Ambil saya," katanya, lebih pelan. "Sebagai gantinya."

*

"Ayah?"

Damba berdiri di ujung tangga spiral, matanya merah bekas nangis semalaman.

"Ayah lagi minta apa? Aku juga mau minta sesuatu," katanya, suaranya kecil tapi kukuh. "Aku pengen ngapus ingatan soal Kak Rindu. Aku capek diomelin terus. Apa Ayah juga mau minta ngapus ingatan soal Kak Rindu?”

Bagja berdiri kaku, nggak tau harus bilang apa. Permintaan anaknya sendiri, tanpa dia duga, jadi cermin dari permintaannya.

"Aku bisa," kata Damba tiba-tiba, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. "Aku bisa nggak punya Kak Rindu. Kalau Ayah, bisa nggak?”

Bagja menatapnya.

Damba mengangkat dagu sedikit, kayak anak yang lagi berusaha meyakinkan orang dewasa bahwa dia sudah cukup besar buat mengambil keputusan sendiri. "Aku bisa sendiri. Aku bisa nggak punya Kak Rindu."

*

"Ayah? Damba?" Rindu berdiri di ujung tangga, napasnya berat. "Kalian... ngapain di sini?"

Nggak ada yang jawab.

“Aku sama Ayah lagi minta buat lupain Kakak,” timpal Damba sambil bersungut-sungut dan melipat kedua lengannya.

Rindu ketawa.

"Aku turun buat minta semuanya balik," kata Rindu. "Semua yang masih ketinggalan. Aku mau keluarga aku utuh." Dia berhenti sebentar, terus nambahin, pelan tapi kedengeran jelas saat dia lihat wajah ayahnya, "Ayah enggak usah gambar rumah lagi, Yah. Aku yang bakal bawa kita pulang kali ini."

"Rindu, enggak—" Bagja maju satu langkah. "Ayah masih bisa—" Dia berhenti. Tangannya kebuka, kayak mau nunjukin sesuatu yang bisa dia lakuin, tapi enggak ada.

"Ayah masih bisa apa, Yah?" Rindu nggak nunggu jawaban.

Bagja nutup mulutnya lagi. Dia nggak punya jawaban.

Tangan Rindu otomatis nyari jam di pergelangan tangan. Dia neken kacanya sekali, lalu ngelihat angkanya. Ngelihat ayahnya. "Ayah nggak tahu rasanya jadi aku, harus inget semua yang orang lain boleh lupa… Ayah nggak tahu rasanya nyisir rambut Damba tiap malem padahal dia bilang dia udah gede tapi kalau bukan aku, siapa lagi… Ayah nggak tahu rasanya megangin jam ini tiap hari biar telat sepuluh menit padahal enggak ada gunanya…”

Bagja ingin meluk puterinya, tapi tangannya segera ditepis.

“Ayah nggak tahu rasanya liat Ayah senyum ke hal yang enggak lucu dan aku diem aja karena aku takut kalau aku bilang itu enggak lucu, Ayah bakal inget kenapa dulu itu lucu, dan aku enggak siap liat Ayah nangis lagi. Ayah nggak tahu rasanya jadi satu-satunya yang inget Ibu masak apa, ketawa gimana, marah soal apa, kayak aku ini brankas, bukan anak Ayah. Dan sekarang aku yang salah? Aku yang salah karena enggak mau tinggal di rumah ini lagi. Udah berapa lama kita di sini? Udah berapa lama Ayah nggak inget apa-apa? Ayah nggak tahu, kan? Ayah enggak tahu itu. Ayah enggak tahu apa-apa—"

Rindu nangis. Dia nyembunyiin wajahnya di kedua telapak tangan. Dia belum selesai. Bukan itu yang ingin dia bilang.

Aku belum sempat ngomong apa-apa, waktu aku ngerasain sesuatu berubah di udara ruangan itu. Bukan dariku.

Bagja, yang masih berlutut, mulai naik.

Bukan setengah senti kayak dulu di toko bangunan. Kali ini penuh. Lututnya lepas dari lantai, badannya ngambang, pelan tapi nggak berhenti, naik ke arah langit-langit ruang bawah tanah yang tinggi itu.

"AYAH!" Rindu lompat ke arahnya, tapi Bagja udah setengah meter dari jangkauan. “Ayah jangan gitu sama aku!”

Lihat selengkapnya