Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #44

Rumah Baru dan Luka yang Nempel di Tubuhku

Beberapa minggu di rumah sementara itu, Rindu kebangun denger suara pelan dari ruang tengah. Bagja duduk sendirian, natap tangannya di bawah cahaya lampu, muter-muter pergelangannya kayak mastiin masih ada dagingnya, masih ada beratnya. Dia enggak nyadar Rindu ngeliatin dari pintu.

"Yah?"

Bagja kaget, buru-buru nurunin tangannya. “Kita masak apa lagi hari ini?” tanyanya dengan senyum yang terkembang di bibirnya.

Rindu duduk di sebelahnya, enggak bilang apa-apa. Cuma megang tangan itu—yang sekarang beneran ada, beneran berat, beneran punya urat dan kulit.

“Sup kacang merah?” tanya Rindu. Matanya menyipit.

Bagja menggeleng, lalu berdiri. “Jangan itu. Susah. Nanti kalian sakit perut. Ayah belum ketemu resepnya.” Buru-buru dia menyibukkan diri sendiri di dapur. “Kalau kita bikin resep baru gimana?”

“Biar aku yang masak kalau gitu.” Rindu segera masang celemek di tubuhnya, ngambil wajan yang digantung buat ditaruh di kompor. “Aku lebih jago dari Ayah.”

“Enggak salah. Kamu emang anak Ayah.”

*

Sebelum jangkauan hidupku mengecil, kusempatkan buat memandangi bekas penghuniku di rumah baru itu.

Damba mulai punya kebiasaan baru. Hal kecil yang nggak diceritakan siapa pun ke rumah sementara itu, karena memang nggak ada yang perlu tahu. Tiap malam sebelum tidur, dia ambil kertas origami, duduk di lantai deket kasurnya, dan nulis sesuatu di belakangnya.

Bukan surat yang dikirim. Nggak ada alamatnya. Nggak ada amplopnya juga.

Ibu, hari ini aku menang lomba lari di sekolah.

Ibu, tadi Kak Rindu masak nasi goreng, agak gosong dikit, tapi enak.

Ibu, Ayah lagi belajar masak sup kacang merah lagi. Masih gagal. Tapi dia ketawa terus.

Kadang cuma satu baris. Kadang setengah halaman. Tulisan besar-besar khas anak sepuluh tahun yang belum lancar menulis sambung. Selesai nulis, dia lipat kertasnya. Dia simpan di kotak sepatu bekas di bawah kasur, terus tidur, biasa aja, kayak abis nyikat gigi.

Rindu nemuin kebiasaan itu suatu malam, nggak sengaja, waktu dia masuk kamar buat matiin lampu. Dia nggak nanya. Cuma berdiri sebentar di pintu, liat adiknya udah tidur dengan tangan masih megang pensil, dan kotak sepatu itu udah separo penuh kertas lipat.

Dia nggak buka satu pun. Cuma senyum, matiin lampu, keluar pelan-pelan.

Anak yang dulu nggak yakin dia pernah punya ibu, sekarang nulis surat buatnya tiap malam, tanpa disuruh, tanpa dipaksa siapa pun, termasuk aku.

Lihat selengkapnya