Sebelum jangkauan hidupku mengecil, kusempatkan buat memandangi bekas penghuniku di rumah baru itu.
Damba mulai punya kebiasaan baru. Hal kecil yang nggak diceritakan siapa pun ke rumah sementara itu, karena memang nggak ada yang perlu tahu. Tiap malam sebelum tidur, dia ambil kertas origami, duduk di lantai deket kasurnya, dan nulis sesuatu di belakangnya.
Bukan surat yang dikirim. Nggak ada alamatnya. Nggak ada amplopnya juga.
Ibu, hari ini aku menang lomba lari di sekolah.
Ibu, tadi Kak Rindu masak nasi goreng, agak gosong dikit, tapi enak.
Ibu, Ayah lagi belajar masak sup kacang merah lagi. Masih gagal. Tapi dia ketawa terus.
Kadang cuma satu baris. Kadang setengah halaman. Tulisan besar-besar khas anak sepuluh tahun yang belum lancar menulis sambung. Selesai nulis, dia lipat kertasnya. Dia simpan di kotak sepatu bekas di bawah kasur, terus tidur, biasa aja, kayak abis nyikat gigi.
Rindu nemuin kebiasaan itu suatu malam, nggak sengaja, waktu dia masuk kamar buat matiin lampu. Dia nggak nanya. Cuma berdiri sebentar di pintu, liat adiknya udah tidur dengan tangan masih megang pensil, dan kotak sepatu itu udah separo penuh kertas lipat.
Dia nggak buka satu pun. Cuma senyum, matiin lampu, keluar pelan-pelan.
Anak yang dulu nggak yakin dia pernah punya ibu, sekarang nulis surat buatnya tiap malam, tanpa disuruh, tanpa dipaksa siapa pun, termasuk aku.
*
Suatu sore di rumah sementara itu, Damba ngubek-ngubek isi kardus lama yang belum sempat dibongkar sejak pindah. Rindu lagi lipat baju di kasur, nggak terlalu merhatiin, sampai Damba tiba-tiba diem, megang sesuatu di tangannya lama banget.