Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #37

Darah dari Telinga Damba, Bukan Kecelakaan Pertama

Aku ngeliatin mereka bertiga, kabut spiral yang jadi wujudku nggak bergerak di antara rak-rak.

"Ibu kita namanya Kenanga," sebut Rindu, berharap kata-kata itu bisa ngembaliin bersih ingatan Damba setelah siuman.

Damba tadi terlalu besar ngerahin tenaga buat kekuatannya. Jadi, beberapa potongan ingatan di kepalanya terangkat. Dia terkulai di pangkuan Rindu.

Damba nggak jawab. Tapi matanya kebuka. Sedikit.

Rindu ngomong lagi, pelan, deket banget ke telinga adiknya. Damba enggak nangkep kata-katanya. Dengingan yang enggak pernah bener-bener ilang sejak insiden ayunan itu makin kenceng sekarang, entah karena dia kecapekan, atau karena kekuatannya yang baru aja dia paksa keluar abis-abisan buat nolongin Bagja. Yang dia tangkep cuma getaran suara Rindu, samar, kayak denger orang ngomong dari balik air.

Damba natap kakaknya. Bukan natap kosong kayak biasanya kalau ditanya soal Ibu. Ini natap orang yang lagi coba nyocokin sesuatu, kayak liat foto yang samar-samar mirip seseorang yang pernah dia kenal, tapi belum yakin. Dia natap mulut Rindu, bukan matanya, kayak lagi nyoba baca sesuatu dari situ.

Rindu sadar, sedikit terlambat, dan dia geser posisinya, deketin wajahnya biar Damba bisa liat bibirnya jelas.

"Ibu kita suka masak sup kacang merah," ucapnya, pelan-pelan, tiap kata dibentuk jelas di mulutnya. "Rasanya nggak pernah pas. Asin sebelah, manis sebelah. Itu bukan karena dia nggak bisa masak. Itu caranya. Biar Ayah selalu nyari-nyari kekurangannya."

Damba natap mulut kakaknya lama. Sesuatu di wajahnya berubah, pelan, kayak sesuatu yang lama tenggelam mulai keliatan lagi permukaannya.

"Ibu nyanyi kalau lagi nyuci piring," lanjut Rindu. "Sumbang. Ayah bilang itu suara paling merdu yang pernah dia denger. Ayah bohong soal itu. Tapi bohongnya jujur."

Aku nggak lagi coba masukin apa-apa ke kepala Damba. Aku cuma berdiri di sana, karena aku nggak tahu lagi harus ngapain.

"Ibu meninggal empat tahun lalu," Rindu lanjut, dan kali ini suaranya pecah, tapi dia nggak berhenti. Dia enggak sempet mikirin apa Damba masih bisa baca bibirnya sejelas tadi lewat air mata yang mulai ngaburin pandangannya sendiri. "Dan itu sakit banget, Damba. Sakit banget, sampai kita semua lari ke sini biar nggak usah ngerasainnya lagi."

Rindu nunduk sebentar. Tangannya otomatis mencari jam di pergelangan tangan. Dia ngelihat angkanya, ngitung beberapa detik tanpa suara, lalu genggam pergelangan itu sendiri.

Bagja jongkok. Rambutnya berantakan. Kaosnya kedodoran di tubuhnya yang sekarang udah tipis. Satu tangannya nyentuh toples-toples yang langsung berjatuhan. Sewaktu dia mau naruh toples lagi, toples itu kerasa berat banget di tangannya.

Dia coba sekali lagi, lebih hati-hati, menyusun toples yang miring sebelum akhirnya menyerah karena tangannya terlalu lemah.

Dan tepat di detik itu, sesuatu lewat. Bukan dariku. Aku bisa ngerasain itu dengan jelas, karena aku nggak lagi ngirim apa-apa ke ruangan itu, seluruh perhatianku ada di Damba.

Bau sabun cuci piring. Samar, cuma sepersekian detik, campur minyak kayu putih.

Bagja berhenti di tengah langkahnya. Satu tangannya naik, nyentuh daun telinganya sendiri, kayak orang yang lagi nyoba nangkep suara yang keburu lewat sebelum sempat dia dengar penuh.

Satu baris nada. Sumbang. Lewat begitu cepat, dan ilang lagi.

Bagja limbung. Bukan jatuh. Cuma goyah sebentar, cukup buat tangannya nyengkeram tiang rak lebih keras.

Aku sendiri kaget. Aku nggak ngirim itu. Remah itu keluar sendiri, dari tempat yang kupikir udah kubersihkan total, tembus di detik yang paling nggak aku duga.

Dan aku baru inget rak yang ambruk semalem, toples yang pecah dengan cara beda dari yang lain, suara klakson yang keluar terus ilang sebelum sempet aku pikirin. Aku enggak sempet nyambungin kejadian-kejadian itu malam ini. Terlalu banyak yang terjadi sekaligus, dan aku, sama kayak Bagja, cuma sempet ngerasa ada sesuatu lewat.

"Ayah?" Rindu nengok.

Bagja nggak langsung jawab. Matanya kepejam, kayak orang yang baru aja hampir kehilangan keseimbangan tapi berhasil nahan diri di detik terakhir. Ketika dia buka mata lagi, dia natap Rindu, bukan Damba, bukan aku, cuma Rindu.

Lihat selengkapnya