Rumemo: Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #39

Toples Pecah, Rahasia Masa Lalu Rumah Ini Ikut Terbongkar

Aku matung bentar sewaktu mereka ngoper cermin itu.

"Nggakkk… ng-nggaaak nam-BAH," lirih Damba dengan sedikit usaha lalu natap pantulan Rindu di sebelahnya. Dia mendekat sedikit, lalu nunjuk sudut mata Rindu. "Innniii, mas-ssih s-samma."

Bagja nyentuh pelan sudut mata Rindu. "Masih cantik..." Dia nggak ngelanjutin, tapi Rindu tahu maksudnya. Bagja mengusapnya sekali lagi, seolah kalau disentuh dengan cara yang benar, kerutan itu bisa dibenerin.

Tangannya sendiri naik, nyentuh tempat yang sama. Uban di pelipisnya masih ada, nggak akan hilang. Tapi nggak ada helai baru yang tumbuh menggantikan yang lama.

Dia nggak sembuh. Dia cuma berhenti tua lebih cepat.

Damba natap dirinya sendiri di cermin, nyentuh perban yang masih nempel di kedua telinganya. 

*

Aku nggak bisa nahan mereka kayak dulu. Rumah kayak aku cuma hidup dari penghuni yang bersedia dititipkan lelahnya. Begitu satu keluarga milih bawa balik semua yang tadinya mereka titipkan, aku nggak punya hak nahan.

Bagja meluk Rindu dan Damba erat-erat. Tangannya sempat menepuk-nepuk punggung mereka kayak orang yang lagi nyoba mastiin sesuatu.

"Maafin Ayah," katanya dengan suara pecah. "Harusnya nggak begini…”

Bagja berdiri, tapi sesaat kakinya kayak lupa cara nginjek lantai. Dia liat ke bawah, mastiin sepatu rumahnya beneran nyentuh karpet, dua kali, sebelum berani ngelangkah. Rindu liat itu, tapi enggak bilang apa-apa. Dia cuma pelan-pelan gandeng tangan ayahnya, kayak nuntun orang yang baru belajar jalan lagi.

"Maafin—" Bagja berhenti. Suaranya keluar, tapi kedengeran kayak dari jauh, kayak dia sendiri kaget masih bisa ngomong. Dia coba lagi. "Maafin Ayah." Kali ini lebih mantap, tapi tangannya masih gemeteran waktu dia narik Rindu dan Damba lebih deket.

"Kita pulang aja, Yah. Ke manapun. Asal bertiga."

Bagja ngangguk. "Iya. Kita pulang. Nanti Ayah cari tempat. Kecil juga nggak apa-apa. Kalau cuma ada satu kamar, tinggal kita atur."

Mereka lanjut packing dibantu Pak Yono, yang udah balik lagi dari rumah sakit sambil bawain baju ganti dan mainan yang keinget dia dari kunjungan kemarin. Bagja beberapa kali berhenti buat betulin koper yang resletingnya miring, ngelipet ulang baju yang menurutnya terlalu penuh, atau ngencengin tali kardus yang sebenarnya sudah cukup kuat.

Rindu yang lihat cuma bilang, "Udah, Yah. Udah selesai packingnya.”

"Harusnya rapi," jawab Bagja, masih berkutat dengan kardus. "Biar nggak berantakan di jalan."

Rindu yang beresin kamar Damba. Di laci meja belajar, di bawah tumpukan buku PR, dia nemuin kertas terlipat kecil, kusut di pinggir, kayak sering dibuka-tutup diam-diam.

Gambar rumah kotak, atap segitiga. Dua sosok gandengan tangan, gigi kotak-kotak. Damba dan dirinya sendiri. Satu sosok lagi di sebelah kiri, rambut panjang terurai, gaun sederhana, berdiri agak terpisah. Wajahnya cuma oval polos. Nggak ada mata, nggak ada mulut.

Aku ngeliatin dari dinding kamar, agak syok. Gambar itu udah ada berhari-hari, dan aku baru sadar keberadaannya malam yang sama keluarga ini mutusin pergi.

Damba muncul di pintu, ngeliatin gambar itu. Rindu ngangkat kertas itu, deketin wajahnya biar Damba bisa liat gerak bibirnya. "Kamu yang bikin?"

Damba ngangguk. "Aku BISSSA. Aku bisssaa…. bikin LAGI kalau hiii-LANG."

Rindu nggak perlu nanya siapa itu.

Lihat selengkapnya