HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #3

Membayar Kehidupan Normal (bagian 3)

Di jam istirahat terakhir itu kelas selalu gaduh. Yunan hanya diam menatap jendela. Pikirannya melayang-layang di antara angka yang ia ciptakan sendiri. Ia seperti bisa mengendalikan apa saja termasuk kehidupannya. Memiliki pekerjaan yang rapi, tabungan yang segera mencapai targetnya hingga gaya hidup di masa tuanya. Tapi sedikit ada yang mengganjal. Jika membicarakan kehidupan normal, maka pada bagian pernikahan ia memerlukan seorang pendamping. Tentang perempuan tentu saja Yunan banyak menemukan berbagai macam perempuan dalam pekerjaannya. Meski tak melihat secara langsung ia mengetahui bahwa di zaman ini perempuan punya banyak sekali kebebasan. Ini semua berkat emansipasi perempuan. Perjuangan hak perempuan mulai terdengar suaranya di tahun 80an. Bahkan sekarang melihat anak sekolah perempuan merokok bukanlah hal yang mengejutkan.

Masih menatap jendela, Yunan melihat seorang perempuan yang menurutnya pantas menjadi penyanding hidupnya. Jika memang nantinya boleh memilih siapa istrinya, tentu itu adalah Rike. Satu-satunya perempuan yang berhasil membuatnya terpesona sekaligus saingannya untuk menjadi nomor satu. Rike, mengapa dia suka sekali melakukan olah raga? Padahal dia adalah perempuan. Bagaimana mungkin seorang perempuan bisa memiliki lebih banyak teman laki-laki dari pada golongan dari jenisnya. Itu tidak masuk akal. Tapi melihatnya berkeringat seperti itu, seperti memiliki pesona tersendiri. Ia cantik. Ah sudahlah, mungkin aku terlalu cepat memikirkan soal pernikahan. Bahkan aku tidak pernah memiliki teman. Haruskah aku mencari perempuan seperti Rike di tempatku kuliah nanti?”

“Hei Yunan, Kau dipanggil Guru Konseling!” Kata ketua kelas membuyarkan lamunan.

“Kenapa?”

“Tentang pengembangan diri, memang apalagi?”

“Oh,”

Yunan segera pergi ke ruang konseling.

“Permisi,”

“Masuklah!” Guru Konseling mengambil berkas dari lemarinya. “Hari ini kamu harus mengirim formulir pengembangan diri. Kamu sudah memilihnya bukan?”

“Ah sebenarnya saya masih ingin berharap agar bisa....,”

“Sudah Ibu katakan kalau ini adalah kegiatan wajib. Cepatlah!”

Yunan mengambil formulir dan mulai mengisinya.

“Dengar, jika kamu memilih puisi, ibu jamin itu akan sangat menyenangkan. Kamu tidak mungkin sesibuk itukan untuk sekedar mengikuti kegiatan pengembangan. Lagi pula kegiatan seperti ini akan menambah nilai yang baik di ijasahmu kelak,”

Lihat selengkapnya