HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #4

Celah dan Kesempatan (bagian 1)

“Kenapa kita harus belajar tentang materi seperti ini, aku bahkan tak pernah menggunakannya ketika membuat puisi,” kata Rike dengan kesal.

“Kamu tidak perlu mengatakannya keras-keras,” Guru Konseling mengambil lembar materi. “Ini namanya manual! Mana mungkin kita belajar tanpa adanya rujukan yang pasti. Sudahlah baca saja dan Ibu yakin kalian akan menciptakan puisi yang lebih baik setelelah mempelajari itu,”

“Unsur-unsur puisi... diksi, majas, bunyi, rima, imaji” Rike membaca pelan. Raut mukanya benar-benar tidak senang. “Ayolah Bu. Apa menurut ibu ini benar-benar penting. Bahkan tanpa mempelajari ini, semua orang tahu apa itu puisi hanya dengan melihat karyanya saja. Manual?! Itu terlalu melebih-lebihkan,”

“Dengar Rike, puisi tidak hanya sekedar tata bahasa, tapi...”

“Nilai, norma, psikologis, emosional, pengungkapan, hmm? Apalagi. Ayolah Bu, Puisi itu tentang di atas panggung. Zaman sekarang tidak ada lagi yang tertarik dengan buku puisi. Itu terlalu membosankan. Kita harus merubah kelompok ini menjadi teater!”

Guru Konseling hanya bisa menggerutu kecil tanpa memberi alasan lain untuk mendukung materi yang ia berikan. Sementara itu Yunan hanya membolak-balikkan kertas materi dan membaca semuanya sampai selesai.

“Kenapa kamu sangat tertarik dengan panggung. Semua pertunjukan itu juga berawal dari sini, menulis. Dan untuk bisa menulis kalian harus memahami manualnya. Jika kamu hanya melawan Ibu seperti ini, sebaiknya cepat kamu tunjukkan karyamu agar Ibu lebih yakin dengan kata-katamu barusan,”

Rike hanya diam saja.

“Di Negara ini ada banyak penyair yang hebat. Apa kamu pikir mereka hanya mengeluh seperti kamu. Mereka menulis karya, ah tidak, maha karya yang luar biasa. Kamu tahu, Chairil Anwar!”

“Baiklah-baiklah. Terserah Ibu,”

“Hei Rike, sebaiknya kamu Ibu ajari sopan santun sebelum mempelajari materi ini,” Guru Konseling berganti menatap Yunan. “Yunan, kamu sepertinya juga tertarik dengan puisi. Ibu sudah membaca puisi yang kamu buat untuk ujian praktik. Ibu rasa itu cukup bagus. Ibu ingin dengar bagaimana pendapat kamu dengan ucapan Rike,”

“Saya?” Guru Konseling dan Rike menatap penuh rasa penasaran. “Ah, saya hanya menulis beberapa baris puisi. Saya tidak benar-benar serius saat membuatnya,”

“Benarkah? Tapi itu cukup lumayan menurut Ibu,”

“Benarkan kataku Bu, kita tidak perlu melakukan ini untuk menulis puisi. Yunan saja menulis puisi tanpa belajar materi-materi ini, Iya kan?”

Yunan masih diam saja. Mukanya tampak sangat kebingungan menghadapi pertanyaan yang menghampirinya. Ini adalah hal yang baru untuknya. Yunan hanyalah murid tidak terlihat. Tidak punya teman untuk bertukar cerita dan sengaja membatasi diri dengan dunia luar. Melibatkan banyak ikatan dalam hidup juga beresiko menimbulkan masalah. Ia juga mempertimbangkan pekerjaannya sebagai informan. Tidak boleh ada celah sedikitpun. Ia melakukan pekerjaan yang tidak wajar di sekolah.

“Kenapa kamu hanya diam saja. Setidaknya bicaralah. Ibu membawamu ke sini untuk berdiskusi, bukan hanya mendengarkan kami berdebat. Pasti kamu punya hal yang ingin dibicarakan tentang puisi ini,” kata Guru Konseling sedikit memaksa.

“Kalau manurut saya,” sekali lagi Yunan berhasil menarik perhatian. “Puisi harus bebas. Biarkan puisi itu menjadi dirinya sendiri. Lagi pula siapapun yang menikmati puisi tak diharuskan tahu banyak soal penulisnya,”

Lihat selengkapnya