Yunan benar-benar tidak bisa tidur tenang. Ia tidak memiliki banyak pakaian di lemarinya. Hanya beberapa pakaian usang. Tidak mungkin bertemu dengan seseorang tanpa persiapan. Malamnya disibukkan dengan internet. Ada banyak aturan ternyata jika harus dipelajari. Seperti tips kencan yang ia temukan di internet. Berulang kali membuka panduan untuk berkencan dengan wanita di youtube. Dari yang bisa ia simpulkan adalah penampilannya harus menarik namun tetap sederhana. Paling penting dari semua itu adalah uang. Tentu saja laki-laki harus membayar tentang apa saja yang nanti dibutuhkan.
Yunan memilih pakaian terbaiknya. Ia hanya memiliki satu jaket hoodie bermerk yang ia dapatkan secara tidak sengaja di toko pakaian bekas. Sambil membawa ransel yang biasa ia gunakan untuk ke sekolah, Yunan datang lebih awal memutuskan menunggu di depan perpustakaan kota. Kantong celananya tampak tebal berisi uang yang ia siapkan. Tentu saja ia tidak punya kartu kredit yang padahal wajar untuk kehidupan sekarang. Anak-anak biasanya mendapatkan kartu itu dari orang tua mereka. Itu tidak begitu penting, pada akhirnya yang dibutuhkan adalah uang.
“Hei, kau sudah datang. Ayo masuk!”
Yunan harus membuat kartu perpustakaan. Ia tak pernah datang ke perpustakaan kota, jika membutuhkan buku, ia langsung membelinya secara online. Membaca adalah investasi yang penting. Manusia harus berlomba menambah pengetahuan agar bisa bertahan di masa depan.
“Apakah kita membutuhkan buku tertentu?” Tanya Yunan.
“Yah, beberapa. Kita harus mendapatkannya. Aku bisa menemukannya sendirian, tunggulah,”
“Baiklah,”
Beberapa saat kemudian Rike kembali membawa dua buku.
“Aku sudah mendapatkannya. Kita kerjakan di luar,”
“Di luar? Aku pikir kita datang untuk mengerjakannya di perpustakaan,”
“Tentu saja di perpustakaan. Tapi lebih baik kita mengerjakannya di luar,”
“Kenapa harus di luar?”
“Hei, di sini kita tidak boleh merokok tahu,” kata Rike sambil berjalan meninggalkan Yunan yang masih canggung.
Keduanya segera mengerjakan resume untuk kegiatan pengembangan puisi. Rike menyalakan rokoknya dan mulai menghisapnya pelan-pelan. Diskusi segera dilakukan. Mengerjakan ini itu tentang puisi. Semuanya tidaklah sulit, hanya mengikuti panduan manual soal puisi.
“Lihatlah, ini terlalu mudah. Seharusnya guru itu menunjukkan puisinya sendiri. Aku ragu dia bisa menulis puisi,” kata Rike sambil menghisap rokok yang kesekian.
“Bu Retno?”
“Ya, dia selalu ngomel soal puisi seperti ketika mengomeliku soal sopan santun. Mungkin semua Guru Konseling memang seperti itu,”
Yunan terdiam dan memperhatikan bungkus rokok milik Rike.
“Benarkah kau tidak merokok?” Sergah Rike membuat Yunan sedikit kaget.
“Ah, tidak terlalu sering,”