HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #6

Celah dan Kesempatan (bagian 3)

Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan kota menuju kafe yang dipilih Rike. Dalam perjalanan berulang kali Yunn mengecek ponsel kerjanya. Masih baik-baik saja. Mereka sampai di sebuah kafe dan memesan minuman. Mungkin alasan Yunan menemani Rike hanya ingin membuat rencananya membawa uang tidak terlalu sia-sia. Dengan cepat Yunan menghentikan Rike yang hendak membayar kopinya. Ya, laki-laki harus bayar. Setidaknya hanya itu sisi maskulinitas yang bisa ia perjuangkan.

“Apa kau sering datang ke tempat ini?” Tanya Yunan.

“Tidak juga, hanya ketika ada teman yang bisa diajak bicara,”

“Bukankah teman-temanmu sangat banyak,”

“Sangat?” Rike tertawa sambil menyalakan rokoknya. “Apa maksudmu banyak. Kau sangat lucu. Ambillah jika kau mau,” Rike menyodorkan bungkus rokok pada Yunan.

Yunan meraih rokok itu dan menyalakannya satu. Sebenarnya Yunan belum pernah merokok. Begitu saja dilakukannya menahan gengsi. Jadilah ia harus menahan malu saat Rike menertawakannya karena tersedak oleh asap yang dihisapnya.

“Ada apa denganmu, apa kamu memang tidak merokok? Berhentilah jika memang tidak melakukannya,”

Suasana kafe itu cukup ramai. Rike tanpa malu-malu berbicara lantang. Beberapa orang bahkan menyapanya seperti akrab. Ini adalah lingkungan yang asing bagi Yunan. Sesaat kemudian tempak mobil polisi melakukan parkir di depan kafe.

“Wah, mereka sangat bersemangat belakangan ini,” kata Rike ketika salah satu polisi memasuki kafe dan berbicara pada pelayan kafe.

“Siapa?”

Rike menunjuk ke arah polisi sambil tetap menghimpit sebatang rokok di sela jarinya.

“Untuk apa polisi datang ke sebuah kafe?” Tanya Yunan.

“Kurasa belakangan semakin banyak masalah anak di bawah umur yang melakukan pesta minuman keras. Pasti ada orang tolol yang ikut campur urusan orang lain dan melaporkan mereka,”

“Apa sebaiknya kau bisa mematikan dulu rokok itu. Sepertinya akan jadi masalah jika polisi itu tahu kita adalah anak di bawah umur,”

Lihat selengkapnya