Rike sendirian menunggu Yunan yang tak segera kembali dari toilet. Tapi ia tidak begitu peduli, seseorang menyapanya dan bergabung di meja.
“Sendirian Ke?” Tanya salah seorang teman Rike.
“Eh Boy, nggak kok. Sama temen. Dari mana?”
“Ngurusin kerjaan. Mana?”
“Siapa?”
“Katanya sama temen?”
“Nggak tahu, ke toilet mungkin. Eh gimana, kau sudah temukan pekerjaan untukku?”
“Sudahlah Rike, untuk apa kau sibuk-sibuk cari kerjaan. Turutilah apa kata orang tuamu. Bukankah itu lebih mudah,”
“Sialan kau! Ayolah, kau pikir menyenangkan hidup seperti itu. Mereka hanya bicara soal masa depan,”
“Hei dengarlah," Boy menyondongkan tubuhnya ke arah Rike. "Aku sudah lama bekerja di perusahaan orang tuamu. Mereka punya segalanya. Itu adalah bisnis yang aman sampai hari ini. Jika yang kau masalahkan hanya rokok, aku bisa mendapatkannya untukmu. Tentu saja lebih baik dari milikmu itu,” Boy tertawa menatap rokok yang dihisap oleh Rike.
“Hei, kau mengejekku. Apa kau lupa aku siapa?”
“Maaf atas kelancangan saya nyonya,” Boy semakin meledak tawanya. “Kudengar dari rekan kerjaku setelah lulus SMA kau akan mengambil alih bisnis orang tuamu. Apa itu artinya kau akan menjadi bosku selanjutnya? Wah, jika memang seperti itu mungkin aku adalah orang yang beruntung di dunia ini. Bagaimana mengatakannya, oh, mungkin seperti asisten rahasia yang mengurusi urusan liarmu. Bukan begitu nyonya?”
“Diamlah atau aku akan mempersulit pekerjaanmu, dasar sinting!”
Boy adalah pekerja gudang di salah satu perusahaan swalayan milik orang tua Rike. Terkadang ia juga mengurusi berbagai barang bermerk sebagai produk mereka sendiri. Sejak kecil Rike hampir tidak pernah mengalami kesulitan apapun soal kehidupannya. Semuanya tercukupi. Tapi bagaimanapun keadaannya, ada hal yang lebih diinginkan Rike soal kehidupan. Menurutnya hidup seperti itu jauh dari katageri normal. Ia bahkan tidak memiliki kenangan berarti bersama keluarganya. Yang dia ingat hanyalah aturan yang sangat ketat selama hidup bersama keluarganya. Barulah semenjak SMA hidupnya sedikit mendapatkan kelonggaran. Ada banyak alasan yang bisa ia berikan kepada orang tuanya untuk pulang terlambat. Semua itu akan baik-baik saja selama Rike tak bermasalah dengan nilai sekolahnya.
“Tapi, sebenarnya apa yang begitu membuatmu ingin punya pekerjaan. Kau tidak mungkin kesulitan uangkan. Lihatlah penampilanmu sekarang, semua akan tahu jika kau bukan anak sembarangan. Jika kau ingin berbaur dengan gembel sepertiku, setidaknya pakailah satu pakaian yang tidak mencolok,” kata Boy pelan-pelan.
"Apa maksudmu? Aku bahkan tak berusaha memilih pakaian untuk keluar hari ini,”
“Wah, jadi ini penampilan terburuk menurutmu. Apa kau serius, aku yakin temanmu akan sependapat denganku. Semua barang yang kau kenakan jelas bermerk. Jika aku tidak akrab denganmu mungkin sekarang aku akan terintimidasi duduk berdua seperti ini denganmu,”
“Ah sudahlah! Apa kau benar-benar tak punya suatu pekerjaan untukku? Kau tahu kan, seperti pekerjaan yang sedikit menantang,”