HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #8

Setiap Orang Memiliki Peran (bagian 2)

Rike mendapati Yunan tidak ada di rumah. Sampai di situ Rike semakin tidak habis pikir, jika tidak pulang lantas pergi kemana bocah itu. Wah, apa aku salah alamat. Tapi sepertinya ini adalah alamat yang benar. Apa dia sedang bekerja. Padahal aku sudah berbaik hati mengantar tasnya yang ketinggalan. Jadi sia-sia aku jauh-jauh datang ke tempat ini. Anak itu ternyata sangat menyebalkan. Apa yang harus aku lakukan. Padahal aku ingin melihat rumah seorang anak yang hidup sendirian. Dasar bocah yang teledor. Bagaimana bisa ia meninggalkan ponselnya seperti ini. Apa ini salah satu kebiasaan buruknya... Oh!

Rike menemukan kunci di dalam tas Yunan yang tidak ia sadari sebelumnya. Kemudian mencoba membuka pintu apartemen dengan kunci itu. Ternyata terbuka. Ia jadi tidak ragu lagi mengenai kebenaran rumah milik siapa yang ada di hadapannya itu. dengan tenang Rike memasuki rumah yang belum pernah ia sambangi itu. melihat ke setiap ujung rumah. Berbeda dengan tempat tinggalnya yang luas dan jelas penamaan setiap ruangannya. Apartemen kecil itu membuatnya sedikit bingung membedakan antara kamar, ruang tengah, dapur dan ruang tamu. Apa benar tempat itu nyaman untuk ditinggali.

Ia berjalan lebih dalam. Melewati kamar mandi yang ada di dekat pintu masuk, kemudian di sebelah kanannya lansung tampak dapur yang kecil dan sebuah meja yang juga kecil dengan satu kursi. Ia bingung apakah itu meja makan atau meja belajar. Selanjutnya dalam satu ruangan itu ada kasur yang tentu saja adalah tempat tidur Yunan. Ada satu pintu lagi setelah kamar mandi. Selanjutnya jendela yang langsung mengarah keluar dengan sedikit balkon untuk jemuran.

Tempat itu sangat berantakan. Bahkan Rike terpingkal konyol melihat pakaian dalam Yunan berserakan di dekat tempat tidurnya. Mungkin semua anak laki-laki memang seperti itu. Ia meletakkan tas Yunan di meja dan mulai mengamati sekitar lagi. ia tidak benar-benar tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara ia juga tidak ingin pulang. Dilihatnya sebuah aquarium kaca yang tidak terlalu besar berbentuk bola yang berisikan ikan cupang warna putih. Dari banyak tempat hanya bagian itu yang cukup bersih dan enak dipandang. Ternyata Yunan masih punya waktu mengurus hewan peliharaan dalam keadaannya yang sepertinya sulit pikirnya.

Rike merebahkan diri di kasur milik Yunan. Rasanya sangat berbeda dengan miliknya di rumah. Tapi itu membuatnya tersenyum. Apakah hidupku akan jadi seperti ini jika bisa kabur dari rumah dan menghasilkan uangku sendiri. Kalau dipikir-pikir ini tidak buruk. Bahkan anak itu bisa melakukan semua ini dan tetap mendapat nilai yang baik di sekolah. Pekerjaan apa yang dilakukannya untuk bertahan hidup seperti ini. Uang dari pekerjaan paruh waktu biasa tidak mungkin cukup membayar semua ini. Apakah benar anak ini melakukan semuanya sendiri. Kira-kira apa yang akan aku beli untuk hewan peliharaan. Apa aku juga harus membeli cupang. Sepertinya itu menyenangkan!

Rike melihat ke arah pintu yang belum ia buka. Rasa penasaran mendorong Rike untuk menuruti kemauannya itu. Ternyata itu adalah sebuah ruangan sempit sebesar kamar mandi yang berisikan lemari pakaian. Tapi di mata Rike itu lebih tampak sebagai gudang kecil yang berantakan. Saat hendak menutup ruangan, perhatian Rike tertuju pada pemandangan yang tidak biasa. Dari semua bagian yang berserakan ada satu kotak rapi ditutupi kain. Bagian itu sangat mencolok dan membuatnya ingin mencari tahu apa yang ada di balik kain itu. Saat di buka Rike benar-benar terkejut. Tatapannya menjadi liar seakan aliran darah dalam tubuhnya melaju tiga kali lipat lebih kencang.

Apa-apaan anak ini. Apa dia benar-benar hidup sulit seperti yang terlihat. Kalau seperti ini tentu aku bisa memutuskan hidup tanpa orang tua. Sialan, dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak ini. Tidak mungkin pekerjaan paruh waktu biasa bisa menghasilkan uang sebanyak ini. Wah, pantas saja, dengan uang yang terkumpul seperti ini aku tentu bisa belajar dengan tenang. Apa ia sengaja menyembunyikannya. Kenapa? Apa aku harus mencurinya!

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang dari arah luar. Rike menyimpulkan itu adalah Yunan. Ia segera menutup ruangan itu dan memastikan tidak ada apapun yang berubah dari tempatnya. Suara seseorang sedang melepas sepatu. Ada kediaman sejenak saat pintu terbuka sedikit. Dengan persiapan yang singkat, Rike berupaya menganggap rumah kecil itu adalah panggung teater pertamanya.

“Wah, kau lama sekali. Aku hampir ketiduran menunggumu. Berterimakasihlah karena aku sudah menyelamatkan tasmu!” Rike mencoba mendalami peran berpura-pura sebaik mungkin.

“Ri...Rike...,” perkataan Yunan terbata-bata pelan mencoba menyusun kalimat dalam kebingungannya. “Kenapa kau bisa ada di tempat ini?”

Seketika Yunan melesat masuk dan meraih barang-barangnya yang berserakan. Ia tidak benar peduli pada keterkejutannya barusan. Semuanya teralihkan dengan sikapnya sebagai laki-laki. Telinganya tampak memerah saat sadar pakaian dalamnya berserakan di dekat Rike yang seperti nyaman di atas kasur. Rike hanya memperhatikan dan tertawa. Kali ini Rike tidak sedang berpura-pura. Setelah selesai dengan pakaian dalamnya Yunan sedikit sadar dengan situasi. Tapi lagi-lagi ia berhasil dibuat lemas menatap Rike yang tentu saja perempuan, sedang duduk santai di ranjang miliknya. Pikirannya sangat berantakan seberantakan isi rumahnya.

Yunan mencoba menata kembali pikiran yang berantakan itu. Ia perlahan kembali pada peran yang selama ini melekat padanya. Ada hal yang tidak boleh diketahui Rike soal rumahnya. Matanya langsung mengarah ke ruang pakaian. Masih tertutup. Apakah Rike memasukinya saat ia belum kembali. Mengingat bagaimana sosok Rike yang baru ia kenal keraguan menghantui begitu mencekam.

“Hei, kenapa kau begitu panik, apa kau mencurigaiku melakukan sesuatu dengan rumahmu?” Kata Rike mulai mengalihkan perhatian Yunan yang gelisah.

“Tapi, bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?”

Yunan masuk ke dalam ruang pakaian untuk memastikan semua baik-baik saja. Begitulah, sepertinya Rike tak masuk ke tempat itu pikir Yunan yang sebenarnya itu salah.

“Tadinya aku pikir kau lupa membawa tasmu jadi aku mengembalikannya sekalian,”

“Ah, iya. Maaf. Tapi bagaimana caramu bisa masuk?”

“Kunci,”

“Bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”

“Wah, kau terlalu banyak bertanya. Apa ini pertanyaan terakhirmu. Aku mengetahuinya dari...”

“Eh, dari mana?”

“Dari, Bu Ratna. Aku mengatakan harus mengembalikan tas milikmu,”

Lihat selengkapnya