HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #9

Rumor (bagian 1)

“Bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?” Tanya ayah Yunan.

“Kenapa kau datang ke sini,” Yunan menanggapi ketus.

“Apa salah seorang ayah mengunjungi rumah anaknya. Apa kau sedang sibuk, aku ingin mengajakmu makan malam. Sudah lama sekali kita tidak makan bersama bukan,”

“Ayah katamu?” Yunan bergumam pelan. “Aku sudah makan. Sebaiknya kau pergi. Aku harus belajar untuk ujian,”

“Kau tidak boleh seperti itu pada ayahmu! Aku tahu kau pasti sangat kesulitan. Sebaiknya kau segera ikut ayah dan tinggal bersama,”

“APA!”

Ayah Yunan terkejut dengan suara bentakan anaknya.

“Aku baik-baik saja tanpamu, sebaiknya kau segera pergi!” Yunan mencoba menahan emosinya yang hampir meledak.

“Seperti inilah hidupmu jika terus dididik oleh Ibumu. Sejak kapan kau mulai berani bicara kasar dengan orang tua! Cepat bereskan keperluanmu dan segera ikut dengan ayah!”

Suasana terdengar semakin rumit. Rike masih kebingungan bersembunyi di balik pintu ruang pakaian. Ia semakin panik saat mendengar langkah kaki menghampirinya.

“Jangan berkeliaran di rumah ini seenaknya!” Kata Yunan dengan nada mengancam.

“Kau semakin sulit untuk diatur rupanya ya!”

Keadaan menjadi gaduh. Yunan dan Ayahnya mulai bersitegang tantang masalah-masalah kecil. Di dalam sana Rike terus berprasangka. Namun tiba-tiba dari pintu depan rumah yang masih terbuka datang lagi seseorang.

“Apa yang sedang kalian lakukan!”

Keduanya terkejut, sedangkan Rike semakin kebingungan dengan situasi di luar. Mengapa jadi banyak sekali tamu di rumah anak misterius ini.

“Apa kau akan terus memukuli anakmu seperti itu. Yunan, sebaiknya kamu cepat ikut Ibu. Ibu tidak akan memperlakukanmu seperti laki-laki gila ini!”

“Apa?! Gila katamu,”

“Ya, kau memang sudah gila. Kau hanya bisa menghabiskan uang. Sudah cukup keluarga ini hidup menyedihkan,”

“Wah! Kau benar-benar menguras habis kesabaranku. Dasar ibu dan anak sama saja!”

“Dengarkan Ibu Yunan, ayo kita segera pergi ke tempat Ibu. Ada seseorang yang akan membantu kehidupan kita,”

“Seseorang? Apa selingkuhan barumu lagi!”

“Jangan asal menuduhku. Kau bahkan tidak pernah membiayai keluarga ini sama sekali,”

Rike mendengar semua kalimat di luar sana. Ia hanya tak ingin keberadaannya ketahuan. Itu bisa memperumit masalah. Sambil mendengar suara-suara menjengkelkan itu Rike kembali memperhatikan sebuah kotak yang tertutup selembar kain. Ia memastikan lagi uang yang ada di dalam sana. Ketakutan, penasaran, sekaligus keinginan memiliki uang di hadapannya itu meluap-luap bercampur aduk. Ia meraih uang yang ada di dalam sana. Semakin dilihat, Rike menjadi perempuan yang benar-benar liar. Matanya terbuka lebar dengan keringat yang terus bercucuran. Menghitung satu ikat uang yang tertata rapi seperti orang kesurupan setan.

Rike memastikan jumlah uang yang ia raih dengan tubuh yang tak berhenti gemetar. Ia harus memiliki uang itu. Siapapun akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi sepertinya sekarang. Paling tidak itu pikiran singkat yang dapat ia pilih untuk membenarkan keputusannya.

PRANG!

Lihat selengkapnya