Di sekolah Rike mencoba mencari kesempatan untuk memperhatikan Yunan. Perlahan-lahan ia harus mengalihkan kejengkelannya setiap pagi dengan hal-hal menyenangkan di sekolah. Ini adalah cara yang bisa ia lakukan untuk bertahan hidup, setidaknya. Rike dan Yunan ada di kelas yang berbeda. Setelah menemui Bu Retno di ruang konseling untuk memberikan tugas resume, seperti biasa Rike tak betah lama-lama jika hanya berdua dengan guru itu dan langsung pergi. Ia sangat muak pada pada ocehan orang-orang tua yang selalu menganggap anak seusianya selalu tampak melakukan kesalahan. Rike memang tak pernah melakukan kesalahan apapun tentang sekolah. nilainya selalu sempurna. Tapi tetap saja guru konseling akn mengomelinya soal ini itu.
Di jam istirahat, ia ada di kantin sekolah bersama teman-temannya. Melihat kesana-kemari namun tak didapatinya sosok Yunan. Kantin sekolah saharusnya adalah tempat paling tepat untuk menemukan siapapun. Hingga saat ini Yunan terus mencuri perhatiannya. Rike memutuskan untuk pergi, bukan lagi mencari Yunan, tapi ada urusan yang harus ia selesaikan. Masih sedikit cenderung penasaran dengan bisnis yang ada di sekolahnya. Menghampiri senior dengan alasan yang paling wajar. Ia menginginkan sebungkus rokok. Rike menemui seniornya di halaman belakang sekolah.
“Kau sudah memesan lagi?” Senior itu tidak habis pikir dengan Rike, pelanggan setianya.
“Sudahlah cepat berikan, lagi pula ini menguntungkanmu bukan?”
“Rike memang beda. Kau adalah pelanggan utama kami,”
“Benarkah, kalau begitu ceritakan padaku bagaimana kalian mendapatkan rokok ini,”
“Apa kau benar-benar ingin tahu?”
“Tentu saja! Lagi pula jika nanti kalian lulus bukankah harus ada yang menggantikan kalian untuk menjalankan bisnis ini,”
“He? Kau ingin melakukan bisnis ini?! Yang benar saja. Kami semua tahu siapa dirimu. Mana mungkin orang terpelajar dan kaya sepertimu melakukan hal seperti ini,”
“Tentu saja untuk bersenang-senang,”
Beberapa senior di sana dibuat tertawa. Rike memang orang paling asik dan mudah bergaul dengan siapapun. Bahkan senior-senior itu bisa melakukan apa saja untuk Rike. Itu juga alasan kenapa Rike tidak bisa diganggu di sekolah selain karena orang tuanya yang kaya.
“Kalau kau memang ingin tahu, sebenarnya kami tak melakukan banyak hal,”
“Lalu bagaimana bisa kalian melakukan bisnis di dalam sekolah tanpa pernah ketahuan sama sekali?”
“Lihatlah,” salah satu senior menunjukkan ponselnya. “Kami hanya menuruti aturannya. Semuanya sudah diatur di sini,”
“Oleh siapa?” Rike semakin penasaran.
“Eeee, semacam informan tanpa identitas,”
Rike mulai meledak tawanya.
“Kalian menjahiliku ya, untuk apa hal semacam itu,”
“Begitulah memang cara bisnis ini berjalan. Ini tentang sistem. Kami semua melakukan ini untuk berbisnis,”
“Kami? Jadi ada orang lain yang berbisnis seperti kalian di dalam sekolah?”
“Tentu saja ada. Mungkin kau hanya tahu tentang kami. Bagian kami disebut dengan TEMBAKAU, kemudian ada juga mereka yang menerima jasa mengerjakan laporan dan semacam itu. Jika kesulitan mengerjakan tugas sekolah tinggal memesan jasa ini dan pekerjaan akan selesai asalkan ada uang. Mereka disebut PENA,”
“Waw, terus?” Tanya Rike.
“Yang terakhir adalah minuman keras. Mereka disebut MIRAS,”
“Itu terdegar sangat konyol,” Kata rike sambil tertawa.
“Julukan tidaklah penting. Yang jelas dengan sistem ini semuannya selalu berjalan lancar. Aku dengar kemarin ada masalah yang dilakukan oleh anak-anak di kelasmu,”
“Kelasku?”
“Farhan, dia dan gerombolannya sedang pesta minuman keras kemarin. Semuanya dilakukan sesuai sistem. Kami memanggilnya BOSS. Dia adalah informan untuk kami. Mulai menjelasan waktu sampai tempat. Tapi sayangnya terjadi masalah yang dilakukan oleh Farhan. Kau tahu pacarnyakan?”
“Fenya?! Kenapa, apa dia ikut minum?”
“Hei, kemana saja kau baru tahu soal itu. Mereka selalu melakukannya bersama-sama,”
“Sungguh! Wah, ini benar-benar gila. Kenapa kau tak menceritakannya padaku,”
“Mana kutahu kau tertarik dengan hal seperti itu?”
“Baiklah lanjutkan! Apa yang terjadi selanjutnya?” Tanya Rike sambil mengambil rokok yang baru dikeluarkan seniornya dari saku celana.
“Semuanya sudah berjalan lancar. Tapi para perempuan itu terlalu berisik sepertinya. Sampai ada preman-preman yang menyadari hal itu. Mereka ketahuan!”
“Apa mereka berkelahi?!”
“Tentu saja, Kau tahu sendiri bagaimana Farhan bukan. Dia adalah junior terbaik kami untuk masalah bertarung. Tapi persoalannya preman itu tetap saja lebih lihai berkelahi dari pada anak SMA,”