“Maaf tentang kemarin,” kata Yunan
“Masalah orang tuamu?
“Mmm,” Yunan mengangguk.
“Apa semuanya baik-baik saja?”
Yunan hanya terdiam tak bisa menanggapi pertanyaan Rike.
“Hei, lupakan soal itu. Aku mengajakmu untuk bersenang-senang. Bukan kau saja yang memiliki masalah dengan orang tua,”
“Eh, tapi tetap saja. Aku rasa itu hal yang memalukan untuk dibagikan dengan orang lain,”
“Kenapa harus malu, apa aku perlu menceritakan masalahku juga agar kau merasa lebih baik?”
“Ah tidak. Lupakan saja,”
“Yunan,” Rike menarik perhatian Yunan untuk menatapnya. “Apakah puisimu tentang hidupmu selama ini?”
“Mungkin,”
“Aku juga punya yang seperti itu. Tapi aku tak pernah memberikannya kepada orang lain. Jika kau ingin membacanya, kau akan menjadi orang pertama yang mengerti diriku,”
“Apa boleh?”
“Aku akan mengirimnya nanti,”
Yunan dan Rike seperti menikmati situasi milik mereka sendiri di depan sebuah super market.
“Apa kau begitu tertarik dengan puisi?”
“Begitulah,” Rike mengangkat wajahnya yang sedari tadi nampak lesu. “Terkadang ucapan Bu Retno tentang puisi cukup menarik. Aku mendengar darinya puisi memiliki iramanya sendiri-sendiri. Bahkan irama itu yang membedakan antar penulis puisi. Dalam sebuah puisi iramalah yang akan memberikan gaung. Semakin indah iramanya maka gaung yang dihasilkan akan semakin dalam. Itu akan cukup membuat siapa saja terperosok dan terjebak di dalam sana. Kemudian terkubur dengan banyak sekali rasa emosional dari diksi-diksi yang tersusun itu,”
“Irama?”
“Kata Bu Retno, terkadang irama yang bercampur aduk lebih baik. Mereka bisa menciptakan keindahannya sendiri,”
“Benarkah? Aku tak pernah memahami itu,”
“Memang hal itu bukan untuk dipahami. Dan kau sendiri, bagaimana kau menganggap puisi, kebebasan?”
“Tidak. Dari pada menilai apa itu puisi, aku justru kesulitan memahaminya,”
“Kenapa?”
“Terkadang banyak tata bahasa dalam puisi yang tidak benar. Membacanya seperti sebuah teka-teki. Seperti lagu asing yang tak aku mengerti, namun aku sekedar dapat menikmatinya dengan kesimpulanku sendiri,”
“Puisi memang tak membutuhkan tatanan seperti itu. Atau bahkan puisi adalah sebuah bentuk lain dari kehidupan ini. Kita tak bisa mendapatkan makna hanya dengan membacanya saja,”