Jam cepat berlalu. Senja mulai tampak memerah menjadikan suasana seakan mendekap siapapun yang peduli tentang kehidupan.
“Ini adalah kesempatan terakhir untuk menghentikan keputusan jika kau ragu,”
“Siapa yang ingin menghentikan ini, kita sudah sampai sejauh ini. Tanggung tahu,”
“Baikalah kalau begitu, ayo!” Bisik Yunan.
“Sekarang? Oh oke-oke,”
Keduanya beranjak sambil memastikan masker terpasang dengan tepat. Berjalan menuju gedung tua itu, Rike dengan jelas dapat mengenali sosok Farhan teman sekelasnya.
“Lihatlah ke arah ujung, kau mengenalnya kan!”
“Ya aku tahu. Sebaiknya kita biarkan dia masuk lebih dulu,”
“Apa kau yakin, bisa saja mereka menjahili kita jika tahu seragam yang kita gunakan. Dia tak boleh tahu soal ini,”
“Apa sebaiknya kita batalkan saja,”
“Wah, jangan terus-terusan mengatakan hal itu dong! Sial, kenapa bocah kurang ajar itu harus melakukan pembelian hari ini juga. Aku tak ingin membatalkannya. Kita harus mendapatkannya, Ayo!”
Yunan memperlambat jalannya membiarkan Farhan di depan memasuki gedung. Meskipun ini adalah bisnis yang selalu ia lakukan setiap hari, tetap saja Yunan belum terbiasa dengan berada di lapangan seperti itu. Terlebih ada orang lain terlibat dengannya. Yunan terbiasa melakukan segala hal sendirian. Itu membuatnya lebih mudah mengatur segala kemungkinan. Tapi jika terdapat tambahan rekan, tentu saja sulit mengatur yang demikian itu. Rike mengikuti Yunan yang berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Tangan Rike meraih lengan Yunan yang dimasukkan di saku jaket. Keduanya sebisa mungkin tidak menarik perhatian, entah dari orang sekitar ataupun dari Farhan.
Mereka memasuki gedung tua, transaksi akan dilakukan di atap gedung tua. Setidaknya ada tiga lantai di gedung itu. Tempatnya berantakan sampai-sampai beberapa lumut tampak subur dengan bercak-bercak air hujan yang menghiasi seluruh isi bangunan. Yunan dan Rike memperhatikan keseluruhan gedung itu.
“Dari mana mereka menemukan tempat seperti ini. Apa tempat ini semacam penginapan yang ditinggalkan?”
“Mungkin saja,”
“Lihatlah, bangunan ini seperti akan roboh sebentar lagi. Tidak bisa dibayangkan di kota ini ada bangunan yang bahkan tidak tersadari dari luar. Kau tahu, ini mungkin adalah korban kapitalisme!”
“Kapitalisme? Apa kau tertarik dengan hal semacam itu juga?”
“Tentu, akulah kapitalisme,” Rike berbisik dan terus mengikuti langkah Yunan.
Baru pertama kali Yunan merasakan kenyamannan dan ikut tertawa bersama Rike.
“Kau tertawa?” Rike menarik masker yang digunakan Yunan.
Tanpa Yunan sadari karena sibuk memperhatikan situasi dan terlalu gelisah, sesaat Rike benar-benar dekat dengannya. Saat Rike menarik masker miliknya, mungkin hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Keduanya masih tertawa sampai mata remaja itu saling menatap sangat dekat.
“Kita akan sampai di atap setelah ini,” kata Yunan menahan rasa canggung ketika keduanya sadar dalam posisi yang terlalu dekat.