HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #13

Rasa Emosional Memberikan Sebuah Pilihan Alternatif atau Justru di Luar Perhitungan (bagian 3)

“Hei Farhan, bukankah itu bajingan yang kemarin! Mengapa jumlah mereka lebih banyak!” Kata Dion dengan kuda-kuda siap berrtarung.

“Sepertinya memang begitu. Akhirnya kita punya kesempatan menghajar mereka! Fenya lari!”

Keadaan menjadi sangat tidak terkendali. Fenya dan Sinta segera berlari. Pemuda-pemuda itu membiarkan mereka begitu saja. Sepertinya mereka datang dengan tujuan yang jelas, bukan sekedar membuat rusuh biasa.

“Sialan! Mereka berulah lagi!” Dengan ketakutan pemasok itu mencoba menghubungi Pak Han.

Sementara itu Rike segera kembali menyembunyikan wajahnya. Ia tak bisa pergi begitu saja seperti halnya Fenya dan Sinta. Terlalu jauh dari tangga. Yunan dengan cepat mengirim pesan kepada Pak Han. Entah bagaimana mengatakan keadaan itu, bisa disebut keberuntungan atau justru semakin memperumit masalah.

“Yunan, bagaimana ini?!” Rike berbisik pada Yunan yang masih sibuk dengan ponselnya. “Hei! Apa yang kau lakukan, lihatlah situasinya semakin kacau!”

Suara pemuda atau lebih tepat lagi disebut preman itu tiba-tiba sedikit mengagetkan Rike.

PRANG!!!

“Dasar bocah-bocah sialan! Katakan kepada kami dimana Pak Tua kurang ajar itu! Kami harus membuat perhitungan dengannya!” Kata preman itu setelah memecahkan botol kaca di tangannya.

Tanpa disadari Farhan dan Dion menggila. Mereka nekat dengan emosi yang meledak. Keduanya mengambil batang kayu basah yang tergeletak di sekitar atap bangunan itu.

“Apa kau sudah gila. Jangan melawan mereka, kita harus menunggu Pak Han!” Kata senior pemasok itu.

“Tentu saja, tapi aku harus menagih kejadian kemarin. Aku bahkan tak bisa tidur gara-gara lari dari orang-orang seperti mereka!” Kata Farhan dengan wajah yang sangat kesal.

Farhan dan Dion benar-benar gila. Preman itu bahkan sudah seperti pasukan. Mana bisa mereka berdua menangani itu pikir Rike. Ini bahkan bukan perkelahian pelajar. Sementara itu pemasok hanya ketakutan. Bisa dibilang Farhan sedang cari mati. Jika kelanjutannya semakin parah, tentu yang sudah pasti menerima dampaknya adalah bisnis. Tapi seperti itulah semangat anak-anak zaman sekarang. Gegabah dan berani melakukan apapun. Memikirkan resiko memang bukan gaya Farhan. Ia seperti petarung amatir yang haus akan darah jika melihat situasinya seperti ini.

“Senior, apa kau takut? Aku rasa ini akan sangat menyenangkan!”

Lihat selengkapnya