HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #14

Bau yang Ditinggalkan oleh Bangkai

Yunan berlari menyusuri jalan ke arah rumahnya. Sampai lumayan jauh di persimpangan ia melihat perempuan berseragam terduduk di sebuah gang sempit. Ia tahu itu adalah Rike. Yunan menghampirinya. Mereka tak banyak bicara. Rike memutuskan untuk pulang, begitu pula dengan Yunan. Sedangkan dalam perpisahan itu, keduanya pulang dengan kegelihasan masing-masing yang dirahasiakan satu sama lain. Yunan yang tak berhenti memikirkan Pak Han, sementara Rike yang mencoba menata ulang puzzle rasa penasarannya tentang sangat banyak hal.

Keesokan harinya Rike masih tetap kacau. Ia berusaha sangat keras bahkan lebih dari biasanya untuk menghadapi pagi. Bersama kedua orang tuanya adalah bagian terburuk dalam hidup. Ia harus memulai sarapan dengan kepura-puraan. Selalu begitu dan seperti itu saja. Drama di atas panggung lebih tampak realistis ketimbang kehidupannya. Setiap saat Rike mencoba berbaur dengan panggungnya sendiri. Dengan pemain yang tak pernah berganti. Laki-laki tua yang menyembunyikan wajah mengerikannya di balik topeng pahlawan itu berperan sebagi ayah kandungnya. Kemudian Wanita penyihir penghisap racun sangat mendalami peran sebagai seorang ibu. Rike sendiri terjebak sebagi peran pembantu yang tak bisa punya karakternya sendiri.

Rike selalu ingin membuat ceritanya sendiri. Dengan ia sebagai sutradara sekaligus pemeran utama. Pada saat itu tiba nanti, sebuah maha karya seni teater akan tampak sangat mengerikan. Tidak akan ada lagi dialog tentang orang tua. Tidak ada nasehat, tidak ada masa depan, tidak ada hirarki keturunan, obrolan tentang bisnis, gedung pencakar langit, kerja sama, atau yang lebih buruk dari itu semua. Cerita hanya punya satu alur dengan ribuan babak, tentu saja di setiap babaknya tak akan luput dari adegan penyiksaan. Rike punya lebih dari ribuan metode untuk menyiksa pemeran utama dalam pertunjukan teaternya pagi ini.

***

Bel istirahat berbunyi. Rike mulai sibuk dengan satu per satu masalah.

“Hei Rike!” Farhan menghampiri layaknya langkah pertarungan yang angkuh.

Rike sudah mempersiapkan dialognya dengan sempurna. Tatapannya tajam dan ketus pada Farhan seperti biasanya Seakan tak dibuat-buat.

 “Ada apa denganmu? Apa kau preman!” Kata Rike melihat bibir Farhan yang sobek dan plester luka di pelipis Farhan.

“Aku sangat penasaran, kemana kau kemarin sore? Apa kebetulan kita bertemu di suatu tempat?”

“Apa sekarang kau sangat tertarik dengan kehidupanku! Pergilah, kau merusak suasana!”

Rike beranjak dan keluar dari kelas.

“Wah, apa kemarin kita salah orang. Sial, itu sangat memalukan,” Kata Fenya mendekati pacarnya itu. “Apa lukamu masih sakit sayang?”

Rike tak bisa berhenti berfikir tentang Yunan. Tentu saja semuanya menjadi semakin jelas. Semalaman ia sudah hampir menemukan titik final untuk kesimpulannya. Ia benar-benar merasa tertipu. Ternyata anak polos yang misterius itu adalah dalang dari semua bisnis di sekolahnya. Ia berjalan menuju kelas Yunan namun tak bertemu dengannya. Teman-teman yang lain mengatakan Yunan tidak masuk hari ini. Hal itu semakin membuatnya yakin, Yunan adalah anak bermasalah. Tinggal sedikit lagi, Asumsinya harus benar-benar sempurna.

Di halaman belakang Rike menemui senior.

“Kita tak bisa memberikanmu rokok untuk hari ini,” kata senior pada Rike.

“Apa kalian kehabisan barang!”

“Bukan begitu, ada masalah!”

“Masalah, kenapa, apa terjadi masalah besar?” Tanya Rike meski ia tahu apa yang sedang terjadi.

“Begitulah, Oh iya, bukankah kemarin kau meminta nomor bagian minuman keras, apa kau menemui mereka?”

“Eee, tidak. Aku belum menemukan wali,”

“Syukurlah. Sejak pagi tadi aku sangat ketakutan sampai-sampai tak berani menghubunginya,”

“Menghubungi siapa?”

“Gunawan, ia satu bisnis denganku bagian minuman keras. Jangan bilang siapa-siapa. Ia bahkan tidak masuk hari ini. Kasihan sekali bocah itu, meski mendapat untung yang lebih besar tapi resiko yang ia dapatkan sangat mengerikan,”

“Jadi apa masalah besarnya. Cepat ceritakan padaku,”

“Entahlah aku tidak begitu yakin. Tapi semuanya benar-benar kacau. BOSS mengatakan hari ini tidak ada pekerjaan. Jadi kami semua tidak bisa melakukan transaksi,”

“Kenapa begitu?”

“Kemarin para pemuda yang membuat masalah tempo hari sepertinya datang kembali untuk balas dendam. Bahkan mereka membawa lebih banyak orang. Kudengar ada yang memiliki tato. Semuanya benar-benar kacau. Apa kau melihat Farhan, lihatlah wajahnya penuh luka. Dia memang luar biasa,”

“Lalu?”

“Hmm?” Gumam senior.

“Lalu bagaimana?”

“Bagaimana apanya, tentu saja kacau. Mereka berkelahi, aku pikir sesuatu yang buruk telah terjadi,”

“Apa kak Gunawan yang kau sebut tadi baik-baik saja?”

“Entahlah,”

“Tapi kenapa kalian tidak bisa menjual rokok?”

“Tentu saja. Ini bukan sekedar pertarungan biasa. Kau ingat Pak Han yang aku katakan kemarin?” Rike mencoba menebak Pria Tua di kejadian kemarin sambil menatap serius senior yang sedang bercerita. “Katanya dia menghilang. Aku pikir itu adalah alasan utama kenapa BOSS tidak mengijinkan bisnis beroprasi,”

Rike meresapi semua kisah yang ia dapat. Ia semakin yakin bahwa BOSS yang disebut-sebut itu pasti adalah Yunan.

“Hei ayolah, lalu apa kalian akan berhenti memberikanku rokok begitu saja. Apa kalian tidak butuh uang?” Kata Rike. “Memang apa gunanya BOSS kalian itu jika tetap terjadi masalah seperti ini,"

“Itulah yang paling menjengkelkan. Padahal Gunawan sudah mencoba menghubungi BOSS saat ia berhasil kabur. Tapi BOSS malah tidak menerima panggilannya. Pokok untuk hari ini kita tetap menuruti perkataan BOSS. Aku sudah bicara dengan yang lain, jika besok keadaan masih tetap seperti ini, kami akan menjualnya tanpa bantuan BOSS. Kurasa itu tidak terlalu beresiko, seperti katamu,”

“Apa itu bisa dikatakan BOSS kalian tidak melakukan tugasnya dengan benar,”

“Ahh, itu kesimpulan yang terlalu cepat untuk dikatakan,”

“Baiklah aku akan menemuimu besok,” Rike masih sedikit penasaran. “Tapi menurutmu, apa yang terjadi dengan Pak Han?”

“Wah, ini baru pertama kalinya. Mungkin sesuatu yang buruk benar-benar terjadi padanya. Kudengar preman-preman itu benar-benar gila. Mereka menggunakan senjata tajam untuk bertarung. Ya ampun, aku masih tidak percaya jika Farhan bertarung dengan preman-preman itu. Apakah dia bercita-cita menjadi petarung profesional?”

Lihat selengkapnya