HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #15

Kosekuensi dari Dimulainya Sebuah Ikatan

“Apa selama ini kau tinggal di sini?” Tanya Gunawan.

“Sebaiknya kau pulang!” Kata Pak Han singkat.

“Untuk apa, lagi pula Paman dan Bibi tak pernah peduli denganku. Mereka mungkin lebih senang jika aku menghilang!”

Pak Han mengobati luka-lukanya yang masih basah.

“Pak Han, Apa pekerjaan kita sudah berakhir, aku mendapat kabar dari sekolah telah terjadi masalah yang cukup besar. Sepertinya BOSS hanya diam saja kali ini. Apa kau yakin kita tak harus melaporkan semua ini kepadanya?”

“Lebih aman kau diam saja dan mulai cari pekerjaan yang lebih baik!”

“Pekerjaan apa, sulit mendapatkan uang sekarang ini!”

“Untuk apa kau membutuhkan uang?” Tanya Pak Han.

“Mmm,,, semua orang pasti butuh uang kan! Pak Han, apa kau benar-benar anggota pasukan elit. Apa kau terlibat suatu masalah dan harus jadi pelarian?”

“Kau tak seharusnya mengalihkan pembicaraan Nak!”

“Apa itu benar? Pantas saja kau sangat luar biasa menghadapi mereka semua,”

“Pergilah!”

“Kenapa kau terus menyuruhku pergi! Beginikah cara memperlakukan orang yang telah menyelamatkanmu. Sejujurnya aku ketakutan melihatmu seperti itu kemarin. Tapi kau bersikeras tak boleh membawamu ke rumah sakit. Syukurlah kau bisa lolos dari mereka,”

Pak Han hanya diam tak menaggapi Gunawan. Luka yang didapatkan Pak Han bukan main-main. Gunawan membantu Pak Han mengobati luka-lukanya beberapa hari dan kembali pulang. Ia merasa Pak Han tidak nyaman dengannya. Melihat Pak Han sudah bisa bergerak membuatnya sedikit lega. Gunawan adalah satu-satunya anak yang terlibat bisnis dan sering bertemu Pak Han. Meski Pak Han tak mempedulikannya, Gunawan merasakan hal yang berbeda. Berulang kali Pak Han membereskan masalah untuknya. Tentu itu adalah perntah BOSS. Tapi saat melihat Pak Han ia selalu merasa aman. Seperti sosok yang selalu melindunginya dalam setiap masalah. Bisa dibilang Gunawan menemukan perasaan yang lain pada sosok tua berbadan kekar itu.

Yang jelas untuk saat ini Gunawan tidak mungkin melakukan pekerjaannya sebagai pemasok meskipun ia sangat ingin. Bukan karena larangan BOSS, ia mempertimbangkan perkataan Pak Han untuk mencari pekerjaan lain. Selain itu bisnis di sekolah juga sepertinya sedang tidak baik. Dari informasi yang ia dapatkan bahkan sekolah akan mengundang satuan polisi untuk memberikan sosialisasi di sekolah selama beberapa hari sebelum ujian. Jika bisnis ini sampai ketahuan, maka tamatlah riwayatnya. Pak Han juga akan terlibat jika ada yang bertindak macam-macam.

Dari kejadian itu tidak ada yang ditakutkan oleh pelajar semacamnya. Mereka sudah terlatih untuk diam. Bahkan kejadian kali ini semacam hiburan untuk mereka. Ada banyak orang tua yang ke sekolah mengatakan tidak setuju dengan sosialisasi dari kepolisian. Orang tua itu mengatakan hal yang aneh-aneh seakan paling mengerti anak mereka. Gunawan paling jengkel dengan situasi seperti itu. Menurutnya orang tua sebenarnya haruslah seperti Pak Han. Melindungi anaknya dari bahaya, bukan melatih anak mereka menghadapi bahaya.

Tiga hari yang ia habiskan bersama Pak Han terasa lebih seperti kehidupan yang sebenarnya dari pada bertahun-tahun hidup dengan Paman dan Bibinya. Mengganti perban di tubuh Pak Han, membelikannya makanan, berbincang tentang foto-foto dan pertarungan, tentang benda-benda yang ada di rumahnya, meski tak begitu dipedulikan itu terasa sangat berkesan baginya. Saat Pak Han bertanya untuk apa memerlukan uang, Gunawan bahkan tak tahu pasti. Ia hanya melakukan apa yang sedang kepalanya pikirkan. Sampai ia memikirkannya hari ini, belum tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.

***

Dalam perjalanan Rike mendapatkan pesan di ponselnya. Boy mengajaknya bertemu di sebuah kafe yang sama sebelumnya. Rike segera mensetujuinya. Kejadian di sekolah memberinya kesimpulan bahwa Yunan sang BOSS sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Ini adalah kesempatan yang paling tepat untuk melakukan pencurian. Ia hanya merasa kesal kepada Yunan yang memiliki uang sebanyak itu. Yunan bisa melakukan apa saja. Seperti mafia yang bahkan tidak diketahui keberadaannya. Tak perlu ketakutan dengan apapun sebab memang dari awal ia tidak ada. Rike tidak ingin jika Yunan menikmati ini sendirian. Sementara anak buahnya mengalami kesulitan di sekolah, bahkan Pak Han yang ia tahu dari senior menghilang dan tidak diketahui bagaimana kabarnya. Yunan adalah pecundang sejati yang hanya mengincar uang. Emosinya meluap mengalahkan logikanya sendiri.

Rike dan Boy mencari meja di tempat paling atas dan sepi.

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” Tanya Rike.

“Aku hanya ingin mendengar bagaimana rencananya. Jika ini tidak masuk akal, sebaiknya lupakan!” Kata Boy.

“Ini sangat masuk akal. Apakah uang pernah berbohong! Bahkan ini sangat sederhana. Ambil dan pergi, selesai!”

“Apa kau pikir semudah itu. Jika mencuri adalah kegiatan yang semua orang bisa lakukan, kenapa harus susah-susah cari kerja,”

“Jika tidak ada yang bekerja memang pencuri akan mencuri dimana. Sepertinya kau memang tidak menggunakan otakmu dengan baik!”

“Seperti itukah caramu berbicara dengan orang tua!”

“Maaf!” Rike menyalakan rokok, begitu pula dengan Boy. “Intinya ini sangat mudah.”

“Tapi sebelumnya, apa benar yang kau katakan itu berjumlah 100 juta?”

“Aku sangat, sangat, sangat yakin!”

“Baiklah ceritakan padaku, siapa sasarannya?”

“Anak SMA!”

“Anak SMA? Apa benar dia memiliki uang sebanyak itu?”

“Ya! Dia memilikinya. Aku sudah tahu dimana ia menyembunyikan uangnya. Ia tak mungkin memindahkan uang itu, rumahnya sangat kecil dan berantakan!”

“Apa kau sudah mengunjunginya? Temanmu?”

“Tidak bisa dibilang seperti itu, tapi yang jelas aku sempat pergi ke rumahnya,”

“Jadi bagimana cara kita masuk rumahnya tanpa ketahuan!”

“Itu sangat mudah. Aku akan mengajaknya jalan-jalan. Kemudian dalam kesempatan itu akan aku ambil kunci rumahnya dan memberikannya padamu di suatu tempat. Aku sudah mengirimimu alamatnya. Sebuah apartemen murah yang biasa-biasa saja. Ada beberapa CCTV, aku akan mengurusnya. Itu tak akan jadi masalah!”

“Apa dia tidak akan curiga saat kau pergi meninggalkannya,”

“Tenanglah, aku sudah punya alasan yang bagus untuk itu. Selanjutnya aku akan menunggu di depan apartemen itu, kita bagi dua uangnya. Jangan macam-macam, karena aku akan mengambil vidionya sebagai jaminan. Kau tahukan, keluargaku tidak akan mungkin kesulitan untuk mengurus kasus kecil seperti ini,”

Lihat selengkapnya