“Eh, bukankah itu Rike, ayo kita ajak dia ke kantin!” Kata Intan pada temannya.
“Lupakan saja, kau hanya akan mengganggu mereka!” Jawab Kinan.
“Maksudmu?”
“Kau lihat laki-laki di sebelahnya,” Kinan menunjuk ke arah Yunan di taman sekolah. “Si kutu buku!”
“Kutu buku? Siapa, aku nggak pernah dengar nama seperti itu,”
“Sebenarnya aku juga nggak mengenalnya, tapi rumor yang beredar bilang kalau mereka sedang dekat belakangan ini,”
“APA! Mereka pacaran!”
“Entahlah, tapi sepertinya mereka nggak ingin menujukkan hubungan mereka pada yang lain. Bahkan kau saja teman dekat Rike nggak tahu kabar seperti ini,”
“Tapi ini sangat keterlaluan, masak iya aku nggak dikasih tahu!”
“Mungkin kau saja memang yang nggak pernah mau tahu!”
“Hehehehe, tapi itu cuman rumor. Ngapain percaya yang begituan!”
“Iya sih, murid populer selalu saja enak buat dibicarakan. Kemarin bahkan ada yang bilang kalau Rike pesan minuman keras dan terlibat masalah!” Kata Kinan dengan santai.
Intan berhasil dibuat melongo dengan ucapan Kinan.
“Apa itu benar!”
“Katamu jangan percaya rumor! Kau nggak sedang melakukan pembelaan subjektif terhadap temanmu sendirikan?”
“Tapi, tapi ini benar-benar berita yang sangat gila!”
“Wah, kau memang tidak tahu apa-apa ya. Cobalah bergaul dengan banyak orang, mengumpulkan informasi seperti ini wajar buat perempuan. GO-SIP!”
“Aku tahu semua gosip, Aku cuman merasa nggak perlu aja cari gosip soal teman sendiri!”
“Kau benar-benar belum menjadi perempuan sejati!”
“Tapi kalau minuman keras, bukankah itu sangat keterlaluan. Nama Rike bisa tercoreng tahu! Bahkan hari ini sekolah sedang melakukan persetujuan dengan polisi untuk melakukan sosialisasi. Bagaimana jika mereka tahu!”
“Kau benar, merepotkan sekali. Mereka akan memngomeli kita sepanjang hari. Kudengar itu akan dimulai nanti!” Kinan tiba-tiba teringat sesuatu. “Eh, jangan-jangan kau juga nggak tahu kalau selama ini Rike ngerokok!”
“Oh tidak, tidak, tidak! Ini Gosip! Ini Rumor! Sudahlah hentikan!”
“Kalau yang ini sudah bukan jadi rumor, ada banyak yang tahu. Kalau nggak percaya tanya sama Milko!”
“Kenapa cuma aku yang nggak tahu sih!” Kata Intan sambil merengek kepada Kinan.
“Sudahlah ayo kita ke kantin,”
Keduanya berjalan menuju kantin dan masih terus membicarakan Rike.
“Eh serius nggak ngajak Rike, sekalian ajak dia juga!”
“Mungkin mereka sedang melakukan pembicaraan serius!”
“Justru jangan sampai itu terjadi, aku tidak kenal siapa kutu buku yang kau katakan tadi, apa menurutmu dia pantas untuk Rike?”
“Sejujurnya itu nggak mungkin! Aku dengar dari murid di kelas si kutu buku, kalau tidak salah namanya Yunan, dia hanyalah seorang pecundang biasa. Hanya saja nilainya sangat bagus, tapi lainnya tidak sama sekali!”
“Peringkat berapa memang?”
“Dia selalu dapat peringkat satu di kelas, sama seperti Rike! Dia itu murid nomer dua yang punya nilai tertinggi di sekolah kita setelah Rike!”
“Wah! Apa dia benar-benar pecundang?”
“Dia hanya mengerti belajar tanpa memiliki teman satupun. Makanya waktu Rike datang ke kelas Yunan terus gandeng tangan Yunan semua jadi heboh!”
“Rike gandengan tangan sama anak itu! Haduh, tolong, sepertinya kau benar, aku harus mulai mempertajam insting perempuanku. Kalau tidak aku bakal ketinggalan jauh! Tunggu saja sampai aku klarifikasi semua berita ini!”
“Hahaha, kenapa kau jadi bersemangat seperti itu!”
***
Baru pertama kali ini Rike tak tahu harus memulai pembicaraan dengan seperti apa. Ia terlanjur mengajak Yunan bertemu di jam istirahat. Itu sekedar siasat untuk memastikan dimana kunci rumahnya disimpan. Rike memperhatikan Yunan dan sepertinya kunci itu memang ditinggalkan di tas. Bagaimanapun kunci itu harus didapatkannya nanti. Di taman sekolah itu keduanya hanya berdiam saja. Siapa sangka kecanggungan itu justru tampak romantis jika dilihat.
“Rike, apa yang kau lakukan setelah pulang sekolah?”
“Aku? Tidak ada,”
“Oh begitu,”
“Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?” Tanya Rike yang memang bermaksud tidak ingin Yunan langsung pulang ke rumah.
“Tidak juga,”
“Kalau begitu sebaiknya kita pergi ke suatu tempat," usul Rike.
“Kemana?”
“Kita bisa pikirkan itu nanti saja. Biasanya yang tidak direncanakan justru bisa sangat menyenangkan!”