Dunia ini tidak pernah aman untuk anak-anak. Entah itu ancaman dari orang dewasa, peradaban, atau teman yang kukenal, percaya pada seseorang harus ada batasnya. Persaingan, kecepatan, resiko, semua itu bagian di kehidupan ini. Manusia punya insting bertahan hidup yang kuat. Pada situasi terburuk, manusia juga bisa menjadi monster. Hanya demi bertahan hidup, ada banyak sekali kejahatan. Ada motif yang tak terhitung jumlahnya. Uang, hasrat, kepuasan, ambisi, prinsip, harga diri, bahkan mimpi, ada yang akan terus berjuang mati-matian. Ada lebih banyak kejahatan yang melebihi batas imajinasiku sendiri.
Seharusnya aku tak perlu merasa bersalah. Kejahatan yang aku lakukan ini masih belum ada apa-apanya. Ini hanya uang 100 juta. Anak-anak lain juga bisa memilih kejahatan yang lebih kejam dariku. Pengedar Narkoba, pelecehan seksual, pembunuhan, mereka bisa melakukan itu kapan saja. Aku tak perlu merasa bersalah. Mencuri hanya bagian kecil dari kejahatan. Aku memang salah, tapi masaa bodoh dengan itu. kelak aku akan dimaafkan. Lagi pula bukan hanya aku yang salah, dunia ini juga, papa, mama, sekolah, mereka juga harus bertanggung jawab. Sial! Seharusnya aku tidak goyah!
Tubuh Rike lemas terunduk di hadapan Yunan. Taman kota yang semakin sepi, bersamaan dengan warna jingga yang mulai menyusupi celah-celah kota, tampak sempurna menjadi latar pertunjukan melodrama
“Rike, apa kau baik-baik saja?” Yunan cemas, ia mencoba menyentuh lengan Rike untuk menyadarkan kediamannya itu. “Rike, apa kau...”
“KENAPA!” Rike menghempaskan tangan Yunan dan berteriak. “KENAPA KAU BERTERIMAKASIH PADAKU!
Yunan sangat bingung melihat Rike yang tiba-tiba berubah. Berteriak dan mulai menangis.
“Maaf,” kata Yunan dengan sangat menyesal.
“Hah! Maaf katamu? Kau tidak melakukan kesalahan apapun kenapa harus minta maaf!”
Yunan sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan Rike. Di saat yang bersamaan tiba-tiba semua orang di taman itu mulai berlarian. Hal itu cukup membuat keduanya sadar, mereka sedang tidak hidup sendirian di taman kota. Rike yang masih kesal mengikuti arah orang yang berlarian. Yunan mengejar di belakangnya. Orang-orang berkerumun. Seseorang terkapar di tanah mengeluarkan darah. Rike menerobos kerumunan orang dan memperhatikan. Ia sangat terkejut dengan kenyataan di depan matanya. Seseorang yang tak berdaya dan setengah sekarat itu adalah Boy. Sontak Rike menghampiri sambil menangis sejadi-jadinya.
“BOY!” Rike tak lagi punya kesempatan membendung air matanya. “Apa yang terjadi denganmu!”
Yunan menatap Rike yang sudah jatuh memeluk Boy. Tanpa mengerti situasinya dengan jelas, ia melihat darah dan menghubungi ambulan. Rike masih terus menangis di antara kerumunan orang yang melihat-lihat.
“Hei Nak, apa kalian mengenal pria itu?” Tanya seseorang kepada Yunan.
“Tidak, eh, maksudku mungkin temanku mengenalnya. Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Yunan.
“Tidak ada yang tahu, tiba-tiba saja ia muncul. Ada yang bilang pria itu keluar dari mobil van, mungkin kecelakaan atau semacamnya, entahlah. Aku hanya tahu dia babak belur begitu saja. Apa kau sudah menelpon polisi, kurasa ini masalah serius!”
“Tidak, saya hanya menelpon ambulan,”
“Ah kau benar, dia harus segera mendapat perawatan.”
Tak berselang lama, sekitar lima menit suara mobil ambulan sudah terdengar. Rumah sakit tidak jauh dari tempat itu. Langit mulai gelap ketika Boy memasuki ruang perawatan. Ia menggapai tangan Rike yang masih menangis di antara para perawat. Perawat itu berhenti, Rike berusaha mengendalikan dirinya dan mendekatkan telinganya ke bibir Boy.
“Seseorang mengambil kuncinya!”
Belum habis kegelisahan yang menghampirinya, berkali-kali seperti memaksanya untuk menyerah. Rike benar-benar menjadi gila. Ia berlari, melesat kencang tanpa peduli apa yang ada di depannya. Yunan yang semakin kebingungan mengikuti Rike begitu saja. Mereka terus berlari sampai akhirnya Yunan sadar bahwa itu adalah jalan menuju rumahnya. Benar saja, Yunan yang sedikit ketinggalan akhirnya masuk ke gedung apartemen. Sambil berusaha mencuri udara untuk nafasnya yang tersengal, ia berjalan menuju pintu rumah apartemennya. Yunan seperti tidak bergeming ketika Rike terduduk tak berdaya di depan rumahnya dengan pintu yang sudah dibuka.
Rike mencoba bangun dan menyeimbangkan tubuhnya yang bergetar hebat. Rumah itu berserakan, seseorang telah melakukan sesuatu. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi sebenarnya. Setalah cukup menguasai tubuhnya Rike berlari ke arah Yunan, dilewatinya begitu saja tubuh terpaku itu. Pergi menuju kantor satpam. Ia menarik nafas dalam-dalam mengendalikan diri sekuat tenaga. Sampai di hadapan satpam, lidahnya belum bisa digunakan dengan normal. Suara tak mau keluar sesuai keinginannya.
“Ada yang bisa Bapak bantu Nak?” tanya satpam itu pada Rike.
“CC...” Nafas Rike tersendat.
“Apa?”
“CCTV,” kata Rike.
“CCTV?” Ulang satpam itu.
“Tolong tunjukkan CCTV,”
“Oh CCTV, kau ingin menanyakan tentang CCTV. Kami sedang memperbaikinya. Barusan seseorang dari perusahaan CCTV datang dan mengatakan harus melakukan beberapa perbaikan. Katanya itu tidak lama, mereka akan menyelesaikannya malam ini juga,”
Rike tak bisa berucap apa-apa lagi. Tidak ada situasi yang bisa lebih buruk dari semua ini. Tatapannya mulai kosong. Berapa kali ia ingin bertahan, tetap saja tak ada celah lagi. Ini saatnya menyerah. Rike kembali berjalan menuju tempat Yunan. Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Kenapa? Dimana kesalahannya? Mengapa ini bisa terjadi? Ini terlalu cepat. Siapa, siapa seseorang itu?
Ketika memasuki rumah Yunan, ruangan masih gelap. Hanya sedikit cahaya dari luar menampakkan seisi rumah yang berantakan. Rike memasukinya perlahan, mengambil kunci, menutup pintu, menyalakan lampu. Ia menatap seekor cupang berwarna putih berenang dengan elok. Hampir saja seperti terhipnotis untuk melupakan kejadian mengerikan hari ini. Tapi suara isak tangis menariknya pada kenyataan. Ia sedang tidak baik-baik saja. Tangis itu semakin meledak. Dilihatnya Yunan di dalam ruang pakaian seperti orang yang kehilangan kesadaran. Menangis seperti dirinya, belum lama tadi ketika di taman kota. Ini terasa begitu melelahkan. Untuk sekian kalinya di hari itu Rike terjatuh. Kali ini untuk yang terakhir.
Beberapa saat hanya ada suara tangis. Sekaligus terperosok dalam jurang kehampaan. Penyelasan memenuhi seisi ruangan. Emosi yang bergejolak dan saling melawan berakhir pada peristiwa yang sangat ironis. Sang pencuri yang gagal hanya bisa menatap korbannya yang kehilangan. Rike bahkan tak sanggup lagi untuk mengeluarkan air mata. Hanya ada rasa bersalah yang sangat luar biasa. Seharusnya sudah cukup untuk hari ini.
“Yu,” Suara Rike terpotong oleh ketakutannya sendiri. “Yunan,”
Yunan seperti tidak mendengar apa-apa. Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan.
“Yunan... YUNAN!” Teriak Rike.
Suara tangis itu menghilang. Yunan menghampiri Rike dan duduk di sebelahnya. Perhatiannya tertuju pada kunci rumahnya yang sekarang dipegang oleh Rike. Jelas bahwa Yunan menyimpan kunci itu di tas, tapi kunci itu sudah ada di pintu saat ia datang tadi. Sejauh yang bisa diingatnya, Hanya Rike yang bersamanya seharian ini.
“Apakah selama ini kamu merencanakannya?” Tanya Yunan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Mata berkaca-kaca, pipinya merah,dahinya berkerut kuat. Seperti merasakan sakit paling luar biasa.
Tak ada jawaban, ia kembali menangis, meraung dan menendang-nendang benda-benda yang berserakan di rumahnya. Uang Yunan yang mungkin jumlahnya bahkan lebih dari 100 juta itu lenyap. Sudah tidak ada di tempatnya. Seakan-akan kejadiannya sangat cepat. Tidak ada jejak, tidak ada pertolongan. Selain itu mereka juga tidak bisa meminta tolong. Seharusnya Yunan tak mudah mempercayai orang lain. Waktu berjalan begitu saja. Malam semakin larut. Keduanya kelelahan menghadapi kenyataan. Terdiam melihat semuanya hancur. Dua orang yang tadinya bicara banyak tentang mimpi, sekarang hanya bisa menerima bahwa itu adalah kekonyolan dalam hidup.
“Katakan dimana kau menyembunyikan uangku!” Yunan menatap Rike yang tidak lagi memiliki arti apa-apa untuknya. “Jangan hanya diam saja, CEPAT KATAKAN!”
“Aku tidak tahu,”