HALF MOON

Cahya Sinda
Chapter #18

Alasan untuk Jahat

Di depan rumah Yunan, Rike sudah mengetuk-ngetuk pintu sangat keras. Sambil membawa ikan cupang yang baru dibeli, ia kelihatan sedikit putus asa. Yunan tak kunjung membukakan pintu. Kemudian seorang tetangga kebetulan lewat dan mengatakan pada Rike jika pemilik apartemen itu sedang keluar. Rike memutuskan untuk menunggu. Tak lama setelah itu, saat hari mulai gelap, Yunan sudah datang.

Rike mencoba bersikap ramah dan menunjukkan ikan cupang yang sedang berenang anggun di dalam aquarium kecil. Dilihat dari sisi manapun Yunan masih sangat marah pada Rike. Tapi sepertinya Yunan tidak punya cukup tenaga untuk menuruti emosinya. Wajahnya lesu dan kusam, pakainya kotor, bahkan caranya berjalan tidak seperti biasanya. Yunan membuka pintu tanpa menghiraukan Rike yang ada di hadapannya. Saat hendak menutup pintu, Rike ikut masuk meski tidak diperbolehkan. Ia handal dalam urusan seperti itu.

Mengingat kejadian sebelumnya, Rike jelas tidak wajar untuk datang menemui Yunan dengan wajah ceria seperti itu. Tapi menurut Rike itu adalah yang terbaik. Lagi pula ia juga tidak sedang berusaha menjadi diri orang lain. Memang seperti itulah cara Rike menyelesaikan masalah. Yunan langsung berbaring di kasurnya. Kali ini Rike lebih menjaga diri untuk tidak berbuat seenaknya. Bagaimanapun ia masih merasakan penyesalan yang dalam. Ditatapnya Yunan yang sedikitpun tidak menganggapnya.

“Apa kau bekerja?” Rike melihat leher dan lengan Yunan dipenuhi oleh plester koyok. “Apa pekerjaanmu berat? Wah, tak kusangka kau ternyata orangnya sangat kuat,” Yunan masih diam. “Apa kau sudah makan Yunan, apa kau punya sesuatu untuk dimasak, aku bisa melakukannya untukmu. Sepertinya kau belum sempat makan setelah bekerja. Lihatlah, tubuhmu semakin kurus,” Yunan hanya terbaring di kasurnya. “Oh iya, aku membeli ikan cupang. Dia berwarna biru. Cantik kan. Meskipun punyamu lebih cantik,” Rike meletakkan ikan cupangnya tepat di sebelah ikan milik Yunan. “Lihatlah, mereka kelihatan mencolok. Betapa indahnya mereka setelah bersama.”

Yunan masih terdiam. Rike menghentikan basa-basinya. Ia mendekati Yunan yang tampak sangat letih. Yunan sudah mengalami banyak situasi yang sulit.

“Yunan, Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf!” Rike hanya bicara sendirian. “Apa kau akan terus seperti ini. Apa kau akan menyerah. Kau harus melanjutkan hidupmu Yunan. Aku semakin khawatir melihatmu seperti ini. Kau bahkan tidak ikut ujian!”

“Kau tak perlu mempedulikanku, pergilah!” Yunan mulai bicara.

“Yunan. Aku sudah menemukan siapa yang mencuri uangmu,”

“Bukankah itu kau!” Kata Yunan dingin, sedingin pula sikapnya.

Rike mengerutkan dahinya.

“Ayolah, kau tahu itu bukan akukan. Ada orang lain yang membawa uangmu sampai hari ini. Dan aku tahu cara mendapatkannya kembali,”

“Lupakanlah, aku tidak tertarik dengan ide konyolmu itu!” Yunan menanggapi Rike dengan penuh emosi.

“Hei, dengarkan aku dulu Yunan,” Rike mulai mengeluarkan senjata rahasianya. Ia menarik-narik tangan Yunan dan bersikap manja. “Mungkin tidak akan sebanyak uangmu, atau mungkin itu adalah barang yang berbeda, tapi kita bisa mencurinya,”

“Mencuri?! Apa kau sudah gila!” Yunan menarik tangannya.

“Kenapa? Mereka juga mencurinya darimu,”

“Kau benar! Dan itu semua dengan bantuanmu!”

“Wah, kau sangat kasar sekali. Beberapa hari ini kau semakin pintar bicara. Padahal sebelum ini kau hanya bersikap canggung ketika kita bertemu,” Rike mencoba menggoda.

Yunan tak mempedulika. Bagaimanapun ia memang sebelumnya seperti itu.

“Baiklah, baiklah. Aku tahu mereka sangat berbahaya, dan ini terdengar sangat tidak mungkin.Tapi bukankah yang sudah kau lakukan selama ini juga hal yang berbahaya. Tidak ada yang membayangkan bahwa BOSS dari semua bisnis gelap di sekolah ternyata didalangi oleh kutu buku sepertimu,”

“Berhentilah bicara omong kosong!”

“Ayolah Yunan, aku punya rencana yang bagus!”

“Bukankah sebelumnya rencanamu juga gagal!”

“Lalu apakah gagal sekali artinya harus berhenti?” Rike meneruskan kalimatnya, “Kita tidak akan melakukannya sendiri. Setelah mendapatkan uangnya, temanku akan membantu cara kita tetap aman. Ia sudah memastikan itu. Dan kita berdua tidak akan mendapatkan masalah,”

Yunan beranjak dari kasur. Ia memperhatikan badannya dan membuka plester koyok yang seharian dipakainya.

“Apa kau butuh bantuan?”

Yunan tak menjawab. Rike memang tak membutuhkan itu. Ia segera membantu Yunan. Dengan isyarat tanpa kata dari Yunan, Rike menarik baju bagian belakang dan mengambil beberapa koyok yang tertempel. Rike sangat menyesal. Dari satu persatu koyok yang ia lepas, seperti ada rasa sakit yang semakin ia rasakan. Dan pada keadaan Yunan yang seperti itu ia bahkan tidak mendapatkan kerugian apapun. Matanya mulai berkaca-kaca, berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.

Setelah selesai Yunan pergi mandi. Melihat Yunan kesulitan membuka bajunya itu, Rike semakin jatuh pada keburukan yang sudah ia lakukan. Penyesalah hanyalah penyesalan. Cerita selanjutnyalah yang harus diperbaiki.

“Yunan, masih ada satu koyok yang menempel di punggungmu!”

Yunan mencoba meraih koyok yang dimaksud.

“Bukan, di bawahnya, ya, sedikit ke kenan, kanan, ya ampun, itu kiri! Sebelah kanan Yunan,”

Rike segera melakukannya sendiri. Keduanya menjadi canggung hanya karena koyok terakhir.

Rike memperhatikan ikan cupang yang kini ada dua. Mereka tampak sangat dominan. Menjadi bagian paling indah di seisi ruangan itu. Meski hanya diletakkan keduanya di meja begitu saja sudah memberikan banyak pengaruh. Ikan itu mungkin akan berkelahi jika disatukan di satu wadah. Tapi justru menjadi indah ketika tetap berdua dengan wadah yang berbeda. Dengan begitu keduanya tidak menghancurkan diri mereka sendiri.

Mungkin Yunan dan Rike akan selalu bertengkar mulai hari ini. Mereka perlu wadah yang memisahkan mereka seperti ikan cupang itu agar tidak menghancurkan satu sama lain. Tapi mereka bukan ikan cupang. Mereka adalah manusia yang akan terus melakukan apa saja meskipun jatuh. Mereka egois dan selalu bertarung. Mereka akan terus bersama meskipun itu akan hancur. Tapi mereka tidak akan pernah peduli. Begitulah manusia menjalani kehidupannya, mencari apa yang mereka ingin tahu, melakukan kesalahan dan membereskannya, mengulangnya sampai mereka lupa alasan mengapa mereka seperti itu.

Yunan sudah selesai. Melihatnya hanya meggunakan handuk, entah kenapa Rike menjadi malu. Padahal ia sudah biasa dengan teman-temannya yang memang lebih banyak laki-lakinya. Yunan buru-buru masuk ruang pakaian untuk mengenakan pakaian. Cukup lama di dalam akhirnya keluar juga. Menuju dapur dan meraih beberapa alat masak. Rike yang melihatnya langsung beranjak.

“Kau mau masak? berikan padakku. Kau bersantailah,”

“Kau bisa masak?”

“Tentu saja, aku pernah ikut les memasak dan mendapatkan nilai terbaik saat lulus dari sana,”

“Kau pergi les memasak?”

“Ya, begitulah. Aku tidak habis pikir kenapa orang tuaku melakukannya padahal di rumah masakan keluarga selalu dibuat oleh pembantu. Ternyata aku baru tahu kalau itu akan berguna hari ini. Apa yang akan kita masak, sebutkan saja aku akan menyiapkannya untukmu!”

“Mie instan,”

“Hah! Apa kau serius?”

“Kau bisa mendapatkannya juga jika mau, aku memiliki beberapa persediaan,”

“Baiklah-baiklah, tidak masalah. Mie instan juga bisa dijadikan masakah spesial. Kita hanya butuh telor, sedikit sayuran, cabai, dan beberapa bawang. Dan sepertinya kita bisa memasukkan bahan lain yang cocok dimakan dengan mie instan. Serahkan padaku!”

Lihat selengkapnya