“Sedang apa kau?” Tanya Rike.
Yunan seperti tak mendengar. Rike kemudian mendekatinya dan melihat apa yang sedang dilakukan.
“Yunan! Apa yang kau lakukan?”
“Bukan urusanmu,”
Raut muka Rike jadi kecut. Ia sadar Yunan memang tak akan semudah itu lunak setelah apa yang dilakukannya. Rike tak peduli lagi dengan Yunan yang sibuk tidak jelas di meja. Masih di tempat yang sama, Ia beralih menatap ikan cupang yang sekarang jadi dua. Tadinya Rike ingin membeli yang warna merah, tapi saat melihat ikan itu secara langsung Rike jadi ingat banyak hal. Persetan dengan trauma, Rike bukanlah orang seperti itu. Hanya saja ketika melihat ikan cupang yang menggeliat berwarna merah selalu tampak kengerian misteri. Terlebih lagi Rike ingin meninggalkan cupang itu di rumah Yunan. Setidaknya harus warna yang lebih nyaman untuk laki-laki itu.
Rike tidak tahu banyak tentang Yunan. Jangankan warna, bahkan secara personal tidak ada hal yang bisa ia ketahui dari bocah di sampingnya itu. Benar-benar misterius. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya kok aneh. Kenapa aku seperti jadi terlibat banyak hal dengan anak ini. Aku bahkan tak bisa ingat sejak kapan aku mulai tertarik dengannya. Apa ini yang dibilang takdir? Ah, membosankan. Kalau begitu pasti ini adalah insting! Bukan aku yang terlibat dengannya, tapi dia! Rike menatap kesal pada Yunan yang tidak menyadarinya. Dia yang melibatkan dirinya padaku. Huh!
“Eghm...” Rike mencoba mendapatkan perhatian. “Yunan, apa menurutmu pertemuan kita bersama Bu Retno itu kebetulan?”
Yunan tak menjawab, tapi sepenuhnya ia mulai memperhatikan Rike degan wajah gugup.
“Maksudku, tidak mungkinkan semua terjadi begitu saja tanpa ada sebab?”
“He?! Apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan!”
Rike juga bingung dengan ucapannya sendiri. “Oke, sorry! Begini, eee, tapi kau harus janji, jangan emosi!”
“Apa, cepat katakan!”
“Mungkin saja kau akan bertanya kenapa kesialan ini terjadikan?”
“Aku tak perlu bertanya. Aku sudah punya jawabannnya,”
Rike hampir kehilangan semua semangatnya. Bagaimanapun kata-kata Yunan itu memang benar. Mungkin baginya ini adalah omong kosong, meski begitu Rike ingin memuaskan keraguannya pada dirinya sendiri.
“Oke, aku terima itu. Tapi aku juga perlu membela diri. Pikirkan, jika saja kau tak datang membantuku mengerjakan resume dari Bu Retno, maka semua ini tidak akan terjadi. Tiba-tiba kau justru memilih datang dan menarik perhatianku,”
“Apa?! Aku manarik perhatianmu?”
“Iyalah! Jadi menurutku, kau, yang entah dengan dorongan apa, tanpa sadar melibatkan dirimu sendiri pada kehidupanku. Dan semua kejadian ini...” kalimat Rike terpotong.
“Jelas-jelas kau yang telah menarik perhatianku!” Yunan mengatakannya dengan tegas. “Apa kau sedang pura-pura bodoh?”
“Apa!” Rike mulai emosi. “Aku ini Rike tahu, number one!” Katanya sambil mendongakkan kepala.
“Ya, kau benar. Kau adalah murid terpintar di sekolah. Jelas karena itulah kau sudah membuatku tertarik padamu!”
“Wah! Apa kau tidak bisa membuat alasan lain, dengar ya! Kau sendiri yang bercerita padaku tentang kehidupanmu dan membiayai sendiri semuanya. Tentu saja itu membuatku sangat terkesan! Kau bahkan adalah orang yang luar biasa! Jadi tetap saja, kau yang manarik perhatianku sampai semua ini terjadi,”
“Baiklah! Kau bukan hanya menjadi yang terpintar, kau bergaul dengan banyak teman di sekolah, juga dengan senior, tidak ada yang berani mengganggumu. Kau bisa melakukan apa saja, bahkan kau suka dengan olah raga, bermain sepak bola, lari, Voly, Basket, semuanya kau lakukan dengan sempurna. Itu ada dalam dirimu. Siapa yang tidak akan tertarik padamu, Huh?!”
Yunan ikut emosi, janji tinggalah janji yang tak berarti. Rike bahkan tidak bisa mengalah dalam pertarungan aneh itu.
“Kau hidup sendirian tapi tetap sekolah. nilaimu juga sempurna. Kau bekerja dengan banyak resiko. Kau pemberani, punya banyak anak buah, penghasilan yang sangat luar biasa. Kau bertanggung jawab. Bahkan kau punya hewan peliharaan yang lucu. Aku juga ingin memilikinya!”
“Jadi semua ini adalah salahku karena membuatmu tertarik padaku?” kata Yunan. “Lalu bagaimana denganmu sendiri, benarkah kau tertarik, aku tidak punya barang mewah, pakaianku berantakan begitu pula dengan wajahku, orang menyebutku kutu buku yang selalu menyembunyikan wajahnya!”
“Kata siapa?! Wajahmu saja yang tak pernah tampak jelas di hadapan mereka, kau tampan dan keren! Aku selalu memperhatikan wajahmu selama ini!”
“Aku juga selalu memperhatikanmu. Kau cantik!”
Belum ada yang kelelahan. Nafas mereka berpacu penuh adrenalin. Tapi keduanya berhenti, diam cukup lama. Kalimat-kalimat barusan tidak seharusnya keluar. Mereka hanyalah anak-anak. Kehilangan tumpuan, sandaran, dan kepercayaan. Anak-anak yang lelah, yang ingin diperhatikan dan mendapatkan belaian kasih sayang. Kasih sayang seorang orang tua kepada anaknya hanyalah asumsi. Belum jadi kasih sayang yang sepenuhnya benar, sampai kedua belah pihak sepakat dan divalidasi oleh rasa bahagia itu sendiri.
Seberapa besar logika yang dimiliki, kesepian hidup mereka hanya bisa diobati dengan perasaan. Tak bisa begitu saja mendapatkan kasih sayang meski memiliki orang tua. Berupaya mencari sendiri kasih sayang itu dan menjadikannya sebuah impian. Ini bukanlah takdir ataupun kebetulan. Bukan kejadian yang direncanakan atau juga kecelakaan. Pertemuan mereka adalah apa yang keduanya cari selama ini. Manusia tidak akan pernah sadar ketika kejadian yang mereka alami sekarang adalah doa-doa mereka dari masa lalu yang sudah terkabul.
Rike masih di dekat meja, begitu pula Yunan yang tak berpindah duduknya.
“Apa kau tidak pulang?!” Kata Yunan dengan gugup dan canggung.
“Aku bisa pulang lebih malam,”
“Apa orang tuamu tidak akan menghubungimu?”
“Aku sudah punya alasan. Lagi pula mereka sedang ada perjalanan bisnis,”
“Alasan apa?”
“Karantina persiapan class meeting”
Keduanya kembali diam, tapi bukan berarti semua baik-baik saja. Mereka kini telah sepakat untuk bergabung melakukan pencurian yang bahkan belum direncanakan. Hanya bermodalkan lokasi tanpa tahu apapun.
“Apa kau yakin dengan apa yang akan kita lakukan nanti?” Tanya Yunan.
“Tentang apa?”
“Pencurian,”