Yunan mengunjungi rumah Gunawan, namun di sana ia hanya menemukan bibi dan paman Gunawan. Sudah beberapa hari Gunawan tidak pulang. Hal itu sering terjadi, mereka tidak peduli dengan kebiasan itu. Gunawan bukanlah seseorang yang bisa mereka pertahankan. Mereka punya keluarga sendiri. Menghidupi anak yatim piatu hanyalah beban bagi mereka. Syukur jika Gunawan bisa hidup mandiri dan tidak meyusahkan. Yunan juga tidak peduli masalah pribadi seperti itu, ia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya tidak wajar untuk dirinya.
Akhirnya Yunan pulang. Barulah dalam keputusasaannya itu ia kembali merasakan sakit. Sesampainya di rumah, ternyata Gunawan sudah ada di depan pintu. Ia menunggu Yunan. Sambil terus menatap, Yunan menguatkan pertahanannya. Tapi apartemen itu bukanlah tempat untuk berkelahi. Semua orang pasti akan keluar untuk melihat apa yang terjadi dan memarahi keduanya. Perlahan didekatinya Gunawan yang terduduk lengah.
“Kau sudah datang, BOSS!”
Gunawan berhasil menghancurkan semua pertahanan Yunan. Termasuk mentalnya untuk terus bersembunyi. Tidak masalah jika seluruh isi sekolah mengenalnya, tapi jika identitasnya sebagai BOSS juga ketahuan, ini adalah masalah besar. Gunawan berdiri dan menunggu. Ia mengisyaratkan diri sebagai tamu. Tidak menunjukkan hasrat pertarungan sama sekali. Tanpa mengucapkan kata-kata, Yunan membuka pintu rumahnya dan masuk bersama Gunawan yang mengikutinya.
“Wah! Jadi kau tinggal di tempat seperti ini? Ini seperti tempat tinggal Pak Han, hanya saja rumah orang tua itu lebih mengerikan!”
Sekali lagi Yunan dilempari potongan puzzle yang mengejutkan.
“Sebaiknya kau bersihkan tubuhmu!” Kata Gunawan.
Entah kenapa Yunan menunduk menuruti semua kata-kata Gunawan. Atau mungkin sikap hormat pada seorang senior sudah terpupuk di dalam dirinya. Menunggu di luar balkon, melihat langit yang mulai kehilangan warna merahnya, Gunawan tidak luput sedikitpun dari pandangan Yunan. Ia hanya cuci muka dan kemudian mengganti pakaian. Mengambil beberapa obat yang tadi dibelinya dan mengobati lukanya. Melihat itu, Gunawan mendekat.
“Apa penerangan di sini memang selalu menyedihkan?” Tanya Gunawan dengan tenang. “Kau harus segera hidup di tempat yang lebih terang!”
“Maaf, tapi kenapa kau ke tempat ini?” Tanya Yunan sangat pelan.
“Bukankah seharusnya kau ingin bertanya sesuatu padaku?”
Yunan terperangah.
“Semuanya sudah berakhir, kau tidak akan menjadi BOSS lagi!”
Yunan tak membalas.
“Aku sudah tahu semuanya. Sebaiknya persiapkan dirimu dan dengarlah baik-baik!”
“Maaf,” kata Yunan ketakutan.
“Ya, sebaiknya memang kau meminta maaf!” Gunawan duduk di kasur. “Ada terlalu banyak kebetulan yang terjadi dan semuanya terhubung padamu. Kau selama ini menjadi orang yang paling tahu segalanya. Tapi sekarang justru kau orang yang paling terlambat!”
Yunan meenunduk dan tak berani menatap Gunawan yang sepertinya benar-benar tahu segalanya.
“BOSS, Pak Han, Aku dan yang lain, juga Rike!”
Yunan tak mengerti mengapa nama Rike disebut juga oleh Gunawan.
“Rike?!”
“Aku bertemu dengannya tadi pagi,”
“Saat dia berangkat sekolah?”
“Bukan, Pagi yang lebih pagi,” Yunan menatap Gunawan penuh rasa penasaran. “Seharusnya bukan Rike yang datang ke tempat itu, tapi kau! Sepertinya hidupmu sangat menyedihkan belakangan ini, sampai-sampai kau tak sadar telah kehilangan sesuatu yang paling penting,”
Yunan segera mengambil tasnya mencari ponsel genggam. Sejak kemarin ia memang tidak memperhatikan ponselnya sama sekali. Di dalam tas itu ia hanya menemukan ponsel pribadinya. Seharusnya ponsel kerja miliknya juga ada di sana. Kemudian ia beranjak dan membuka laci di mejanya. Ponsel itu juga tidak ada.
“Rike mengambilnya!” Sergah Gunawan.
“Apa?!” Yunan tampak Gelisah.
“Aku menghubungi BOSS semalam, tapi tak ada jawaban. Kemudian BOSS mengirimiku pesan dan bertanya apa yang terjadi. Aku memberikannya lokasi. Itu adalah ponsel milik Pak Han yang aku gunakan. Selama ini Pak Han mungkin sudah tahu bahwa BOSS adalah kau! Ada banyak fotomu di ponsel miliknya itu. Hanya ada fotomu, dan yang terakhir adalah gambar ketika kau dan Rike membeli minuman keras padaku tempo hari. Karena itulah aku menghubungimu, BOSS!” Gunawan menjadi geram.
“Tapi senior, aku bahkan tidak tahu jika ada panggilan dari Pak Han, dan ....”
“Saat itu aku memintamu untuk datang setelah aku mengirim lokasi. Ternyata benar datang, hanya saja bukan kau tapi Rike!”
“Kenapa Rike menemuimu? Apa yang terjadi?”
“Aku tak bisa menjelaskan dari mana semua dimulai, kemarin Pak Han terluka parah! Tadinya aku ingin meminta pertanggungjawabanmu!”
“Kenapa, apa yang terjadi dengan Pak Han!”
“Apa yang dilakukan Pak Han tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, tapi kau sebagai BOSS tak bisa untuk tidak disalahkan. Pak Han pergi balas dendam pada preman-preman itu. semua terjadi sangat cepat. Saat aku mengejarnya semua sudah selesai. Aku sempat melihat preman dengan tato itu menusuk perut Pak Han dengan pisau ketika ia lengah berurusan dengan bajingan bernama Baska!” Gunawan meneteskan air mata. “Aku hanya berdiri ketakutan melihat Pak Han menghabisi mereka satu-satu sampai terkapar di lantai. Itu adalah Pak Han yang berbeda. Ia sangat mengerikan,”
Keduanya diam sejenak. Yunan sangat hati-hati melempar kalimat.
“Bagaimana Pak Han?”
“Polisi,”
“Polisi?! Kenapa?” Yunan panik sekarang .
“Pak Han terluka parah, aku melihat darah dimana-mana. Kuberanikan menghampiri Pak Han yang tubuhnya penuh darah itu. Kau tahu apa yang dikatakannya padaku?”
“Apa yang dikatakan Pak Han?”
“Aku harus istirahat sebentar, ia mengatakannya sambil tersenyum padaku. Aku hanya bisa menangis melihat semua itu. Kemudian ia memberiku ponsel dan ia menyebutkan namamu. Katanya kau adalah BOSS. Belum sampai situ saja, yang paling konyol adalah Pak Han memintaku untuk memastikan kau baik-baik saja!” Gunawan menghentikan kalimatnya dengan bibir bergetar itu. “Saat itulah aku menghubungimu, dan kemudian Rike datang. Itu adalah malam yang sangat panjang. Aku benar-benar hampir gila. Semuanya membicarakanmu. Mereka semua ingin menyelamatkanmu!”
“Kenapa, kenapa, mereka tak perlu melakukan itu. aku bisa terus bersembunyi. Tak ada yang tahu sampai hari ini,”
“Justru itu yang menjengkelkan. Kenapa mereka harus membantu bajingan sepertimu yang bahkan baik-baik saja!” Gunawan mendongakkan wajahnya pada Yunan. “Rike mengatakan semuanya hari itu. Baska yang sudah dihabisi oleh Pak Han, adalah orang yang sama yang sudah mencuri uang darimu!”
“Apa?!”
“Itulah yang aku maksud kebetulan, Aku tak tahu apa-apa sama sekali. Itu bukanlah situasi untukku berpikir jernih. Pak Han tak ingin dibawa ke rumah sakit. Rike mengatakan harus mencari uang di tempat itu. Aku hanya menuruti perintah Pak Han untuk membantu mencari uangmu. Kami mencari ke semua tempat tapi uang itu tidak ada. Rike seperti orang yang kerasukan setan. Ia benar-benar gila. Meneriaki seseorang yang aku pikir itu adalah Baska dalam keadaan sekarat berlumuran darah. Memukulinya berulang-ulang sampai pakainya juga ikut penuh darah. Kupikir orang itu akan mati. Sepertinya uang itu memang tidak pernah ada di tempat itu. Dan tiba-tiba terdengar sirine polisi dari luar!”
Tubuh Yunan bergetar hebat. Polisi terlibat dan itu buka pertanda baik sama sekali.
“Bagaimanapun, aku lega. Setidaknya Pak Han akan selamat. Nyatanya hanya aku yang merasakan itu. Sekali lagi, dua orang aneh itu bahkan tidak mengkhawatirkan diri mereka sendiri. Mereka justru mengkhawatirkanmu. Rike berdiri, menghampiri Pak Han dan aku. Ia berkata akan menggantikan posisimu sebagai BOSS!”
Kali ini Yunan tidak bisa lagi menahan getaran tubuhnya. Ia hanya lemas menerima kisah yang didengarnya.
“Kami bisa saja pergi dari tempat itu secepatnya,” lanjut Gunawan. “Tapi aku tak mungkin membiarkan Pak Han begitu saja. ia harus segera mendapatkan pertolongan. Mereka malah memintaku untuk pergi. Entah apa yang mereka rencanakan ketika berkata bahwa itu adalah kesempatan yang bagus,”
Gunawan selesai dengan ceritanya. Ia beranjak keluar dari rumah Yunan. Sementara itu Yunan masih tidak bisa mengucapkan apa-apa.
“Yunan!” Suara Gunawan sedikit menyadarkannya. “Ini adalah waktunya untuk berhenti! Sebaiknya kau jangan melakukan yang macam-macam. Meski aku tak bisa menerima semua ini, tapi inilah yang bisa aku lakukan untuk permintaan terakhir Pak Han. Untuk Rike, kau tak perlu khawatir. Dia tidak akan dipenjara. Setidaknya itulah yang dia katakan,”