Lari adalah hal yang paling Isabela senangi sepanjang hidupnya. Sampai ia bertemu Nadim Bazigha, dan Arnia Benava. Segalanya terasa menjadi rumit, seperti garis pada lintasan lari yang tiba-tiba memudar, dan tak lagi tampak.
Run Run.
***
"Udah mau jam tujuh, tapi Vareo masih aja belum kelar?" gerutu seorang cewek dengan name tag Isabela Cressida.
Entah sudah berapa kali Isabela, secara berulang-ulang memeriksa jam di tangannya, lalu menatap pintu rumah yang tak kunjung terbuka.
Isabela mendadak cemas, dia tak bisa terlambat di hari pertamanya masuk sekolah, setelah MPLS usai. Ini akan membuatnya tampak buruk, tidak bisa. Dia alergi dengan kata-kata terlambat.
Akhirnya pintu rumah besar itu terbuka, dan seorang cowok dengan seragam SMA, yang sama dengan milik Isabela keluar dari sana. Santainya menggendong ransel sembari menyugar rambut ke belakang.
"Dandan dulu lo?" Itulah kata-kata pertama yang menyambut si cowok.
Navareo Ignan dengan santai berjalan melewati Isabela, lalu masuk ke mobil, yang memang sejak tadi telah terparkir.
"Dari pada marah-marah, mending lo masuk, kita bisa telat, Sa," ucap si cowok seolah-olah Isabela akan menjadi penyebab mereka terlambat ke sekolah.
Decihan terdengar dari mulut Isabela, tetapi cewek itu segera masuk ke mobil. Bersebelahan dengan Vareo, sepupunya di bangku penumpang.
Entah kemalangan macam apa yang tengah menimpa Isabela pagi ini. Sudah jam tujuh lewat, tetapi tiba-tiba ban mobil bocor. Dan malangnya lagi angkot pasti sudah tak ada yang lewat ke arah sekolah. Oh tunggu ... bus merah dengan kondisi mesin butut itu, pasti masih belum lewat.
"Ini semua gara-gara lo, Vareo!" Tak tahan lagi Isabela langsung mengomel pada Vareo, yang tampak santai saja.
"Telat sehari nggak bakal bikin lo dikeluarin dari sekolah, Isabela!" sahut Vareo santai sekali, bahkan kini cowok itu asik scrol sosial media.
Isabela tak ingin menodai jiwa disiplinnya. Maka segera ia berpamitan pada Pak Imin, sopir pribadi keluarganya. Isabela juga mengatakan kalau ia akan naik bus merah saja. Dan Pak Imin yang tak punya ide lain, berakhir menganggukkan kepala dengan rasa bersalah. Tetap saja, bagi Isabela yang seharusnya minta maaf adalah Vareo, bukannya Pak Imin.
Sebuah bus merah dengan kondisi cat yang sudah memudar, knalpot berasap hitam pekat, dan mesin berisik berbunyi krodak ... krodak akhirnya tiba di depan mereka. Bus itu berhenti, sayangnya semua tempat duduk telah terisi. Dan satu-satunya yang bisa Isabela lakukan adalah berdiri di dekat pintu bus. Ini tentu saja berbahaya, tapi dia tak bisa terlambat hari ini.