Runtuhnya Prinsip Sang Penguasa Rusia

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Prinsip Tanpa Hati

Malam itu, di ruang bawah tanah markas Bratva Sokolov, udara terasa pekat bercampur bau besi karatan, darah, dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Cahaya lampu neon berkedip-kedip lemah, seolah enggan menerangi kenyataan kelam yang terjadi di sana.

Di tengah ruangan, Mikhail Romanovich Sokolov berdiri tegak dengan setelan hitam yang tetap rapi meski ujung sepatunya sudah terendam genangan darah. Wajahnya datar dan dingin, tak ada sedikit pun emosi yang tergambar di balik matanya yang abu-abu dan tajam.

Di hadapannya, seorang pria berusia sekitar 50 tahun terikat erat pada kursi besi yang kokoh. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka sayatan; darah terus mengalir dari lengan, dada, dan pipinya. Pria itu menggigil hebat, bukan semata karena dingin, melainkan karena rasa sakit yang menyayat setiap serabut tubuhnya. Namanya Alexei Smirnov.

Di sisi kanan ruangan berdiri Dmitri Vladimirov, sepupu sekaligus tangan kanan Mikhail. Pria berambut cokelat keemasan dengan rahang tegas itu hanya diam menyaksikan, tangannya terlipat di dada tanpa ekspresi apa pun.

"Sepuluh tahun kau bekerja untukku…" suara Mikhail terdengar rendah dan datar, namun setajam pisau kecil yang ia putar di jari-jarinya. "…dan sepuluh detik saja sudah cukup untuk menghancurkan semuanya."

Alexei mengerang, suaranya serak dan bergetar hebat. "Mikha… aku… aku tidak bermaksud—"

SRAAAT!

Pisau itu melesat cepat dan membelah kulit bahunya tanpa ragu sedikit pun. Jeritan Alexei menggema memenuhi ruang bawah tanah yang sunyi.

Mikhail tak berkedip sedikit pun. "Jangan panggil aku Mikha. Kau sudah tidak punya hak untuk itu."

Dmitri melirik sekilas, lalu kembali diam. Ia sudah terbiasa melihat sisi paling gelap sepupunya. Mikhail Romanovich Sokolov bukan pemimpin biasa, juga bukan sekadar bos mafia. Ia adalah gabungan antara api yang membakar dan badai yang menghancurkan dalam satu tubuh. Hidup telah mengajarkannya untuk tidak menggunakan hati, sebab baginya, hati adalah titik lemah yang paling mematikan.

"Kau menjual data pelabuhan Timur," lanjut Mikhail dengan nada tenang, seolah sedang membaca laporan rutin. "Data rute pengiriman senjata langka, lokasi penyimpanan misil jarak pendek, serta catatan transaksi dengan mitra di Asia."

Ia menunduk mendekat, menatap tepat ke mata Alexei yang sudah dipenuhi ketakutan. "Semua itu kau berikan pada Klan Volkov Bratva. Klan yang berani menembak mati dua puluh orang anak buahku, membakar gudang penyimpanan di utara, dan berambisi merebut wilayah Sankt Peterburg."

Mikhail mengusap darah yang menempel di bilah pisau dengan ibu jarinya, lalu menyentuh pipi Alexei perlahan dengan ujung senjatanya itu — gerakan yang terasa seperti belaian, namun justru membuat bulu kuduk merinding.

"Kau kira aku tidak akan tahu?"

Alexei menangis tersedu, tubuhnya bergetar tak terkendali. "Aku… aku tidak punya pilihan… Mereka mengancam keluargaku… Istri dan anakku…"

SRAAAT!

Pisau itu kembali turun, kali ini meluncur dari dada hingga ke perut. Jeritan kesakitan Alexei kembali memecah keheningan.

"Keluargamu?" Mikhail mendekatkan wajahnya, suaranya berubah menjadi bisikan yang sedingin es. "Dan kau rela menukar nyawa dua puluh orang yang sudah mempercayaimu… demi keselamatan keluarga kecilmu sendiri?" Ia menyeringai tipis, tanpa sedikit pun rasa iba. "Lalu kau pikir keluargamu akan tetap hidup setelah pengkhianatan ini kau lakukan?"

Tangisan Alexei terhenti seketika. Matanya membulat terkejut. Pada detik itu juga ia sadar: ia bukan hanya akan mati, namun orang-orang yang dicintainya pun sudah dicoret dari daftar kehidupan.

Dmitri akhirnya bersuara pelan, memecah suasana yang mencekam. "Mikha… cukup."

Mikhail hanya menoleh sekilas menatap sepupunya. "Belum."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat hawa ruangan kembali terasa membeku.

Tanpa peringatan, ia menyayat lengan Alexei, lalu menarik pisau itu turun secara perlahan. Setiap sentimeter dibuat terasa menyiksa, setiap gerakan dihitung agar rasa sakitnya mencapai puncaknya. Saat pisau berhenti, tubuh Alexei sudah sepenuhnya berlumuran darah, napasnya tersengal-sengal, dan kesadarannya mulai melayang.

Namun Mikhail belum selesai.

"Sirami dengan air garam," perintahnya dengan nada datar dan dingin.

Dua orang anak buah masuk membawa ember besar berisi cairan itu. Alexei meronta lemah sambil menangis, ketakutan tergambar jelas di seluruh wajahnya. "Jangan… tolong… ampun…"

Segera setelah itu, seember air garam dituangkan membasahi seluruh luka di tubuhnya. Jeritan kesakitannya memantul berulang kali di dinding beton yang keras.

Saat Alexei akhirnya lemas dan nyaris pingsan, Mikhail melangkah mundur, lalu menyerahkan pisau berdarah itu kepada salah satu anak buahnya. Ia melepas sarung tangan kulitnya dan melemparkannya begitu saja ke lantai yang basah.

"Di rumah ini tidak ada tempat untuk tikus pengkhianat," ujarnya sambil menatap tubuh Alexei tanpa belas kasihan. "Masukkan ke dalam peti."

Dua orang lainnya mengangkat tubuh Alexei yang hampir tak bernyawa itu dan memasukkannya ke dalam peti kayu yang panjang. Mikhail mendekat sekali lagi, menatapnya untuk terakhir kalinya.

"Kirimkan ke markas Klan Volkov Bratva. Letakkan petinya tepat di depan pintu utama mereka."

Anak buahnya mengangguk patuh. Peti itu ditutup dengan bunyi BRAK yang keras, lalu dibawa keluar ruangan.

Dmitri menatap sepupunya. "Apakah kau sudah puas?"

Mikhail menatap noda darah yang melebar di lantai. "Belum."

Ia berjalan menuju pintu keluar. "Ini baru permulaan."

Lihat selengkapnya