Rute Alternatif : Perjalanan Alin untuk menemukan kembali Jati diri yang pupus

Lyneetra Studio
Chapter #2

Episode 2 : Motor Butut

Pagi itu matahari datang secara perlahan di sepanjang jalan yang Alin lewati.

Langit mulai berubah warna, dari biru pucat menjadi lebih hangat. Cahaya matahari muncul dari balik pepohonan, jatuh menyilang ke aspal yang masih sedikit basah oleh embun.

Motor itu terus melaju.

Suara mesinnya stabil. Tidak halus seperti motor baru, tapi cukup untuk menjaga ritme.

Alin duduk tegak, kedua tangannya menggenggam setang dengan lebih mantap dibanding beberapa menit pertama tadi.

Angin pagi menyentuh wajahnya.

Dingin.

Segar.

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam

Pikirannya terasa… tidak penuh.

Tidak kosong juga.

Lebih seperti ruang yang perlahan terbuka.

Ia tidak tahu sudah berapa jauh.

Ia juga tidak benar-benar peduli.

Jalan di depannya memanjang, sedikit berkelok, dengan rumah-rumah yang mulai jarang.

Kota perlahan tertinggal.

Digantikan oleh sawah, Pohon, Dan ruang yang lebih luas.

Alin menarik napas dalam.

Aroma tanah basah dan udara pagi masuk bersamaan.

Ia menghembuskannya perlahan.

Matanya fokus ke depan.

Tidak ada tujuan.

Tapi arah itu ada.

Dan untuk sekarang

Itu cukup.

Beberapa kilometer kemudian, Alin memperlambat laju motor.

Sebuah persimpangan kecil muncul di depannya.

Tidak besar.

Hanya dua arah.

Ke kiri.

Ke kanan.

Tidak ada papan penunjuk.

Hanya jalan yang sama-sama terbuka.

Alin berhenti.

Kakinya turun ke tanah.

Mesin tetap menyala.

Getarannya terasa melalui tubuh motor.

Ia menatap ke kiri.

Jalan itu terlihat lebih ramai.

Beberapa kendaraan lewat.

Lebih jelas arahnya.

Lalu ke kanan.

Lebih sepi.

Sedikit menanjak.

Pohon-pohon terlihat lebih rapat.

Alin menatap lurus ke depan.

Tangannya masih di setang.

Jari-jarinya bergerak sedikit, mengikuti getaran mesin.

Ia mengingat sesuatu.

"Bukan selalu yang lurus itu yang harus diambil."

Suara ayahnya muncul begitu saja.

Jelas.

Dekat.

Alin menghembuskan napas kecil.

Sudut bibirnya bergerak tipis.

Lalu tanpa banyak berpikir

Ia memutar setang.

Ke kanan.

Motor itu bergerak lagi.

Masuk ke jalan yang lebih sepi.

Lebih sempit.

Lebih… tidak pasti.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Matahari sudah naik lebih tinggi.

Udara mulai hangat.

Jalan yang tadi sempit perlahan melebar lagi, bergabung dengan jalan yang lebih besar.

Beberapa truk lewat.

Motor lain menyusul dari belakang.

Dunia mulai terasa lebih ramai.

Alin menepi.

Pelan.

Ia mematikan mesin.

Suara itu hilang seketika.

Digantikan oleh suara angin dan kendaraan yang lewat.

Ia turun dari motor.

Melepas helm.

Rambutnya sedikit berantakan, jatuh ke wajahnya.

Ia menyibakkannya pelan.

Matanya menyapu sekitar.

Warung kecil di pinggir jalan.

Beberapa orang duduk di bangku kayu.

Seorang bapak sedang menuang kopi.

Alin berdiri sebentar.

Merasa asing.

Bukan karena tempatnya.

Tapi karena dirinya sendiri yang sekarang ada di sini.

Sendiri.

Ia menarik napas.

Lalu melangkah ke warung itu.

Langkahnya sedikit ragu di awal.

Lalu lebih stabil.

"Teh hangat, Bu," katanya pelan.

Penjual warung mengangguk.

"Iya, Neng. Duduk aja."

Alin duduk di bangku kayu.

Tasnya ia letakkan di samping.

Tangannya bertumpu di meja.

Permukaan kayunya kasar.

Nyata.

Ia menatap jalan di depannya.

Motor-motor lewat.

Orang-orang berbicara.

Semua terasa berjalan seperti biasa.

Dan di tengah semua itu, Alin merasa kecil.

Bukan dalam arti buruk.

Lebih seperti… bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Teh hangat datang.

Uapnya naik pelan.

Alin memegang gelas itu.

Hangatnya menyebar ke telapak tangannya.

Ia menyesap sedikit.

Rasanya sederhana.

Tapi cukup.

Ia menatap ke arah motornya.

Terparkir tidak jauh dari situ.

Catnya kusam.

Beberapa bagian terlihat tua.

Tapi tetap berdiri.

Tetap berjalan.

Seperti dirinya sekarang.

Alin menunduk sedikit.

Tangannya memutar gelas perlahan.

"Aku beneran jalan, ya…"

Kalimat itu keluar pelan.

Hampir seperti bisikan.

Ia mengangkat kepala lagi.

Menatap jalan.

Lebih lama kali ini.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah

Rasa itu datang, Sepenuhnya, Sendiri.

Tidak ada ibu, Tidak ada teman.

Tidak ada siapa-siapa yang mengenalnya.

Hanya dia, dan jalan.

Alin menarik napas dalam.

Ada sedikit rasa takut.

Tipis.

Tapi nyata.

Namun di balik itu

Ada sesuatu yang lain.

Lebih besar & Lebih kuat.

Sebuah Kebebasan.

Ia menyesap tehnya lagi.

Dengan lebih tenang.

Matanya tidak lagi ragu.

Dan meski ia belum tahu ke mana arah ini akan membawanya

Ia mulai percaya satu hal, Perjalanan ini… miliknya.

Setelah beberapa saat, teh di gelas itu tinggal setengah.

Uapnya sudah hilang.

Hangatnya mulai memudar.

Alin masih duduk di tempat yang sama, tapi pikirannya perlahan bergerak.

Matanya kembali ke arah motor itu.

Terparkir di pinggir jalan, sedikit miring mengikuti tanah yang tidak rata.

Terlihat tua.

Biasa saja.

Mungkin bagi orang lain, itu hanya motor lama.

Tapi bagi Alin..

Ada sesuatu di sana.

Ia berdiri.

Mengambil gelas itu, menghabiskan sisanya dalam satu tegukan pelan.

"Berapa, Bu?" tanyanya.

"Lima ribu aja."

Alin mengangguk, mengeluarkan uang dari dompet.

Setelah itu, ia melangkah kembali ke motornya.

Tangannya menyentuh jok.

Lalu turun ke sisi bodi.

Jari-jarinya mengikuti goresan kecil di cat yang sudah pudar.

Ia berhenti di satu titik.

Dekat tangki.

Ada bekas lecet panjang.

Sudah lama.

Ia ingat itu.

Dan tanpa sadar, ingatannya tertarik lagi.

Sore hari.

Langit oranye.

Alin kecil berdiri di depan rumah, tangannya memegang setang motor itu yang saat itu masih terlihat jauh lebih “hidup”.

"Ayo, coba pelan-pelan."

Suara ayahnya datang dari belakang.

Tenang.

Mendorong, tapi tidak memaksa.

"Aku takut, Pak…"

Alin menoleh sedikit.

Wajahnya ragu.

Kakinya masih menapak kuat di tanah.

Ayahnya tersenyum.

"Takut itu biasa."

Ia melangkah mendekat.

Tangannya memegang bagian belakang motor, menahan agar tetap seimbang.

"Tapi kamu nggak akan tahu bisa atau nggak kalau nggak mulai."

Alin menelan ludah.

Matanya kembali ke depan.

Tangannya menggenggam setang lebih erat.

"Pelan aja. Bapak di sini."

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup.

Alin menarik napas.

Lalu memutar gas sedikit.

Motor bergerak.

Pelan.

Terlalu pelan.

Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

"Bener, terus…"

Suara ayahnya tetap ada di belakang.

Menjaga.

Mengikuti.

Alin mulai tersenyum sedikit.

Rasa takut itu masih ada.

Tapi di bawahnya

Ada rasa lain.

Berani.

Beberapa detik berlalu.

Lalu..

"Pak?"

Ia menoleh sedikit.

Tidak ada.

Ayahnya sudah melepas pegangan sejak tadi.

Dan Alin baru menyadarinya sekarang.

Motor itu tetap berjalan.

Dengan dia sendiri.

"Pak!"

Suaranya panik.

Tangannya sedikit goyah.

Motor oleng.

Lalu,..Bruk...

Motor jatuh ke samping.

Tidak keras.

Tapi cukup membuatnya terkejut.

Alin diam beberapa detik.

Lalu duduk di tanah.

Matanya berkaca-kaca.

Ayahnya datang mendekat, menahan tawa kecil.

"Bisa, kan?"

Alin menatapnya, sedikit kesal.

"Aku jatuh."

Ayahnya mengangguk.

"Iya. Tapi tadi kamu jalan sendiri."

Kalimat itu membuat Alin berhenti.

Ia memikirkan itu.

Pelan.

Lalu ayahnya mengulurkan tangan.

"Ayo, bangun lagi."

Alin menatap tangan itu.

Lalu menggenggamnya.

Berdiri.

Kembali ke sekarang.

Alin menarik napas.

Tangannya masih berada di bekas lecet itu.

Ia tersenyum kecil.

Tipis.

"…aku masih bisa jalan sendiri."

Kalimat itu keluar pelan.

Lebih seperti pengakuan daripada keyakinan.

Tapi cukup.

Ia naik ke motor lagi.

Memasang helm.

Tangannya bergerak otomatis sekarang.

Lebih terbiasa.

Lebih yakin.

Kunci diputar.

Mesin menyala.

Getaran itu kembali terasa.

Kali ini, Lebih akrab.

Alin menoleh ke jalan.

Kendaraan lewat.

Dunia bergerak.

Dan ia siap ikut bergerak lagi.

Tangannya memutar gas.

Motor melaju.

Meninggalkan warung kecil itu.

Masuk kembali ke jalan.

Angin siang menyambut.

Lebih hangat sekarang.

Langit sudah cerah.

Dan jalan di depannya terbuka lebih jauh.

Alin melaju dengan kecepatan yang lebih stabil.

Tubuhnya mulai mengikuti ritme.

Tidak lagi kaku seperti awal.

Ia menyalip satu motor.

Pelan.

Terukur.

Lalu kembali ke jalurnya.

Matanya fokus.

Tapi pikirannya, Lebih ringan.

Kenangan tadi masih ada.

Tapi tidak lagi terasa berat.

Lebih seperti… dorongan kecil dari belakang.

Seperti suara yang masih menemani.

"Bapak di sini."

Alin tersenyum lagi.

Dan kali ini, Ia tidak menoleh ke belakang

Siang bergerak pelan menuju terik.

Matahari sudah cukup tinggi, cahayanya jatuh lurus ke jalan, memantul di aspal dan membuat udara terasa bergetar tipis.

Alin memperlambat laju motornya.

Jarum bensin di dashboard sudah turun mendekati garis bawah.

Ia meliriknya sebentar.

Lalu mengangkat pandangan.

Sebuah SPBU kecil terlihat di sisi kiri jalan.

Tidak ramai.

Hanya beberapa motor dan satu mobil pick-up yang sedang mengisi.

Lihat selengkapnya