Pagi berikutnya datang dengan cahaya yang lebih terang.
Langit terbuka luas tanpa banyak awan. Warna biru terasa bersih, seolah-olah hari ini dimulai dengan sesuatu yang baru.
Alin sudah berada di jalan sejak matahari belum sepenuhnya naik.
Motor itu melaju dengan ritme yang mulai ia kenali.
Tidak lagi kaku seperti hari pertama.
Tangannya lebih rileks di setang.
Pandangannya lebih stabil ke depan.
Di sisi kiri, garis pantai masih sesekali terlihat, meski semakin jauh. Di kanan, perbukitan mulai muncul, menggantikan hamparan datar yang ia lewati kemarin.
Angin pagi menyentuh wajahnya.
Lebih lembut.
Lebih ramah.
Dan untuk pertama kalinya
Alin tidak merasa seperti orang yang tersesat.
Ia tetap belum punya tujuan.
Tapi arah itu terasa cukup.
Beberapa kilometer kemudian, suara mesin berubah.
Halus.
Hampir tidak terasa di awal.
Seperti getaran kecil yang tidak seharusnya ada.
Alin sedikit mengernyit.
Tangannya tetap di setang.
Ia mendengarkan.
Suara itu muncul lagi.
Lebih jelas sekarang.
Seperti sesuatu yang mulai tidak seimbang.
Alin memperlambat laju motor.
Matanya turun sedikit ke arah dashboard.
Jarum bensin masih cukup.
Bukan itu.
Ia kembali fokus ke depan.
Gas Akselerasi diputar sedikit, Motor pun merespons
Tapi tidak sehalus sebelumnya.
"…kenapa?"
Suaranya pelan.
Lebih seperti refleks.
Ia menepi.
Pelan.
Motor berhenti di sisi jalan.
Mesin masih menyala.
Suara itu tetap ada.
Alin turun.
Melepas helm dengan cepat.
Matanya langsung ke arah mesin.
Ia jongkok sedikit.
Menatap bagian bawah.
Tangannya ragu untuk menyentuh.
Ia tahu beberapa hal.
Sedikit.
Dari ayahnya dulu.
Tapi itu sudah lama.
Dan sekarang, Semua terasa samar.
Suara mesin mulai tidak stabil.
Seperti kehabisan sesuatu.
Atau kelebihan sesuatu.
Alin berdiri lagi.
Menghela napas.
Tangannya naik ke rambut.
Menyibaknya ke belakang.
"…aku lupa."
Kalimat itu keluar lirih.
Bukan lupa total.
Lebih seperti ingatan yang tidak bisa ia tarik sepenuhnya.
Ia menoleh ke sekitar.
Jalan cukup sepi.
Beberapa kendaraan lewat.
Tidak ada yang berhenti.
Tidak ada yang memperhatikan.
Alin menelan ludah.
Lalu mencoba lagi.
Ia naik ke motor.
Menekan starter.
Mesin menyala sebentar.., Lalu mati.
Ia mencoba lagi.
Kali ini lebih lama.
Mesin hidup.
Getaran muncul.
Lalu, Mati lagi.
Suasana mnjadi Hening.
Alin terdiam.
Tangannya masih di kunci.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan panik besar.
Tapi cukup untuk membuat napasnya terasa lebih pendek.
Ia turun lagi.
Menatap motor itu.
Untuk pertama kalinya sejak ia pergi.
Rasa itu memang ada seperti benar-benar sedang sendiri
Tidak ada suara ayah.
Tidak ada orang yang bilang “pelan-pelan aja”.
Hanya dia.
Dan motor yang tidak mau berjalan.
Alin menarik napas dalam.
Menahannya sebentar.
Lalu menghembuskannya.
Ia mengelilingi motor.
Melihat dari sisi lain.
Seperti berharap sudut pandang berbeda bisa memberi jawaban.
Tapi tetap sama.
Ia berhenti.
Menatap setang.
Tangannya menggenggamnya.
Lebih erat.
"…ayo."
Suaranya pelan.
Hampir seperti memohon.
Ia menekan starter lagi.
Mesin hidup.
Lebih lama kali ini.
Alin menahan napas.
Berharap, dan tepat saat ia mulai percaya namun mesin itu mati lagi.
Lebih cepat.
Alin menunduk.
Matanya terpejam sebentar.
Rahangnya mengeras.
Bukan marah.
Lebih seperti frustrasi yang tidak tahu harus diarahkan ke mana.
Beberapa detik berlalu.
Lalu.., Suara lain muncul.
Dari belakang.
Suara yang halus mendekat.
Suara motor lain.
Berbeda.
Lebih berat.
Alin membuka mata.
Menoleh.
Sebuah motor tua lain mendekat dari kejauhan.
Pengendaranya memakai jaket gelap, helm yang sedikit kusam, dan ransel besar di punggungnya.
Motor itu berhenti beberapa meter dari Alin.
Mesinnya masih menyala.
Suara halus itu tetap ada.
Pengendaranya tidak langsung turun.
Hanya menatap sebentar.
Seperti mengamati situasi.
Alin berdiri tegak.
Sedikit kaku.
Tidak yakin harus bagaimana.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian, mesin motor itu dimatikan.
Suasana kembali hening.
Pengendaranya turun.
Melepas helm.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya terlihat lelah.
Tapi tenang.
Ia berjalan mendekat.
Langkahnya santai.
Tidak terburu.
Berhenti di samping motor Alin.
Matanya langsung ke arah mesin.
Bukan ke Alin.
"Kenapa?"
Suaranya datar.
Bukan dingin.
Tapi juga bukan ramah.
Lebih seperti… langsung ke inti.
Alin membuka mulut.
Menutupnya lagi.
"…nggak tahu."
Jawaban itu jujur.
Dan sedikit canggung.
Pemuda itu mengangguk kecil.
Seperti sudah menduga.
Ia jongkok di samping motor.
Tangannya langsung bergerak.
Menyentuh beberapa bagian.
Membuka sedikit.
Mengecek.
Gerakannya terbiasa.
Cepat.
Tanpa ragu.
Alin berdiri di samping.
Menonton.
Diam.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan.
Tapi tidak ada yang keluar.
Pemuda itu berbicara lagi.
Masih tanpa menoleh.
"Udah berapa lama dipakai?"
"…dari kemarin."
"Motor lama?"
"Iya."
Ia mengangguk lagi.
Masih fokus ke mesin.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berhenti.
Menatap satu titik.
"Karburatornya kotor."
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu di kepala Alin bergerak.
Karburator.
Kata itu terasa familiar.
Terlalu familiar.
Alin menatapnya.
Lebih lama.
Seolah-olah sedang melihat potongan dari sesuatu yang dulu ia kenal.
Pemuda itu berdiri.
Mengelap tangannya di jaket.
Baru kali ini ia menatap Alin langsung.
Matanya tenang.
Tidak menghakimi.
"Kalau dibiarin, bakal mati terus."