Rute Alternatif : Perjalanan Alin untuk menemukan kembali Jati diri yang pupus

Lyneetra Studio
Chapter #4

Episode 4 : Perjanjian yang seperti tanpa Janji

Pagi datang dengan udara yang masih terasa ringan, sementara cahaya matahari jatuh secara lembut di permukaan jalan yang memanjang tanpa banyak gangguan. Langit terbuka luas dengan warna biru yang bersih, dan angin bergerak perlahan, menyentuh wajah tanpa terasa mengganggu.

Alin sudah melaju cukup lama sejak meninggalkan penginapan.

Motor itu bergerak stabil di bawahnya, dengan suara mesin yang kini terasa lebih akrab dibanding hari pertama. Tangannya memegang setang dengan lebih santai, dan tubuhnya mengikuti alur jalan tanpa banyak penyesuaian yang terasa kaku.

Ia tidak benar-benar memikirkan arah.

Jalan di depannya terasa cukup.

Sesekali, pikirannya kembali pada potongan kecil dari hari sebelumnyapertemuan yang tidak direncanakan, percakapan singkat yang tidak banyak menjelaskan, dan sosok yang tidak benar-benar ia kenal, namun tetap tertinggal di dalam ingatannya.

Motor tua.

Ransel besar.

Dan cara seseorang berjalan tanpa terlihat ragu.

Pikiran itu muncul, lalu hilang begitu saja.

Alin tidak menahannya.

Beberapa kilometer berlalu hingga jalan mulai terbuka ke sebuah persimpangan.

Alin memperlambat laju motornya.

Dua arah terbentang di depan, masing-masing dengan karakter yang berbeda.

Yang satu terlihat lebih lebar dan lebih hidup, dengan kendaraan yang sesekali lewat dan suara yang terdengar samar dari kejauhan. Yang lain lebih sepi, jalannya sedikit menyempit, dengan deretan pohon yang berdiri lebih rapat dan menciptakan bayangan yang lebih dalam.

Alin menepi.

Mesin masih menyala.

Kakinya turun menyentuh aspal.

Ia menatap kedua arah itu tanpa terburu memilih, membiarkan matanya mengikuti garis jalan yang memanjang hingga menghilang di kejauhan.

Angin bergerak secara perlahan.

Membawa suasana yang tenang.

Ia tidak merasa ragu.

Namun juga tidak merasa harus segera menentukan.

Suara mesin lain terdengar dari belakang.

Halus.

Mendekat.

Alin menoleh.

Motor itu muncul lagi.

Jaket gelap.

Ransel besar.

Rio.

Ia melambat saat mendekat, lalu berhenti di samping Alin dengan jarak yang cukup. Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk terasa hadir.

Mesinnya masih hidup beberapa detik sebelum akhirnya dimatikan.

Hening turun di antara mereka.

Tidak kaku.

Namun juga belum sepenuhnya santai.

Rio tidak langsung bicara.

Ia melihat ke arah persimpangan, mengikuti apa yang sedang Alin lihat.

Alin kembali menatap ke depan.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

"Yang itu," kata Rio singkat, mengarah ke jalan yang lebih sepi.

Alin melirik ke arah yang ia maksud.

"Kenapa?" tanyanya pelan.

Rio diam sebentar sebelum menjawab.

"Lebih enak."

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup.

Alin kembali melihat ke depan.

Ia tidak benar-benar punya alasan untuk memilih arah mana pun, namun jalan itu terasa lebih ringan untuk diambil.

Rio menyalakan motornya.

Ia mulai bergerak lebih dulu.

Masuk ke jalan yang lebih sepi.

Ia tidak menoleh.

Namun lajunya tidak cepat.

Alin diam beberapa detik.

Matanya mengikuti punggung Rio yang mulai menjauh, lalu berpindah sebentar ke arah jalan lain yang tadi sempat ia lihat.

Tidak ada yang salah dari keduanya.

Namun pilihannya terasa jelas.

Ia menarik napas pelan.

Lalu mengangkat kembali kakinya ke pijakan.

Tangannya memutar gas.

Motor bergerak.

Masuk ke arah yang sama.

Jalan itu sedikit menanjak, dengan pepohonan yang mulai lebih rapat di sisi kiri dan kanan.

Cahaya matahari jatuh melalui celah daun, menciptakan bayangan yang bergerak secara perlahan di atas aspal.

Rio berada beberapa meter di depan.

Kecepatannya stabil.

Gerakannya tenang.

Seperti sudah terbiasa berada di jalan seperti ini.

Alin mengikuti dari belakang.

Awalnya hanya menjaga jarak.

Namun perlahan, ritmenya mulai menyesuaikan.

Kecepatan yang ia jaga.

Posisi yang ia pertahankan.

Semua bergerak dalam pola yang sama.

Tanpa perlu dibicarakan.

Beberapa menit berlalu.

Rio sedikit mengurangi kecepatan.

Tidak sampai berhenti.

Namun cukup untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.

Alin menangkap perubahan itu.

Ia ikut menurunkan laju.

Sekarang mereka berada lebih dekat.

Masih terpisah.

Namun tidak lagi sejauh sebelumnya.

Rio melirik ke spion.

Sekilas.

Alin menyadari itu.

Namun ia tidak bereaksi.

Ia hanya tetap mengikuti.

Jalan terus memanjang.

Udara terasa lebih sejuk di bawah bayangan pohon.

Suara mesin terdengar stabil.

Dan di antara semua itu, ada sesuatu yang mulai berubah.

Bukan arah.

Namun cara mereka berada di dalam perjalanan itu.

Mereka tidak pernah benar-benar memutuskan untuk berjalan bersama.

Tidak ada kesepakatan.

Tidak ada janji.

Namun setiap langkah kecil yang mereka ambil membawa mereka tetap berada di jalur yang sama, tanpa disadari, perjalanan itu mulai terasa… dibagi.

Jalan berlanjut dengan ritme yang mulai terasa lebih stabil, sementara pepohonan di sisi kiri dan kanan perlahan merenggang dan memberi ruang pada cahaya matahari yang jatuh lebih merata ke permukaan aspal.

Rio tetap berada di depan, menjaga kecepatan yang tidak terlalu tinggi, dan Alin mengikuti dari belakang dengan jarak yang tidak lagi terasa perlu dijaga secara sadar. Pergerakan mereka mulai terlihat lebih selaras, seolah setiap perubahan kecil dapat dipahami tanpa perlu isyarat yang jelas.

Beberapa kendaraan melintas dari arah berlawanan, lalu menghilang begitu saja, meninggalkan jalan kembali dalam suasana yang tenang.

Di satu titik, bangunan kecil mulai terlihat di sisi kiri jalan.

Sebuah warung sederhana dengan atap seng dan beberapa kursi kayu di depannya.

Rio mengurangi kecepatan, lalu menepi dengan gerakan yang halus.

Alin menangkap perubahan itu dan ikut menurunkan laju, kemudian berhenti tidak jauh di belakang.

Mesin dimatikan.

Suasana berganti dengan cepat.

Dari suara mesin menjadi suara angin dan aktivitas kecil dari dalam warung.

Rio turun lebih dulu, lalu melepas helm dan menggantungnya di setang.

Ia tidak melihat ke belakang.

Namun langkahnya tidak terburu.

Alin menyusul beberapa detik kemudian.

Ia melepas helm dengan gerakan yang lebih santai dibanding sebelumnya, lalu berdiri sejenak sebelum melangkah mendekat.

Tidak dipanggil.

Namun juga tidak terasa seperti mengikuti.

Warung itu sederhana.

Meja kayu dengan permukaan yang sedikit kasar.

Kursi yang tidak semuanya sama.

Seorang ibu berdiri di dekat kompor kecil dan menoleh saat mereka datang.

"Mau pesan apa?" tanyanya.

Rio duduk lebih dulu.

"Teh hangat, Bu."

Alin duduk di kursi seberang.

"Air putih aja."

Ibu itu mengangguk, lalu berbalik menyiapkan pesanan.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Namun keheningan itu tidak lagi terasa canggung.

Rio menyandarkan punggungnya sedikit, pandangannya mengarah ke jalan. Ia memperhatikan kendaraan yang lewat sesekali, tanpa benar-benar fokus pada satu hal.

Alin menaruh tangannya di atas meja, jarinya menyentuh permukaan kayu dengan ringan.

Angin masuk dari sisi terbuka warung.

Udara terasa lebih sejuk.

"Sering lewat sini?" tanya Alin.

Rio melirik.

"Kadang."

Jawabannya tetap singkat.

Namun tidak menutup percakapan.

Alin mengangguk kecil.

Matanya sempat mengikuti arah pandang Rio ke jalan, lalu kembali ke meja.

Lihat selengkapnya