Pagi datang lebih pelan dibanding hari sebelumnya.
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar dan jatuh secara lembut di lantai, sementara udara masih menyimpan sisa dingin dari malam yang belum sepenuhnya hilang.
Alin sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu.
Ia tidak langsung bangun.
Tubuhnya masih berbaring, matanya terbuka menatap langit-langit yang tampak sederhana, namun terasa lebih tenang pagi ini.
Suasana kamar tetap sunyi.
Namun tidak terasa kosong.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan tenang.
Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia bangun dan duduk di tepi ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, dan ia merapikannya dengan gerakan ringan sebelum berdiri.
Kakinya menyentuh lantai yang masih dingin.
Ia berjalan menuju jendela, lalu membukanya sedikit lebih lebar.
Udara pagi masuk dengan segar.
Cukup untuk membuat pikirannya terasa lebih ringan.
Di luar, halaman penginapan terlihat sama seperti semalam.
Beberapa motor masih terparkir di tempat yang sama.
Langit berwarna biru muda.
Hari baru dimulai.
Alin berdiri beberapa saat, membiarkan dirinya menikmati suasana itu tanpa terburu.
Namun di tengah ketenangan itu, ada satu hal yang muncul di pikirannya.
Kamar di sebelah.
Ia tidak menoleh.
Namun cukup sadar.
Rio ada di sana.
Alin menarik napas lagi, lalu menjauh dari jendela.
Ia meraih tasnya, mengambil beberapa barang seperlunya, lalu bersiap dengan gerakan yang tidak tergesa.
Semua terasa lebih ringan dibanding hari sebelumnya.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada keharusan.
Beberapa menit kemudian, ia membuka pintu dan keluar ke lorong.
Udara terasa lebih terbuka di luar.
Langkahnya terdengar pelan di lantai.
Ia menutup pintu, lalu berdiri sejenak.
Tidak benar-benar menunggu.
Namun juga tidak langsung pergi.
Pintu di sebelah terbuka.
Rio keluar dengan jaket yang sama seperti kemarin, rambutnya sedikit berantakan, dan helm sudah berada di tangannya.
Ia melihat Alin.
Ekspresinya tenang.
"Udah bangun," katanya.
Alin mengangguk kecil, tangannya sempat merapikan rambut di sisi wajah.
"Iya, sudah," jawabnya ringan.
Rio mengangguk.
Tidak ada jeda yang canggung.
Ia langsung berjalan ke arah motor.
Alin mengikuti beberapa langkah di belakang.
Mereka sampai di halaman.
Motor masih di posisi yang sama.
Rio meletakkan helm di setang, lalu memeriksa sebentar sebelum menyalakan mesin.
Alin melakukan hal yang sama.
Gerakannya lebih santai, tanpa terburu.
Mesin menyala.
Suara itu mengisi ruang pagi yang masih sepi.
Rio duduk di atas motor, lalu melirik ke arah Alin.
"Sarapan dulu?" tanyanya.
Pertanyaannya ringan.
Alin sempat berpikir sejenak.
Lalu mengangguk.
"Iya, sekalian," jawabnya.
Rio mengangguk kecil.
Ia memutar gas pelan.
Motor mulai bergerak keluar dari halaman.
Alin menyusul.
Dan kali ini, mereka tidak perlu menunggu satu sama lain.
Tidak perlu memastikan.
Jalan pagi terasa berbeda.
Udara lebih segar.
Cahaya lebih lembut.
Dan ritme perjalanan kembali terbentuk dengan lebih cepat dibanding kemarin.
Rio berada di depan.
Alin mengikuti.
Namun jarak di antara mereka terasa lebih dekat sejak awal.
Beberapa menit berlalu.
Rio sedikit mengurangi laju.
Alin mendekat.
Gerakan mereka mulai benar-benar selaras.
Tidak ada yang memimpin.
Tidak ada yang mengejar.
Dan di tengah perjalanan pagi itu, ada satu hal kecil yang terasa jelas.
Mereka mulai terbiasa berjalan bersama.
Jalan pagi mulai terasa lebih hidup saat mereka melanjutkan perjalanan dari penginapan, sementara cahaya matahari bergerak naik dan menyentuh permukaan jalan dengan lebih jelas. Udara masih terasa segar, meski perlahan mulai kehilangan dingin yang tersisa dari malam.
Rio tetap melaju di depan dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, dan Alin mengikuti dari belakang dengan jarak yang sudah terasa pas tanpa perlu terus disesuaikan. Pergerakan mereka terlihat lebih selaras dibanding kemarin, seolah tubuh mereka sudah mulai memahami ritme yang sama tanpa perlu dipikirkan.
Beberapa warung mulai terlihat di sepanjang jalan.
Asap tipis naik dari wajan, suara percakapan terdengar samar, dan orang-orang mulai memenuhi kursi-kursi kayu yang tersusun di depan bangunan sederhana. Suasana pagi itu terasa hidup dengan cara yang tidak terlalu ramai, namun cukup untuk memberi kesan bahwa hari sudah benar-benar dimulai.
Rio mengurangi kecepatan secara bertahap.
Ia menepi di depan sebuah warung yang terlihat lebih ramai dibanding yang lain, dengan beberapa motor terparkir di depannya dan suara aktivitas yang lebih jelas terdengar.
Alin menangkap perubahan itu dan ikut menurunkan laju, lalu berhenti tidak jauh di belakang.
Mesin dimatikan.
Suara mesin perlahan menghilang, digantikan suara orang berbicara, bunyi sendok yang beradu dengan piring, dan suara minyak yang mendesis dari dapur kecil di dalam warung.
Rio turun lebih dulu.
Ia melepas helm dan menggantungnya di setang sebelum berjalan masuk tanpa banyak melihat sekitar.
Langkahnya santai.
Seperti sudah terbiasa berhenti di tempat-tempat seperti ini.
Alin menyusul beberapa detik kemudian.
Ia melepas helm sambil berjalan, lalu memegangnya sebentar sebelum meletakkannya di kursi kosong. Matanya sempat menyapu sekitar, memperhatikan suasana yang terasa lebih ramai dibanding kemarin.
Namun tidak terasa asing.
Ia duduk di seberang Rio.
Posisinya lebih santai.
Tidak lagi terlalu kaku seperti sebelumnya.
Seorang ibu mendekat dari dalam warung.
"Mau makan apa?"
Rio menjawab lebih dulu.
"Nasi sama telur, Bu."
Nada suaranya tetap singkat.
Alin melihat ke arah etalase kecil di samping, memperhatikan lauk yang tersusun sederhana.
"Sama, Bu."
Ibu itu mengangguk, lalu berbalik.
Beberapa detik berlalu.
Suasana di sekitar tetap berjalan.
Orang-orang berbicara dengan ritme mereka sendiri, suara kendaraan lewat sesekali dari depan warung, dan angin membawa aroma makanan yang terasa hangat.
Rio duduk dengan posisi santai, satu tangannya bertumpu di meja, sementara pandangannya sesekali berpindah ke jalan.
Alin menaruh tangannya di atas meja.
Jarinya menyentuh permukaan kayu yang sedikit kasar.
"Lumayan rame," katanya.
Rio melirik sebentar.
"Iya. Pagi."
Jawabannya singkat.
Namun tidak memutus percakapan.
Alin mengangguk kecil.
Matanya mengikuti seseorang yang lewat di depan warung, lalu kembali ke meja.
Makanan datang tidak lama kemudian.
Sepiring nasi hangat dengan telur di atasnya diletakkan di depan mereka, sederhana namun cukup.
Uap tipis naik dari nasi, bergerak mengikuti udara.
Rio langsung mulai makan.
Gerakannya tenang.
Tidak terburu.
Alin memperhatikan sebentar, lalu ikut mulai makan.
Suapan pertama terasa hangat.
Sederhana.
Namun cukup menenangkan.
"Lebih enak makan pagi," kata Alin sambil tetap melihat ke piringnya.
Rio mengangguk.
"Iya. Biar nggak kosong."
Alin sedikit mengangkat pandangannya.
"Kosong di perut atau di kepala?"
Rio berhenti sebentar.
Melirik.
"Duanya."
Alin tersenyum kecil.
Tidak dibuat-buat.
Rio tidak ikut tertawa, namun ekspresinya sedikit berubah.
Lebih ringan.
Beberapa saat mereka makan tanpa banyak bicara.
Namun keheningan itu tidak terasa canggung.
Lebih seperti jeda yang memang tidak perlu diisi.
Alin menaruh sendoknya sebentar.
"Kamu biasanya jalan tanpa rencana gitu terus?"
Rio tetap makan.
"Iya."
Jawabannya singkat.
Namun kali ini tidak terasa menutup.
Alin menatapnya sebentar.
"Nggak kepikiran berhenti di satu tempat?"
Rio tidak langsung menjawab.
Ia mengambil minum, lalu menaruh gelas kembali ke meja.
"Kadang."
Ia berhenti sebentar.
"Tapi kalau kelamaan, malah pengen jalan lagi."
Alin mengangguk.
Ia kembali melihat ke piringnya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Alin berbicara lagi.
"Berarti nggak ada tempat yang benar-benar kamu tuju?"
Rio mengangkat bahu sedikit.
"Nggak ada yang tetap."
Jawaban itu keluar ringan.
Namun tidak terasa kosong.
Alin mengangguk pelan.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Makanan mereka hampir habis.
Suasana di warung tetap berjalan seperti sebelumnya.
Namun ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.
Percakapan mereka masih sederhana.
Masih pendek.
Namun tidak lagi terasa seperti dua orang yang baru bertemu.
Ada ritme kecil yang mulai terbentuk.
Rio menghabiskan makanannya lebih dulu.
Ia menaruh sendok, lalu duduk sedikit lebih santai.
Alin masih menyisakan beberapa suap.
Ia menyelesaikannya tanpa terburu.
Beberapa saat kemudian, mereka berdiri hampir bersamaan.
Rio berjalan ke depan untuk membayar.
Alin menunggu di dekat meja.
Tidak jauh.
Namun tidak terlalu dekat.
Mereka kembali ke motor masing-masing.
Helm dipakai.
Mesin dinyalakan.
Suara itu kembali mengisi pagi.