Rute Alternatif : Perjalanan Alin untuk menemukan kembali Jati diri yang pupus

Lyneetra
Chapter #7

Episode 7 : Arah yang Tidak Lagi Sama

Jalan yang mereka lewati perlahan berubah saat bangunan mulai muncul lebih rapat di sisi kiri dan kanan, sementara suasana di sekitar terasa lebih hidup dibanding sebelumnya. Kendaraan bertambah, orang-orang terlihat berjalan di pinggir jalan, dan suara aktivitas mulai menggantikan keheningan yang sejak tadi menemani perjalanan mereka.

Rio mengurangi kecepatan tanpa perlu banyak isyarat, menyesuaikan dengan kondisi jalan yang lebih padat, dan Alin mengikuti dari belakang dengan jarak yang tetap terjaga. Gerakan mereka masih selaras, namun ritmenya sedikit berubah karena harus mengikuti arus kendaraan yang lebih ramai.

Beberapa meter di depan, sebuah gerbang besar terlihat berdiri di sisi kanan jalan.

Tulisan nama kampus terpampang jelas di atasnya.

Orang-orang keluar masuk dengan ritme yang tidak terburu, sebagian mengenakan jaket almamater, sebagian lagi berjalan sambil berbicara dengan santai.

Rio melaju sedikit lebih pelan saat melewati area itu.

Alin ikut memperlambat.

Pandangannya sempat tertahan.

Tidak lama.

Namun cukup untuk membuatnya memperhatikan.

Beberapa mahasiswa berdiri di dekat gerbang, tertawa ringan sambil membawa buku, sementara yang lain berjalan masuk dengan langkah yang terlihat santai, seolah mereka sudah terbiasa dengan hari-hari yang berjalan di tempat itu.

Tidak ada yang terlihat tergesa.

Tidak ada yang terlihat bingung.

Semua terasa jelas.

Alin tetap menatap ke arah itu beberapa detik lebih lama, lalu kembali melihat ke depan saat motor terus bergerak.

Tangannya tetap di setang.

Namun ada satu tarikan napas kecil yang ia tahan tanpa sadar.

Rio tetap di depan.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Namun kecepatannya tidak bertambah.

Seolah memberi ruang.

Beberapa meter setelah melewati gerbang itu, jalan kembali sedikit lebih sepi.

Bangunan masih ada, namun tidak sepadat sebelumnya.

Rio melaju dengan ritme yang lebih stabil.

Alin mengikuti.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di jalan.

Bayangan tadi masih tertinggal.

Bukan dalam bentuk yang jelas.

Namun cukup untuk terasa.

Ia tidak merasa iri.

Tidak juga merasa menyesal.

Namun ada sesuatu yang seperti tertinggal di dalam dirinya, tanpa benar-benar bisa dijelaskan.

Rio sedikit menoleh ke belakang.

"Kenapa?" tanyanya.

Suaranya tetap tenang.

Alin mendekat sedikit agar lebih mudah terdengar.

"Nggak apa-apa," jawabnya, lalu berhenti sebentar sebelum menambahkan, "Cuma kepikiran aja."

Rio mengangguk kecil.

Tidak langsung menanggapi.

Mereka tetap melaju beberapa detik tanpa percakapan.

Alin menatap ke depan.

Lalu berkata lagi, kali ini lebih pelan.

"Aku dulu mikir… kalau udah masuk sana, semuanya bakal lebih jelas."

Rio tidak langsung menjawab.

Ia tetap melihat ke depan.

"Terus?" tanyanya.

Alin menarik napas kecil.

"Ya… ternyata nggak juga."

Kalimat itu keluar tanpa tekanan.

Namun terasa jujur.

Rio mengangguk.

"Bener."

Jawabannya singkat.

Namun tidak terasa kosong.

Beberapa detik berlalu.

Angin bergerak di antara mereka.

Suara kendaraan mulai berkurang.

Rio akhirnya berbicara lagi.

"Dulu aku juga gitu."

Nada suaranya tetap datar.

Namun kali ini lebih terbuka.

Alin melirik.

Rio tidak melihat balik.

"Udah masuk," lanjutnya.

Ia berhenti sebentar.

"Tapi malah bingung."

Alin mengangguk pelan.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Jalan kembali terbuka.

Ritme mereka kembali stabil.

Namun suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda.

Lebih dalam.

Alin menatap ke depan.

Tangannya tetap di setang.

Namun pikirannya bergerak pelan.

Ia tidak lagi mencoba mencari jawaban dari apa yang ia rasakan.

Tidak juga mencoba menolak.

Ia hanya membiarkannya ada.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Namun kali ini, diam itu terasa lebih berarti.

Dan di tengah perjalanan yang terus berjalan itu, ada satu hal yang mulai terasa tanpa perlu dijelaskan.

Arah hidup tidak selalu berubah saat seseorang berhenti.

Kadang, ia berubah saat seseorang terus berjalan.

Jalan kembali memanjang setelah mereka melewati area kampus itu, dan suasana di sekitar perlahan kembali lebih tenang, meski tidak sepenuhnya sepi seperti sebelumnya. Beberapa bangunan masih terlihat di sisi jalan, namun jaraknya mulai berjauhan, dan kendaraan yang melintas tidak lagi sebanyak tadi.

Rio tetap melaju di depan dengan kecepatan yang lebih stabil, seolah sengaja tidak mempercepat laju, sementara Alin mengikuti dari belakang dengan jarak yang tetap terjaga tanpa perlu disesuaikan. Gerakan mereka masih selaras, namun suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda setelah percakapan singkat tadi.

Alin tidak langsung berbicara lagi.

Ia menatap ke depan, mengikuti garis jalan yang memanjang tanpa banyak gangguan, namun pikirannya masih tertinggal pada apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Bukan sesuatu yang berat, namun cukup untuk membuatnya diam lebih lama dari biasanya.

Rio sesekali melirik ke spion.

Tidak terlalu sering.

Namun cukup untuk memastikan posisi Alin tetap di belakangnya.

Gerakan itu sederhana, namun terasa seperti bentuk perhatian yang tidak perlu diucapkan.

Beberapa menit berlalu hingga jalan kembali lebih sepi.

Pepohonan mulai muncul lagi di sisi kiri dan kanan, memberi sedikit bayangan di atas aspal yang mulai terasa panas.

Rio sedikit mengurangi kecepatan.

Alin mendekat.

Jarak mereka kembali lebih dekat dari sebelumnya.

Tanpa perlu disepakati.

"Kamu berhenti karena nggak cocok, atau…?" tanya Alin akhirnya.

Lihat selengkapnya