Rute Alternatif

Lyneetra Studio
Chapter #1

Episode 1 : Apakah aku lolos seleksi?

Pagi itu, notifikasi di layar ponsel Alin muncul tanpa suara.

Ia sudah menonaktifkan hampir semua bunyi sejak semalam, seolah-olah dunia bisa ditunda hanya dengan satu pengaturan kecil. Tapi layar tetap menyala. Nama situs itu tetap muncul. Pengumuman tetap ada.

Tangannya tidak langsung bergerak.

Ponsel itu tergeletak di atas meja belajar, di antara buku-buku latihan yang sudah tidak lagi disentuh sejak dua hari terakhir. Lembar soal try out terakhir masih terbuka, penuh coretan, penuh angka-angka yang dulu terasa penting.

Sekarang terasa asing.

Alin duduk di kursinya, tubuhnya sedikit condong ke depan, kedua tangan menggantung di antara lutut. Ia menatap layar itu seperti seseorang menatap pintu yang ia tahu harus dibuka, tapi tidak siap melihat apa yang ada di baliknya.

Napasnya pelan. Terlalu pelan.

Ia mengangkat ponsel itu akhirnya.

Ibu di luar kamar sedang menyapu. Suara gesekan sapu dengan lantai terdengar berulang, ritmis, menenangkan atau mungkin justru membuat waktu terasa berjalan terlalu normal untuk sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Alin membuka halaman pengumuman.

“Loading..”, lingkaran kecil itu berputar. Terus berputar.

Tangannya mulai terasa dingin.

Ia menelan ludah, lalu memasukkan nomor peserta dengan hati-hati. Ia sudah hafal di luar kepala, tapi tetap mengecek dua kali, tiga kali. Tidak boleh salah. Tidak boleh ada alasan untuk kesalahan.

Submit.

Layar berubah.

Dan untuk beberapa detik, dunia benar-benar diam.

Matanya bergerak cepat, mencari satu hal namanya sendiri.

Tidak ada.

Ia scroll sedikit. Lalu kembali ke atas. Lalu scroll lagi.

Tidak ada.

Jantungnya berdetak lebih keras, tapi tubuhnya justru terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti sesuatu di dalam dirinya tiba-tiba hilang, meninggalkan ruang kosong yang aneh.

Alin menatap layar itu lebih lama, seolah-olah kalau ia cukup lama melihatnya, namanya akan muncul dengan sendirinya.

Tapi tidak ada yang berubah.

Hanya daftar nama orang lain.

Ia menghembuskan napas pelan. Bukan napas lega. Bukan juga napas kecewa.

Lebih seperti… tidak tahu harus merasakan apa.

Ponselnya perlahan turun ke pangkuan.

Di luar, ibunya berhenti menyapu.

"Lin?"

Suara itu terdengar hati-hati. Seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya, tapi tetap berharap salah.

Alin tidak langsung menjawab.

Ia menatap meja di depannya. Buku-buku itu. Catatan-catatan itu. Semua hal yang selama ini ia anggap sebagai jalannya.

Kosong.

"Alin?"

Ibunya memanggil lagi, kali ini sedikit lebih dekat. Langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar.

Alin menarik napas, lalu berdiri sebelum pintu itu sempat diketuk.

Ia membuka pintu.

Ibunya sudah berdiri di sana, masih memegang sapu, wajahnya penuh harap yang ditahan-tahan.

Alin menatapnya sebentar.

Lalu menggeleng.

Tidak ada kata-kata.

Hanya satu gerakan kecil.

Ibunya tidak langsung bereaksi. Wajahnya seperti butuh waktu untuk memahami apa arti gerakan itu. Beberapa detik berlalu sebelum ekspresinya berubah, bukan menjadi kecewa, tapi menjadi sesuatu yang lebih kompleks.

Campuran antara sedih, bingung, dan… kasihan.

"Oh…" ibunya berkata pelan.

Sapu itu perlahan disandarkan ke dinding.

"Ya sudah… nggak apa-apa," lanjutnya, cepat, terlalu cepat. "Masih banyak jalan lain. Nanti kita cari lagi. Bisa ikut mandiri, atau swasta juga bagus sekarang"

Alin mengangguk kecil.

Bukan karena setuju.

Lebih karena ia tidak punya energi untuk tidak mengangguk.

"Iya."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Ibunya tersenyum tipis, mencoba terlihat kuat.

"Yang penting kamu sudah usaha. Ibu tahu itu."

Alin lagi-lagi mengangguk.

Percakapan itu terasa seperti sesuatu yang sudah dihafal. Seperti dialog yang sering ia dengar dari orang lain, dari cerita orang lain.

Sekarang terjadi padanya.

Ibunya menepuk bahunya pelan sebelum kembali mengambil sapu.

"Ya sudah, istirahat dulu saja. Jangan dipikirin terus."

Alin menutup pintu setelah ibunya pergi.

Klik kecil itu terdengar lebih keras dari biasanya.

Ia kembali duduk di kursi.

Ponselnya masih ada di pangkuannya, layar sudah mati.

Ia tidak menyalakannya lagi.

Beberapa menit berlalu.

Atau mungkin lebih.

Waktu mulai kehilangan bentuknya.

Matanya bergerak pelan ke arah dinding di samping meja.

Ada foto di sana.

Bingkai kayu sederhana, sedikit miring karena paku yang sudah longgar.

Di dalamnya, seorang pria tersenyum ke arah kamera. Wajah yang sudah terlalu familiar. Wajah yang selalu ada, bahkan setelah tidak lagi benar-benar ada.

Ayahnya.

Alin menatap foto itu lama.

"Pak…"

Suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang tidak yakin ingin didengar.

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Tidak tahu harus berkata apa.

Dulu, semuanya terasa jelas.

Belajar yang benar. Masuk universitas negeri. Jadi seseorang yang bisa dibanggakan.

Semua langkah itu seperti garis lurus yang tinggal diikuti.

Sekarang garis itu… hilang.

Alin menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit.

Kosong.

Aneh.

Ia pikir ia akan menangis.

Tapi tidak ada air mata.

Hanya perasaan hampa yang perlahan menyebar, memenuhi setiap sudut pikirannya.

Seperti ruangan yang tiba-tiba terlalu luas.

Ia menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak pengumuman itu muncul, satu pertanyaan muncul di kepalanya.

Kalau bukan ini… lalu apa?

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Di luar, suara motor lewat di jalan depan rumah.

Satu, lalu dua, lalu hilang.

Alin membuka mata lagi.

Pandangannya kembali ke meja.

Lalu perlahan, ke arah jendela.

Cahaya pagi masuk dengan tenang, menerangi sebagian lantai.

Hari tetap berjalan.

Seolah-olah tidak ada yang berubah.

Padahal, bagi Alin, semuanya sudah berubah.

Ia berdiri pelan, melangkah ke arah jendela, dan membukanya sedikit lebih lebar.

Udara pagi masuk, membawa bau tanah dan sedikit aroma bensin dari jalan.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, napas itu terasa… nyata.

Tapi tetap tidak cukup untuk mengisi ruang kosong itu.

Tangannya bertumpu di bingkai jendela.

Matanya menatap keluar tanpa benar-benar melihat.

Dan tanpa ia sadari, sesuatu di dalam dirinya mulai bergerak.

Kecil.

Hampir tidak terasa.

Tapi ada.

Sebuah retakan halus di dalam keheningan itu.

Belum berbentuk keputusan.

Belum menjadi apa-apa.

Hanya… kemungkinan.

Beberapa jam setelah itu, rumah terasa terlalu tenang.

Bukan karena tidak ada suara, televisi di ruang tamu menyala, suara penyiar berita terdengar samar, dan sesekali terdengar bunyi piring dari dapur. 

Melainkan semuanya seperti… tidak benar-benar masuk.

Alin duduk di lantai kamarnya, bersandar di sisi ranjang. Lututnya ditarik ke dada, dagunya bertumpu di atasnya.

Ponselnya sudah mati sejak tadi.

Ia tidak ingin membuka apa pun.

Tidak ingin melihat grup chat.

Tidak ingin membaca ucapan selamat yang bukan untuknya.

Tidak ingin menjawab pertanyaan yang ia sudah tahu akan datang.

Tangannya memainkan ujung jaket yang ia pakai sejak pagi. Jaket jeans lama, sedikit kebesaran di lengannya. Bau samar oli masih tertinggal, meski sudah dicuci berkali-kali.

Jaket itu milik ayahnya dulu.

Alin menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan.

Di luar, suara televisi tiba-tiba sedikit lebih keras.

"...pengumuman SNBT tahun ini menunjukkan peningkatan jumlah peserta"

Klik.

Suara itu hilang.

Ibunya mungkin mengganti channel.

Atau mematikan televisi.

Alin menutup mata.

Dunia di luar sana tetap berjalan seperti biasa.

Orang-orang lulus.

Orang-orang gagal.

Berita tetap berputar.

Tapi di dalam dirinya, semuanya terasa berhenti di satu titik yang sama.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Sekali.

Lalu lagi.

Lalu terus.

Alin membuka mata, menatap benda itu tanpa menyentuhnya.

Nama grup muncul di layar.

"PEJUANG SNBT 2026"

Satu per satu pesan masuk.

"GUYS AKU LOLOS"

"YA ALLAH GUA JUGA"

"Yang belum, semangat ya, masih ada jalur lain!"

"Alin gimana??"

Layar itu terasa terlalu terang.

Terlalu ramai.

Jari Alin bergerak pelan, bukan untuk membuka chat itu tapi untuk menekan tombol samping.

Layar mati lagi.

Hening kembali.

Ia menyandarkan kepalanya ke sisi ranjang, menatap langit-langit.

Matanya tidak berkedip cukup lama.

Lalu, tiba-tiba

Tok…Tok.

"Lin?", Suara ibunya terdengar dari balik pintu.

Alin tidak langsung menjawab.

"Masuk ya?"

Pintu terbuka sedikit sebelum Alin sempat mengatakan apa pun.

Ibunya masuk dengan langkah pelan, membawa dua gelas teh hangat di atas nampan kecil.

Uapnya masih tipis, naik perlahan ke udara.

Ibunya duduk di tepi ranjang, meletakkan nampan di sampingnya.

"Kamu belum makan dari pagi," katanya, suaranya lembut, hati-hati.

Alin mengangkat bahu sedikit.

"Lapar nggak?"

Alin menggeleng pelan.

Ibunya tidak memaksa.

Ia hanya mengambil satu gelas teh, meniupnya sebentar, lalu menyesap sedikit.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

"Temen-temen kamu gimana?" tanya ibunya akhirnya.

Alin tidak langsung menjawab.

Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi.

"Iya… ada yang lolos," jawabnya pelan.

Ibunya mengangguk.

"Itu bagus."

Nada suaranya terdengar tulus, tapi ada sesuatu di baliknya, seperti usaha untuk menjaga keseimbangan, agar tidak ada yang terasa terlalu berat.

"Kamu sudah coba jalur lain belum? Mandiri atau.."

"Belum."

Jawaban Alin cepat. Terlalu cepat.

Ibunya berhenti sejenak.

Menatapnya.

Bukan dengan tekanan. Lebih seperti mencoba memahami.

"Kita masih punya waktu, Lin," katanya pelan. "Nggak harus sekarang. Tapi… jangan berhenti di sini, ya."

Kalimat itu menggantung di udara.

Alin tahu maksudnya baik.

Sangat baik.

Tapi entah kenapa, kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang menekan dari dalam.

Bukan karena ibunya memaksa.

Justru karena tidak memaksa.

Karena tetap berharap.

Alin menunduk, menatap tangannya sendiri.

Jarinya menggenggam ujung jaket lebih erat.

"Aku capek, Ma."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Pelan.

Tapi cukup jelas.

Ibunya terdiam.

Alin mengangkat kepala sedikit, matanya tidak benar-benar menatap ibunya lebih seperti menatap ke arah itu.

"Aku… capek ngejar sesuatu yang aku nggak tahu itu beneran aku atau bukan."

Suasana langsung berubah.

Udara terasa lebih berat.

Ibunya tidak langsung menjawab.

Ia meletakkan gelas tehnya kembali ke nampan, lalu menautkan kedua tangannya di pangkuan.

"Selama ini… kamu kan yang mau masuk situ, Lin," katanya hati-hati.

"Iya."

Jawaban itu cepat.

"Tapi… aku juga nggak tahu kenapa aku harus mau."

Kalimat itu membuat ibunya sedikit mengernyit.

Alin menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

"Dari awal… semua orang bilang itu jalan yang benar."

Ia menatap lantai.

"Guru. Temen. Semua."

Suaranya tetap pelan, tapi ada sesuatu yang mulai terbuka.

"Aku cuma… ngikutin."

Ibunya menatapnya lama.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan, itu terlihat jelas dari matanya.

Tapi ia memilih diam.

Memberi ruang.

Alin menyandarkan kepalanya ke sisi ranjang lagi.

Matanya mulai terasa berat, tapi bukan karena ingin tidur.

Lebih karena terlalu penuh.

"Aku nggak tahu harus ke mana sekarang, Ma."

Suara itu hampir seperti anak kecil.

Bukan lagi seseorang yang baru lulus SMA.

Ibunya bergerak pelan, duduk lebih dekat.

Tangannya terangkat, ragu sejenak, lalu akhirnya menyentuh kepala Alin dengan lembut.

Mengusapnya pelan.

"Nggak tahu juga nggak apa-apa," katanya.

Nada suaranya berubah.

Lebih hangat.

Lebih jujur.

"Kamu nggak harus tahu semuanya sekarang."

Alin menutup mata.

Sentuhan itu terasa familiar.

Terlalu familiar.

Dan justru itu yang membuat sesuatu di dalam dadanya terasa sesak.

"Ma…"

"Iya?"

Alin tidak langsung melanjutkan.

Beberapa detik berlalu.

Lalu

"Kalau aku… nggak ikut jalur lain?"

Pertanyaan itu pelan.

Hampir seperti ia sendiri takut mendengarnya.

Ibunya berhenti mengusap.

Tangannya tetap di sana, tapi tidak bergerak.

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

"…maksud kamu?"

"Aku nggak mau langsung daftar lagi."

Alin membuka mata.

Menatap kosong ke depan.

"Aku mau… berhenti dulu."

Kata "berhenti" itu terdengar lebih berat dari yang ia kira.

Ibunya menarik napas pelan.

Tidak marah.

Tidak kaget.

Tapi jelas tidak mudah menerima begitu saja.

"Kamu mau… gap year?"

Alin tidak langsung menjawab.

Ia tidak yakin itu kata yang tepat.

"Aku nggak tahu namanya apa."

Ibunya tersenyum tipis.

Sedikit pahit.

"Kamu yakin?"

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi mengandung banyak hal.

Alin terdiam.

Tidak ada jawaban cepat kali ini.

Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak punya rencana.

Dan mungkin… itu yang paling menakutkan.

Di luar, suara motor lewat lagi.

Lebih keras dari sebelumnya.

Alin membuka mata, menoleh sedikit ke arah jendela.

Suara itu perlahan menjauh.

Tapi entah kenapa, kali ini terasa berbeda.

Seperti bukan sekadar suara lewat.

Lebih seperti sesuatu yang memanggil.

Alin tidak mengatakan apa-apa lagi.

Tapi jauh di dalam dirinya, retakan kecil tadi mulai melebar.

Perlahan.

Hampir tidak terlihat.

Menuju sesuatu yang belum ia mengerti.

Setelah percakapan itu, tidak ada yang benar-benar berubah di rumah.

Ibunya kembali ke dapur.

Alin kembali ke kamar.

Tapi ada sesuatu yang tidak lagi sama.

Udara terasa lebih berat, seolah-olah kata-kata yang tadi terucap masih menggantung di setiap sudut ruangan.

Alin berdiri di depan meja belajarnya.

Tangannya menyentuh tumpukan buku.

Pelan.

Seperti menyentuh sesuatu yang dulu sangat berarti, tapi sekarang… tidak lagi ia kenali sepenuhnya.

Ia mengambil satu buku.

Sampulnya sedikit terlipat di ujung.

Buku latihan SNBT.

Coretan-coretan kecil memenuhi halaman pertama.

Target skor.

Tanggal try out.

Catatan kecil dengan tulisan tangannya sendiri:

"Harus naik 50 poin."

Alin menatap tulisan itu lama.

Lalu, tanpa sadar, sudut bibirnya bergerak sedikit.

Bukan senyum.

Lebih seperti… refleks dari sesuatu yang dulu pernah ia yakini sepenuhnya.

Ia membuka halaman berikutnya.

Dan perlahan, pikirannya tertarik ke belakang.

Beberapa bulan yang lalu.

Suasana kelas bimbel penuh.

Kursi-kursi hampir tidak menyisakan ruang kosong.

Semua orang menunduk, fokus pada soal di depan mereka.

Suara jam dinding berdetak pelan, tapi terasa seperti menghitung mundur sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar waktu.

Alin duduk di barisan depan.

Punggungnya tegak.

Matanya tajam, bergerak cepat dari satu soal ke soal lain.

Tangannya menulis tanpa ragu.

Lihat selengkapnya