Blurb
Bagi Lina, Bayu(Kakaknya) tidak pernah pulang; ia hanya kembali karena tidak punya tempat lagi untuk lari.
Kepulangan Bayu ke rumah bukanlah sebuah perayaan. Ia kembali membawa kegagalan, hanya untuk menemukan ayahnya yang dulu tangguh—mantan sopir truk kayu balak—kini mulai digerogoti demensia awal. Sang ayah melupakan banyak hal: jalan pulang, nama tetangga, hingga cara mengurus dirinya sendiri. Namun, luka saat Bayu meninggalkan keluarga mereka bertahun-tahun lalu justru menjadi ingatan yang paling jernih di kepalanya.
Terjebak di antara amarah adiknya dan kewajiban merawat sang ayah, Bayu tiba-tiba mendapat kesempatan emas untuk kembali bekerja di kota. Kesempatan itu menjanjikan satu hal yang paling ia inginkan: jalan keluar.
Bayu kini berdiri di persimpangan yang paling menyiksa. Karena kadang, rumah bukan sekadar tempat untuk kembali. Ia adalah tempat di mana kita akhirnya belajar untuk berhenti pergi.