Rute Terakhir Ayah

Ferdi Ferdian
Chapter #1

Rumah Yang Mengecil

​Mobil travel Avanza yang membawanya dari pelabuhan perlahan melaju membelah kabut pagi, meninggalkan jejak embun di kaca jendela. Perjalanan panjang dari Batam—dimulai dengan kapal feri yang memusingkan hingga sambung jalur darat berjam-jam—akhirnya berlabuh ketika langit Perawang masih berwarna abu-abu pucat. Terminal kecil itu belum sepenuhnya terbangun. Hanya ada beberapa warung kopi dengan pendar lampu kuning yang masih menyala, serta belasan sopir yang duduk mengantuk di bangku plastik, menyeruput kopi hitam pekat sembari menunggu penumpang pertama hari itu.

​Bayu turun dengan langkah kaku. Ransel hitam besar di punggungnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah berisi sisa-sisa kehidupannya selama lima tahun terakhir. Udara pagi di kota kecil ini terasa jauh berbeda dari Batam. Lebih lembap. Lebih pekat. Lebih sunyi. Tidak ada suara sirene pabrik, deru mesin kapal kargo, atau dengungan pelabuhan industri yang biasa menguasai gendang telinganya setiap hari. Yang ada hanyalah suara motor bebek tua yang lewat sesekali memecah keheningan, dan aroma khas tanah basah bercampur sisa pembakaran sampah yang menguar dari pinggir jalan.

​Ia berdiri mematung sejenak di dekat pintu travel, membiarkan kendaraan itu menderu pergi meninggalkannya dalam kepulan asap knalpot. Bayu menatap ujung jalan yang perlahan mulai terang. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di aspal retak ini. Terlalu lama, mungkin. Terlalu banyak kepengecutan yang ia sembunyikan di balik alasan kesibukan merantau.

​Sambil membetulkan tali ranselnya, Bayu melangkah keluar dari area terminal dan menghampiri sebuah pangkalan ojek. Di sana, seorang pria paruh baya bertopi pudar sedang duduk setengah tertidur di atas jok motornya yang sudah ditambal lakban hitam.

​"Nak ke mane, Bang?" tanya sopir ojek itu, suaranya serak diiringi kuapan panjang saat melihat Bayu mendekat.

​Bayu menyebutkan nama kampung halamannya, sebuah daerah pinggiran yang jaraknya tak sampai dua puluh menit dari pusat keramaian Perawang.

​Sopir itu mengangguk paham. Ia menekan tombol starter motornya beberapa kali hingga mesinnya menyala dengan suara kasar, lalu memberikan helm yang kacanya sudah buram kepada Bayu. Motor tua itu melaju perlahan, menyusuri jalan raya Perawang yang mulai menggeliat. Truk-truk besar dengan roda berlumpur mulai bermunculan, mendominasi jalanan berlubang. Beberapa di antaranya melintas dengan raungan mesin yang memekakkan telinga, membawa muatan kayu gelondongan raksasa yang diikat erat dengan rantai besi berdenting.

​"Dari mane, Bang? Banyak betol barang bawaan tu," sopir ojek itu membuka obrolan, mencoba melawan angin pagi. Matanya melirik ransel besar Bayu dari kaca spion.

​"Dari Batam," jawab Bayu setengah berteriak agar suaranya tak tertelan raungan angin.

​"Wah, sedaplah kerje kat Batam tu. Banyak pabrik. Balek cuti ke, macam mane ni?"

​Bayu tersenyum kecut di balik kaca helmnya. "Habis kontrak, Bang. Ni balek nak numpang singgah je. Nunggu panggilan, baru balek sane."

​Bayu mengatakan itu lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada lawan bicaranya. Ia butuh terus mengingatkan otaknya: Ini cuma sementara. Aku cuma butuh tempat sampai panggilan kerja itu datang. Jangan libatkan perasaan apa pun.

​"Oh, macam tu pulak aturannye sekarang ye. Susah betol nak cari makan. Tapi tak pelah, Bang. Dapat kumpol keluarge dulu. Orang tue pasti suke anaknye balek."

​Kata-kata sederhana itu justru membuat dada Bayu terasa sesak. Ia memilih tidak membalas. Pandangannya kembali terlempar pada iring-iringan truk kayu di sebelahnya. Bayu menatap kendaraan-kendaraan raksasa itu lebih lama dari yang ia sadari.

​Dulu, ayahnya juga seperti itu.

​Bertahun-tahun hidup keluarga mereka didikte oleh suara mesin truk diesel. Berangkat sebelum azan subuh berkumandang dan baru mematikan mesin saat malam sudah sangat larut. Jalur lintas Perawang–Duri adalah seluruh dunia ayahnya: jalan aspal panjang yang membelah hutan akasia, debu merah yang mencekik, dan bau kayu basah yang menempel permanen di setiap serat kemejanya. Bayu masih ingat betul, sewaktu ia kecil, ia sering duduk di atas pagar kayu depan rumah, menebak-nebak kapan sorot lampu kuning dari truk ayahnya akan menyapu halaman. Kadang ayahnya pulang membawa bungkusan roti tawar untuk ia dan adiknya, Lina. Namun, lebih sering, ayahnya hanya pulang membawa tubuh yang ringsek oleh rasa lelah.

​Motor ojek itu akhirnya berbelok meninggalkan jalan utama, masuk ke jalan aspal kecil yang permukaannya sudah banyak terkelupas. Rumah-rumah warga mulai bermunculan. Sebagian besar masih terlihat sama seperti dalam ingatan Bayu; pagar-pagar berkarat, pekarangan sempit, hanya cat dindingnya saja yang kian memudar dan atap sengnya yang terlihat lebih rapuh dimakan cuaca. Waktu seolah tidak pernah benar-benar berhenti di tempat seperti ini. Ia hanya merayap pelan, menggerogoti segalanya sedikit demi sedikit tanpa disadari.

​"Dah sampai, Bang," kata sopir ojek itu sambil menepi di ujung sebuah gang kecil.

​Bayu turun dan memberikan beberapa lembar uang. Setelah mengucapkan terima kasih, motor itu pun berbalik arah dan menghilang di tikungan.

Lihat selengkapnya