Rute Terakhir Ayah

Ferdi Ferdian
Chapter #2

Orang Yang Tinggal

Dapur itu masih sama seperti lima tahun lalu. Sempit, pengap, dan beraroma campuran kunyit serta minyak jelantah. Dinding tripleks di bagian atas kompor mulai menghitam pekat akibat jilatan asap. Panci-panci aluminium penyok tergantung pasrah di paku-paku berkarat, sementara meja kayu di sudut ruangan dipenuhi goresan pisau yang sudah mengeras; menjadi sejarah kecil yang tak pernah dibersihkan.

​Bayu berdiri kaku di ambang pintu dapur, ragu untuk melangkah masuk. Ransel hitamnya masih menggantung berat di bahu, seolah ia belum benar-benar memutuskan apakah ia berhak menginjakkan kaki di ruangan ini.

​Lina sedang membelakanginya. Perempuan itu sibuk merobek bungkus kopi saset, menuangkan bubuk hitam itu ke dalam gelas kaca kusam, lalu menyeduhnya dengan air panas dari termos plastik. Gerakannya begitu cepat, efisien, dan mekanis. Seolah-olah ia sudah melakukan rutinitas sunyi itu ribuan kali tanpa perlu lagi melibatkan perasaan atau pikiran.

​Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan apakah Bayu sudah sarapan atau kelelahan di jalan. Yang terdengar hanyalah denting nyaring sendok yang beradu dengan dinding gelas.

​"Warung masih bukak, Lin?" tanya Bayu akhirnya. Suaranya terdengar serak dan asing, bahkan di telinganya sendiri. Memecah kesunyian di rumah itu terasa seperti sebuah pelanggaran.

​Lina tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengaduk kopi itu beberapa belas detik lebih lama dari yang diperlukan, menatap pusaran air hitam di dalam gelas, lalu mendorongnya perlahan ke tepi meja.

​"Kadang," jawabnya singkat. Tanpa menoleh.

​Bayu mengangguk pelan, meski ia tahu adiknya tidak melihat hal itu. Ia akhirnya melangkah masuk, menarik sebuah kursi plastik pudar yang salah satu kakinya sedikit goyah, lalu duduk. Ranselnya sengaja tidak ia lepas. Ia masih mempertahankan posisi tubuh layaknya seorang penumpang di ruang tunggu terminal.

​"Sepi?" tanya Bayu lagi, mencoba memungut sisa-sisa percakapan.

​"Macam nampak ramai ke warung kat depan tu?"

​Nada suara Lina sedatar air kolam yang mati. Tidak bernada tinggi, tidak juga setajam pisau. Namun, kehampaan dalam suaranya cukup untuk membuat Bayu mengerti: setiap pertanyaan basa-basi darinya hanya akan membentur tembok penolakan.

​Bayu kembali terdiam. Ia memperhatikan punggung adiknya lekat-lekat. Tulang bahu di balik kaus kebesaran itu tampak lebih menonjol sekarang. Rambutnya tidak lagi sehitam lebat masa remajanya, ada banyak helai kecokelatan yang kering dan bercabang, seperti terlalu sering terpapar terik matahari tanpa pernah mendapat perawatan. Lima tahun jelas bukan waktu yang sebentar untuk menanggung beban rumah ini sendirian.

​"Ayah..." Bayu menelan ludah, berhenti sejenak untuk mencari susunan kata yang tepat agar tak terdengar menghakimi. "Sering macam tu?"

​Gerakan tangan Lina terhenti. Namun, perempuan itu tetap menolak berbalik.

​"Sejak due tahun lepas," jawab Lina pelan, lebih terdengar seperti bergumam pada dinding. "Mula-mula cuma lupe letak barang. Lepas tu... mule lupe jalan balek. Sekarang..." Lina menghela napas pendek yang terdengar sangat lelah. "Kadang dia lupe orang."

​Kalimat terakhir itu jatuh lebih pelan dari yang lain, namun menghantam dada Bayu paling keras. Bayu menunduk. Jari-jarinya yang kasar bersilang erat, saling mengait di atas lututnya yang gemetar.

​"Kenape tak bagitau aku?"

​Mendengar pertanyaan itu, Lina mengeluarkan tawa kecil. Bukan tawa yang hangat, melainkan lebih seperti embusan napas sinis yang dipaksa keluar dari kerongkongan.

​"Bagitau untuk ape?"

Lihat selengkapnya