Darah segar yang mengering di punggung tangan Ayuni terasa lebih nyata daripada semua argumen logis di kepala Ashana. Tiga goresan merah yang rapi. Luka cakar.
"Ini apa, Yun?" tanya Mita, suaranya tercekat. Ia menunjuk luka itu dengan jari gemetar, tak berani menyentuh. "Tadi ini nggak ada."
Ayuni menarik tangannya dengan cepat, menatapnya dengan ngeri seolah itu adalah tangan monster. "Aku... aku nggak tahu, Mit, beneran," isaknya, tubuhnya gemetar hebat.
"Rasanya perih,"
"Tentu saja perih, ini luka baru!" desis Mita. Matanya yang biasanya jenaka kini menyala karena campuran panik dan marah. Ia menoleh tajam ke arah Ashana.
"Lo masih mau bilang ini semua cuma karena kecapekan?"
"Mit, jangan bikin dia tambah panik," sahut Ashana, suaranya lemah. Tapi pembelaannya terdengar hampa, bahkan di telinganya sendiri. Bukti fisik itu ada di depan matanya. Darah itu nyata.
"Panik? Gue nggak panik, gue marah!" bentak Mita, suaranya cukup keras untuk membuat beberapa tamu di meja sebelah menoleh.
"Lihat kondisi Ayuni! Dengerin apa yang dia bilang! Dan lo... lo masih mau pura-pura semuanya baik-baik aja? Sebenarnya ada apa, Shana?"
"Aku nggak bisa cerita di sini," bisik Ashana, matanya memohon. Mita menatap Ashana tajam selama beberapa detik, lalu menghela napas kasar.
"Oke. Kita bawa Ayuni pulang dulu sekarang," Ia segera memanggil pelayan dan membayar tagihan dengan gerakan cepat dan efisien, mengambil alih situasi.
"Gue yang nyetir mobil lo, Yun. Lo nggak mungkin bisa nyetir."
Di dalam mobil, keheningan terasa menyesakkan, Ayuni hanya meringkuk di kursi belakang, sesekali isakannya terdengar lirih. Ashana duduk di kursi penumpang depan, menatap kosong ke jalanan yang ramai, kata-kata dari arwah itu terus berputar di kepalanya: darah yang belum lunas. Apakah ini yang dimaksud?
Setelah mengantar Ayuni sampai ke kamarnya dan memastikannya sedikit lebih tenang, Mita menarik Ashana keluar dari apartemen Ayuni.
"Sekarang lo ngomong," tuntut Mita di lorong yang sepi.
"Nggak ada tapi atau alasan lain, jelasin semuanya,"
Ashana akhirnya runtuh, dengan suara bergetar dan air mata yang tak henti mengalir, ia menceritakan segalanya. Tentang bayangan di cermin saat ruwatan, aroma melati busuk, tusuk konde yang melayang, dan puncaknya... tentang malam pertamanya yang dirampas. Wajah Mita berubah dari marah menjadi pucat pasi. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, tangannya menutup mulut, matanya membelalak ngeri.
"Jadi... pas lo sama Ravindra..." Mita tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ashana mengangguk lemah.
"Aku cuma bisa nonton, Mit, dari sudut ruangan,"
Mita mengumpat pelan.
"Benar-benar keterlaluan!" Ia menatap Ashana dengan sorot mata yang baru, penuh simpati.
"Kenapa lo nggak cerita dari awal, Shana?"
"Dia ngancem aku," isak Ashana.
"Dia bilang kalau aku ngomong, dia bakal ambil nyawa Ravindra,"
"Makanya tadi listrik di kamar lo aneh waktu Ravindra cerita sama gue!" potong Mita, membuat sebuah koneksi.
"Jadi dia ngawasin lo?"