Ruwatan Misteri

Nurul Adiyanti
Chapter #44

Pengakuan Gea

Kartu nama itu tergeletak di atas meja, di bawah sorot lampu yang dingin dan kejam. Tulisannya yang rapi dan terkendali yaitu,‘Ruwatan bisa dibelokkan’ terasa seperti vonis yang telah ditulis bertahun-tahun lalu. Gea menatapnya dengan tatapan kosong, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.

"Jadi... ini," bisik Gea, suaranya parau.

"Ini bukan cuma iri hati, Shana. Ini... ini pembunuhan berencana," Gea semakin yakin bahwa yang telah terjadi selama ini yaitu pembunuhan, apalagi teror yang selalu menghantui mereka.

Ashana tidak menjawab, Ia hanya menatap kosong ke kartu nama itu. Amarahnya sudah padam, berganti menjadi hawa dingin yang membekukan, yang merayap dari perutnya hingga ke ujung jarinya.

"Dia bukan cuma merencanakannya, Ge, dia mempelajarinya sampai bisa membuat kita semua celaka begini. Tapi sumber yang dia benci adalah aku,"

"Mempelajari apa? Ilmu hitam?" Gea tertawa histeris, tawa yang kering dan tanpa humor.

"Sejak kapan Hilda jadi anggota sesat sampai menyelakakan semua sahabatnya sendiri?"

"Dia nggak perlu jadi anggota untuk menjadi anggota yang sesat untuk mencapai tujuannya," Ashana mengangkat kepalanya, menatap Gea dengan sorot mata yang tajam dan menusuk.

"Dia cuma perlu tahu kelemahanku dan dia mempelajarinya dari orang yang paling dekat denganku,"

"Maksudmu?" tanya Gea, nadanya waspada.

"Kamu juga, Gea" kata Ashana, suaranya datar dan tanpa emosi. Gea tersentak, mundur selangkah seolah tertampar.

"Apa? Aku gak ngerti maksudmu, Shan, kenapa tiba-tiba jadi aku?"

"Ada yang belum kamu ceritain, Ge," lanjut Ashana, tidak mengalihkan pandangannya.

"Sesuatu yang kamu lihat, sesuatu yang kamu tahu, tapi kamu terlalu takut buat ngakuinnya. Bahkan ke dirimu sendiri,"

"Nggak ada!" balas Gea cepat, suaranya sedikit melengking.

"Sumpah, Shana! Aku udah ceritain semua yang aku tahu! Soal dia yang ngambil tusuk konde itu…"

"Ini bukan tentang tusuk konde," potong Ashana dingin.

"Aku nggak ngomongin tentang apa yang kamu lihat, tapi tentang apa yang kamu rasain,”

"Aku masih nggak ngerti!"

"Kamu selalu tahu ada yang aneh sama dia, kan?" desak Ashana, bangkit dari kursinya. Ia mulai berjalan pelan mengitari meja, seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.

"Sejak dulu, bahkan dari zaman SMA. Kamu nggak pernah benar-benar percaya sama senyum manisnya, juga semua kata-kata simpatinya," Gea menelan ludah, tidak menjawab.

"Jawab aku, Ge!" tuntut Ashana, suaranya kini sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. "Kamu selalu merasa dia pakai topeng, kan?"

"Aku..." Gea memalingkan wajah, menatap ke arah jendela yang gelap.

"Aku nggak tahu, Shana, mungkin,"

"Bukan mungkin," desis Ashana.

"Kamu tahu itu dan sejak aku ngomongin tentang ruwatan yang kujalani waktu itu, kamu pasti ngerasain sesuatu yang lebih aneh lagi dari dia, kan?"

Gea masih diam, bahunya menegang. Ashana berhenti tepat di hadapannya.

Lihat selengkapnya