Ruwatan Misteri

Nurul Adiyanti
Chapter #45

Tusuk Konde Ditemukan

Gea menatap Ashana, lalu menatap tas jinjing di sudut ruangan seolah itu adalah seekor ular yang sedang tidur.

"Bongkar?" ulangnya, suaranya nyaris berbisik.

"Shana, ini tasnya Hilda. Isinya cuma buku catatan, kan?"

"Aku nggak percaya lagi sama apa pun yang kelihatannya normal, Ge," sahut Ashana, suaranya dingin dan tanpa emosi.

"Aku juga nggak percaya lagi sama apa pun yang berhubungan sama dia, ambil aja tas itu,"

Gea ragu sejenak, menatap mata Ashana yang menyala dengan tekad yang mengerikan. Tanpa membantah lagi, ia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil tas itu, membawanya ke meja makan seolah sedang membawa bom. Benda itu tergeletak di antara dua gelas air putih, sebuah objek feminin yang normal di tengah suasana yang tidak normal.

"Oke, terus gimana?" tanya Gea, tangannya melayang di atas ritsleting tas, ragu.

"Mau aku keluarin lagi bukunya?"

"Kosongkan semuanya," perintah Ashana.

Dengan tangan gemetar, Gea membuka ritsleting utama. Ia membalik tas itu dan isinya jatuh ke atas meja. Hanya buku catatan bersampul kain pastel. Kosong.

"Lihat, kan?" kata Gea, nadanya sedikit lega.

"Cuma buku,"

"Aku nggak bilang cuma isinya, Ge," balas Ashana, matanya yang tajam memindai setiap jengkal tas itu.

"Periksa setiap kantongnya, yang di luar dan juga di dalam. Setiap celahnya benar-benar kosong,"

Gea menghela napas, tapi menurut, Ia membuka saku depan yang kecil dan lagi-lagi kosong. Ia merogoh kantong dalam beresleting dan itu benar-benar kosong.

"Nggak ada apa-apa, Shana," katanya, terdengar lelah.

"Cuma debu sama struk belanjaan lama,"

"Lapisan dasarnya," desis Ashana, matanya menyipit.

"Coba kamu raba, apa terasa lebih tebal di salah satu bagian?" Gea memasukkan tangannya lagi, jari-jarinya menekan-nekan lapisan kain di dasar tas.

"Rasanya... sama aja? Aku nggak ngerasain apa-apa,"

"Kasih sini." Ashana merebut tas itu, instingnya mengambil alih. Jarinya yang kurus menelusuri setiap jahitan di bagian dalam dengan teliti. Ia menekan, meremas, merasakan tekstur kainnya.

"Nggak mungkin," gumamnya frustrasi.

"Nggak mungkin kalau cuma segini,"

"Mungkin kita salah, Shana," kata Gea pelan.

"Mungkin dia nggak sebodoh itu ninggalin bukti di tas yang dia tinggal,"

"Dia sombong, Ge," balas Ashana, tidak menyerah.

Lihat selengkapnya