Ruwatan Misteri

Nurul Adiyanti
Chapter #46

Pelepasan Ikatan

Senyum di wajah Hilda yang terpantul di cermin itu adalah kesempurnaan yang mengerikan, sebuah topeng kemenangan yang terbuat dari mimpi buruk Ashana. Gea terkesiap, menarik napas dengan kasar, tangannya yang baru saja menyentuh tusuk konde itu ia tarik kembali seolah tersengat api neraka.

"Ada Hilda," isaknya, suaranya pecah menjadi bisikan teror.

"Dia di sana, Shana,"

"Dia tersenyum," lanjut Gea, menggelengkan kepalanya dengan kuat seolah ingin mengusir bayangan itu dari retinanya.

"Dia... dia nggak kelihatan kayak Hilda, dia cantik banget, sempurna,"

"Itu bukan Hilda," sahut Ashana, suaranya sedingin batu nisan. Ia tidak perlu melihat lagi ke cermin untuk tahu. Ia sudah merasakannya. Rasa kemenangan yang memuakkan itu merayap di udara, memancar dari pantulan cermin itu seperti hawa dingin dari daging yang membusuk.

"Arwah itu, dia sudah menyatu dengannya,"

"Menyatu gimana?!" pekik Gea tertahan.

"Jadi Hilda beneran..."

Dengan kedipan mata, ilusi itu lenyap. Pantulan di cermin kembali normal, hanya menampilkan punggung Ashana dan wajah Gea yang pucat pasi di belakangnya. Ruangan itu kembali terasa sunyi.

"Kita harus bawa benda ini pergi," kata Ashana tegas, menyapu sembilan tusuk konde tanduk itu dan membungkusnya kembali dengan kain beludru hitam.

"Kita nggak punya waktu lagi,"

"Bawa ke mana?!" tanya Gea, suaranya melengking.

"Nggak ada tempat yang aman, Shana!"

"Ada satu," jawab Ashana, meraih kunci mobilnya dari atas meja.

"Kita balik ke Mbah Wiryo sekarang juga,"

Perjalanan kembali ke pedalaman Jawa itu terasa seperti melarikan diri dari kejaran waktu. Gea memacu mobilnya, melesat melewati jalanan yang mulai ramai oleh para petani yang berangkat ke sawah. Ashana duduk diam di kursi penumpang, memeluk bungkusan beludru hitam itu erat-erat di pangkuannya. Benda itu terasa dingin, dingin yang hidup, dan seolah berdenyut samar di balik lapisan kainnya.

Mereka tiba di rumah joglo yang asri itu saat matahari mulai meninggi. Mbah Wiryo sudah duduk di teras, sama seperti kemarin, seolah ia tidak pernah beranjak dari kursinya. Ia menatap kedatangan mereka dengan sorot mata yang tenang namun tajam, seolah sudah tahu apa yang mereka bawa.

"Sudah ketemu," katanya, bukan sebagai pertanyaan.

"Ada di tas Hilda, Mbah," lapor Gea, suaranya masih gemetar.

"Dia sembunyiin di lapisan dasar tasnya dibuat kantong rahasia,"

"Dia bukan sekadar menyembunyikannya," sahut Mbah Wiryo pelan, matanya tertuju pada bungkusan di pangkuan Ashana.

"Dia memberinya makan,"

Jantung Ashana mencelos.

"Memberi makan dengan apa, Mbah?"

"Dengan kebencian," jawab Mbah Wiryo.

"Benda itu hidup dari energi negatif, semakin besar rasa iri dan dendamnya, semakin kuat pula ikatan mereka," Ia mengulurkan tangannya yang keriput.

Lihat selengkapnya