Ruwatan Misteri

Nurul Adiyanti
Chapter #47

Sebuah Kepergian yang Membebaskan

Ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan aroma menyengat dari energi gaib yang baru saja lenyap. Ashana terduduk lemas di atas tikar, napasnya tersengal, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Di sampingnya, Mbah Wiryo tampak begitu tua dan rapuh, seolah ritual barusan telah menyedot sepuluh tahun usianya.

"Wadah baru?" tanya Gea dari ambang pintu, suaranya parau dan gemetar.

"Wadah baru siapa, Mbah? Maksud Mbah... si Hilda?"

Mbah Wiryo menggeleng pelan, matanya yang lelah menatap Ashana dengan sorot yang dipenuhi duka.

"Temanmu itu bukan lagi sekadar wadah, tapi dia telah menjadi satu dengan arwah itu," katanya, suaranya serak.

"Perjanjian darahnya telah lunas, dia mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu kekuatan untuk merampas. Dan arwah itu mendapatkan apa yang ia dambakan: sebuah raga yang rela dan penuh kebencian untuk ia sebut rumah,"

"Jadi Hilda... dia sekarang Pengantin Hijau yang baru?" bisik Ashana ngeri.

"Dia lebih dari itu," jawab Mbah Wiryo.

"Dia adalah Pengantin Hijau yang disempurnakan dengan dendam arwah dengan kelicikan manusia, kalian harus sangat berhati-hati. Ikatan resminya denganmu memang sudah putus, Nduk. Tapi ikatannya dengan duniamu... baru saja dimulai."

*

Tiga hari berlalu, Ashana kembali ke apartemennya yang kini terasa begitu luas dan kosong. Gea sudah pulang ke rumahnya, berjanji akan menelepon setiap jam. Ravindra masih belum kembali dan Ashana tidak tahu harus merasa lega atau sedih. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, apartemen ini tidak terasa mengancam. Tidak ada hawa dingin yang menusuk, tidak ada bayangan yang bergerak di sudut matanya, heningnya kini hanyalah hening biasa, bukan keheningan yang menunggu untuk menerkam.

"Sudah selesai," bisiknya pada ruangan kosong itu.

Sebuah dorongan aneh menggerakkannya, Ia tidak beristirahat melainkan berjalan menuju kamar pengantin mereka. Ia membuka semua gorden, membiarkan cahaya matahari sore yang pucat membanjiri ruangan. Ia menarik sprei dan selimut dari ranjang, melemparkannya ke lantai dengan kasar. Ia membuka lemari, mengeluarkan semua pakaiannya dan Ravindra.

Ia mulai membersihkan dan menggosok setiap permukaan, menyedot setiap sudut, menyemprot setiap kaca dengan cairan pembersih beraroma lemon yang tajam. Ia ingin menghapus setiap jejak, setiap kenangan buruk, setiap sisa-sisa bau melati busuk yang mungkin masih menempel di serat kain. Ia ingin merebut kembali ruangannya, centimeter demi centimeter.

Setelah satu jam yang melelahkan, kamar itu tampak berbeda. Menjadi lebih segar, terang, dan normal. Hanya ada satu hal yang tersisa, cermin besar di atas meja rias, musuh lamanya. Jantungnya mulai berdebar kencang saat ia mendekat. Tangannya yang memegang lap terasa gemetar, sudah tiga hari ia sengaja menghindari semua pantulan. Ia takut jika ia melihat ke sana dan menemukan wajahnya sudah tidak ada. Atau lebih buruk lagi, melihat wajah Hilda yang tersenyum di sana.

"Cuma cermin biasa," katanya pada dirinya sendiri, suaranya serak.

Dengan napas tertahan, ia mengangkat kepalanya. Matanya yang lelah bertemu dengan pantulannya.

Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam pekat di bawah matanya, dan rambutnya sedikit berantakan. Ia tampak seperti orang yang baru saja selamat dari perang. Tapi itu... wajahnya sendiri, tidak ada kebaya hijau, tidak ada sanggul, tidak ada senyum mengerikan, hanya dirinya sendirian.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa seperti selamanya, air matanya jatuh bukan karena takut, tapi karena lega. Isak tangisnya pecah, bergema di kamar yang kini bersih itu. Ia menatap pantulannya yang juga sedang menangis. Bayangan itu menirukan setiap gerakannya dengan sempurna. Bayangan itu miliknya lagi.

Saat ia sedang menangis di depan cermin, suara kunci yang diputar di pintu depan apartemen menyentakkannya. Jantungnya mencelos, Ravindra, Ia cepat-cepat mengusap air matanya, berjalan keluar kamar dengan langkah ragu. Ravindra berdiri di ambang pintu, sebuah tas travel kecil tergeletak di samping kakinya. Wajahnya tampak lebih lelah dari Ashana, matanya merah dan ada kerutan baru di dahinya.

"Rav," sapa Ashana pelan. Ravindra menatapnya, lalu menatap sekeliling apartemen yang terasa berbeda.

"Kamu... lagi bersih-bersih?"

"Iya," jawab Ashana. Hening yang canggung menyelimuti mereka.

Lihat selengkapnya