Jari-jarinya yang gemetar terasa kaku, dingin seperti es, saat menyentuh ukiran kecil di balik liontin itu. Simbol yang sama. Rajah yang sama, bukan lagi tersembunyi di balik lukisan atau tergores di rumah mati, tapi kini tergantung di dadanya, sebuah hadiah cinta dari suaminya sendiri.
"Indah sekali, Rav," bisik Ashana, suaranya nyaris hilang. Setiap kata terasa seperti kebohongan pahit di mulutnya. Ia memaksakan seulas senyum, berharap otot-otot di wajahnya tidak berkhianat. Ravindra tersenyum lega, kebahagiaan tulus di matanya membuat perut Ashana serasa dicabik-cabik.
"Aku tahu kamu bakal suka," Dia merengkuh Ashana, memeluknya erat.
"Lihat? Kita bisa, kan? Kita bisa normal lagi seperti dulu tanpa mikirin si hantu itu,"
Normal, kata itu terasa begitu asing, pelukan Ravindra yang seharusnya menjadi tempat teraman di dunia kini terasa seperti jerat ular semenjak kejadian ruwatan sampai dendamnya pengantin hijau.
"Bisa, Rav," jawabnya lirih, membalas pelukan itu dengan kaku.
"Kita bisa."
_
Keesokan paginya, Ashana merasa seperti sedang berjalan di dalam mimpi buruk yang terang benderang. Ravindra tampak begitu bersemangat, menyeduh kopi sambil bersenandung kecil. Seolah pertengkaran hebat mereka, surat perpisahannya, dan tatapan hijau di cermin tidak pernah terjadi.
"Setelah sarapan, kita jenguk Mita sama Ayuni, ya?" kata Ravindra sambil meletakkan secangkir kopi di hadapan Ashana.
"Kita harus tunjukkin ke mereka kalau kita baik-baik aja biar mereka nggak khawatir lagi,"
"Iya, kau benar, Rav." Sahut Ashana, menatap uap kopi yang mengepul. Ia ingin berteriak dan ingin bilang kalau mereka sama sekali tidak baik-baik saja.
.
Ketika perjalanan ke rumah sakit, Ravindra terus berceloteh tentang rencana mereka liburan ke Jepang, renovasi apartemen, nama untuk anak pertama mereka nanti. Ashana hanya menjawab dengan gumaman singkat. Liontin perak itu terasa berat dan dingin di dadanya, menekan kulitnya seperti sebuah cap.
Mereka mengunjungi ruang ICU Mita terlebih dahulu, seorang perawat yang ramah menyambut mereka dengan senyum.
"Kondisinya menunjukkan peningkatan pesat pagi ini," kata perawat itu.
"Tekanan darahnya stabil, dan respons otaknya juga membaik, ini sungguh keajaiban,"
"Tuh kan, apa aku bilang," bisik Ravindra di telinga Ashana, menggenggam tangannya dengan erat.
"Semuanya akan baik-baik aja."
Di dalam, Mita masih terbaring seperti mumi, tetapi mesin-mesin di sekelilingnya terdengar lebih tenang, ritmenya lebih stabil. Ashana berdiri di samping ranjang, menatap wajah sahabatnya yang masih bengkak. Rasa bersalah menggerogotinya.
"Dia kuat," bisiknya.
"Dia memang kuat," sahut Ravindra dari belakangnya, meletakkan tangannya di bahu Ashana.
"Ayo, biarkan Mita istirahat. Kita ke tempat Ayuni sekaran,"
Kamar rawat Ayuni terasa seperti dunia lain, jendelanya terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari pagi dan suara samar lalu lintas masuk. Ayuni sedang duduk bersandar di ranjangnya, membaca sebuah novel tipis. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya tidak lagi dipenuhi teror. Ia terlihat antara tenang dan lelah.
"Lho? Kalian?" sapa Ayuni, seulas senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat mereka.