Ravindra mengedipkan matanya perlahan, sebuah gerakan yang terlalu tenang, dan juga terlalu lambat. Ia menatap Ayuni yang pucat pasi, lalu menoleh ke Ashana dengan seulas senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Hasrat? Kalian ngomongin apa, sih?"
"Lagi pula ini jus jeruk biasa, kok. Nggak mungkin ada hasrat aneh di dalamnya," kata Ravindra, mengabaikan ketegangan yang menyesakkan seisi ruangan.
"Bukan jusnya, Rav," sahut Ashana, suaranya gemetar.
"Sudah, Sayang," potong Ravindra, nadanya lembut tapi final.
"Ayuni baru sembuh, jangan dibebani dengan obrolan yang berat-berat, ya? Nanti dia stress lagi," Dia menoleh ke Ayuni,
"Kamu minum jusnya, istirahat yang banyak, kami pamit dulu,"
"Tapi Rav, kita belum selesai..."
"Kita sudah selesai," kata Ravindra tegas. Ia menggenggam tangan Ashana, tarikannya lembut namun memaksa.
"Ayo pulang, Sayang. Kamu juga butuh istirahat."
Ayuni tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Ashana dengan sorot mata yang dipenuhi ketakutan dan peringatan bisu, sebelum akhirnya menunduk menatap gelas jus di tangannya seolah itu adalah racun. Perjalanan pulang di dalam mobil terasa seperti berada di dalam ruang hampa. Ravindra menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan santai memutar-mutar kenop radio, mencari lagu yang ceria. Ia bersenandung pelan mengikuti irama musik pop yang riang, seolah percakapan mengerikan di rumah sakit barusan hanyalah angin lalu. Ashana hanya bisa menatapnya dari kursi penumpang, setiap nada sumbang dari senandung suaminya terasa seperti goresan kuku di papan tulis.
"Kamu nggak denger apa yang Ayuni bilang tadi?" tanyanya, tidak sanggup lagi menahan keheningan yang memuakkan itu.
"Denger, kok," jawab Ravindra enteng, matanya tetap fokus ke jalanan.
"Dia bilang dia ngerasa aneh. Wajar, kan? Dia baru aja ngalamin trauma,"
"Bukan itu," desis Ashana.
"Dia bilang arwah itu nempel sama kamu," Ravindra tertawa kecil.
"Sayang, Heyyy... Ayuni itu penulis novel horor. Pikirannya pasti penuh sama hal-hal kayak gitu. Udah, ya? Jangan dipikirin, kita fokus sama diri kita sendiri. Lihat, Mita udah mulai membaik, Ayuni sebentar lagi pulang dan semuanya kembali normal,"
"Nggak ada yang normal, Rav!" balas Ashana, suaranya sedikit meninggi.
"Liontin yang kamu kasih ini! Di belakangnya ada rajah itu!"
"Cuma tanda pengrajin, Ashana," sahut Ravindra sabar, seolah sedang menenangkan anak kecil yang rewel.
"Jangan lihat hantu di setiap bayangan, dong,"
Ashana menyandarkan kepalanya ke jendela yang dingin, memejamkan mata. Meskipun semua itu percuma, Ia berbicara dengan Ravindra sekarang seperti berbicara dengan dinding yang tersenyum. Sepanjang sisa hari itu, Ashana menjaga jarak. Ia mengunci diri di ruang kerjanya dengan alasan ada proyek mendesak. Dari celah pintu, ia bisa mendengar Ravindra menonton film, tertawa terbahak-bahak di beberapa adegan. Tawa itu tidak lagi terdengar hangat, tawa itu terdengar kosong. Saat malam tiba dan ia yakin Ravindra sudah tertidur, Ashana menyelinap keluar dari apartemen. Ia sudah tidak tahan. Ia menelepon Gea.