Ruwatan Misteri

Nurul Adiyanti
Chapter #50

Senyum Pengantin Hijau [SELESAI]

Selembar kertas robek itu terasa dingin dan kaku di jari-jari Ashana. Tulisan Hilda menari-nari, mengukir kehancuran.

"Aku membukanya agar Pengantin Hijau bisa datang dan mengambil apa yang layak ia dapatkan. Aku memberinya darahku, aku memberinya rumahmu. Dan ia memberiku.... takdir yang seharusnya kuraih."

Napas Ashana tercekat, membiakkan kekosongan yang membakar di dalam dadanya. Ia tidak punya waktu, yang harus Ia lakukan sekarang adalah mencari Ravindra. Hatinya pun mencelos, mungkinkah Ayuni benar? Mungkinkah 'hasrat' Pengantin Hijau itu menempel pada suaminya, menutupi matanya dari semua kebenaran yang begitu gamblang?

Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan kertas terkutuk itu ke atas meja dan berlari. Gea yang sedari tadi terpaku, tersentak.

"Shana! Mau ke mana?"

Ashana tidak menjawab, Ia menerjang pintu, menerabas lorong apartemen Gea yang sempit, Ia benar-benar panik panik sekarang. Jantungnya berdebar-debar di balik tulang rusuk, menabuh genderang keputusasaan yang dingin. Ia butuh Ravindra dan harus bicara dengannya, meskipun hatinya sudah tahu itu mungkin sia-sia.

"Aku harus menemui Ravindra," desis Ashana saat ia membanting pintu taksi di depan apartemennya sendiri, napasnya tersengal.

"Shana, tenang! Dia sudah dihipnotis, Ashana! Dia tidak akan percaya lagi sama kamu!" Gea yang masih panik, mencoba menahannya, memeluk lengannya erat-erat.

"Tidak peduli!" bentak Ashana, mendorong Gea. Suaranya pecah dan penuh amarah yang tumpul.

"Aku tidak peduli! Aku tidak akan menyerah tanpa berusaha! Ayo masuk!"

Keduanya berlari memasuki lobi apartemen yang lengang, kemudian menerjang masuk ke dalam lift yang sunyi. Setiap detik terasa seperti berhari-hari. Ashana memejamkan mata, memohon agar ia belum terlambat. Agar mata Ravindra masih bisa melihat dirinya, agar telinga Ravindra masih bisa mendengar suaranya.

Pintu lift terbuka di lantai apartemen mereka. Lorong itu remang-remang dan hening, pintu unit apartemen Ashana yang seharusnya sudah terkunci, kini sedikit terbuka. Dan dari celah itu, terdengar suara Ravindra. Suaranya terdengar... tertawa. Tawa renyah, geli, seolah sedang bercengkerama dengan orang yang sangat akrab dengannya, seseorang di telepon.

"Tidak," bisik Ashana ngeri, lututnya terasa lemas.

"Tidak mungkin."

Ia berjalan perlahan, kaku, mendekati pintu itu. Gea mengikutinya dari belakang, napasnya tertahan. Jantung Ashana berdegup semakin kencang saat ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang remang-remang.

Ravindra duduk di sofa, punggungnya menghadap pintu. Di telinganya, sebuah ponsel tertempel erat. Dia tersenyum, senyum yang merekah dan lebar, tapi yang membuat perut Ashana serasa melilit adalah, senyum itu terasa... palsu. Hampa.

"Ravindra," panggil Ashana, suaranya parau, nyaris tidak terdengar.

Lihat selengkapnya