SAAM HANUM

Ana Dzikriani Thaibah
Chapter #1

Prolog

Jakarta, 2005

 

Rutinitas pagi memang sangat sibuk, ada mereka yang mulai membuka toko khusus sarapan pagi, ada yang berangkat kerja menggunakan kereta, bus, angkutan kota, ojek manual, ada juga yang memilih memesan kendaraan secara online atau malah menggunakan kendaraan pribadinya.

Para pencari nafkah dalam perjalanan menuju tempat bekerja biasanya mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing, sekadar mencari informasi terbaru. Mereka tidak dapat menikmati itu tanpa pemberi informasi, terkadang kebanyakan dari kita tidak tahu orang yang memberi informasi juga dalam proses bekerja seperti yang dilakukan semua orang. Ada yang menyajikan berita, menyiarkan radio, semua harus bekerja.

Mereka yang menimba ilmu belajar ke kampus atau ke sekolah, ilmu dan kiasan yang dapat mereka baca adalah buah karya dari seorang penulis. Mayrin Munah memulai rutinitas sekolahnya dengan mengendarai Busway, dia sembari mendengarkan radio yang menurutnya asyik untuk dirinya yang masih anak SMA. Menutup buku pelajaran yang dia baca, lantas Mayrin Munah menulis pesan pada radio itu yang isinya meminta untuk dibacakan agar semangat menjalani harinya, tidak lupa juga dia request lagu “Ceria” dari J-Rocks. Senyumnya merekah dengan corner dimple manis kala pesannya dibacakan dan lagunya segera diputar penyiar radio, di depan sekolah ada pengurus OSIS yang memeriksa kerapian siwa/i dan Mayrin Munah lupa memakai rok yang sudah mengatung, tetapi untungnya para pengurus OSIS membiarkan Mayrin Munah melanjutkan pergi ke kelas dengan rok mengatung itu, karena kakinya tertutup kaus kaki putih panjangnya.

Jam setelah istirahat di Rabu adalah bagian mata pelajaran IPA dan saat itu Mayrin Munah ada dalam laboratorium IPA untuk praktik, rambut Mayrin Munah yang panjang dan sedikit keriting mengait pada gagang pintu alat-alat laboratorium IPA saat dia menutup kembali lemari untuk mengambil wadah. Sudah Bu Ruth bilang berkali-kali kuncir rambutnya supaya tidak repot saat praktik, tetapi Mayrin Munah hanya cengengesan karena dia hanya kurang suka rambutnya diikat.

  Wali Kelas adiknya menelpon Mayrin Munah untuk segera menjemputnya, jarak dari SMA ke SD tempat bersekolah adiknya cukup dekat dengan menggunakan angkutan umum 10 menit, tetapi dia sangat bergegas karena guru juga butuh pulang dan beristirahat. Pagi hari Dendra berangkat dengan orang tuanya di motor dan kakaknya yaitu Mayrin Munah menggunakan Busway, tetapi jika waktu pulang dia dijemput kakaknya karena orang tuanya masih dalam jam bekerja di Bank. Siang itu tidak seperti biasanya karena orang tua mereka sedang berkemas dan itu membuat Mayrin dan Dendra kebingungan, lebih membingungkan lagi saat Mama yang melahirkan mereka menyodorkan uang di amplop, tetapi Dendra melempar amplopnya dan berkata “Bisakah Papa dan Mama di Bank saja dan berhenti berjudi?!” Sontak membuat Mayrin Munah terkejut. Suatu saat Dendra tidak sengaja mendengar orang tuanya menerima telepon dari seseorang dan telepon itu dalam keadaan loudspeaker, ingin bercerita pada kakaknya tetapi mungkin tidak akan percaya dengan apa yang didengar anak SD.

Mama mereka menyuruh berkemas karena ada orang yang mencari orang tuanya, Dendra menolak keras dan tidak akan ikut karena hanya ingin bersama kakaknya. Bagi Dendra orang tuanya sangat mengecewakan. Namun bukannya membuat anaknya agar tidak semakin marah, Papa mereka malah keluar rumah dan naik mobil baru yang disusul mamanya. Mayrin Munah dan Dendra sudah terlalu kecewa pada orang tuanya, menangis pun tidak ada gunanya, tidak lama setelah kepergian orang tuanya pihak Bank menyegel Apartemen orang tuanya karena ketahuan menggunakan uang Bank untuk berjudi. Meskipun menyegel, bankir yang merupakan teman orang tua Mayrin dan Dendra pun tidak sampai hati mengusir dengan kasar, dia malah memberi kartu namanya dan menawarkan untuk sementara tinggal bersamanya, tetapi Mayrin menolak dengan alasan akan mengontrak bersama adiknya.

“Kalau begitu, biarkan Om dan Tante mengantarkan kalian ya untuk mencari kontrakannya? Nama Om Alex, kalau Tante cantik ini namanya Tamara,”

“Iya, jangan takut. Kami ini rekan orang tua kalian, Tante juga punya anak seusia adikmu ini. Kalau si Om ini dia belum punya anak karena belum menikah,” Dendra yang polos hanya mendengar ucapan Om dan Tante Bankir ini. Lantas Om dan Tante bankirnya hanya tersenyum sambil mengelus rambut Dendra.

“Gak tega gue anak masih sekolah gini mereka tinggal,” bisik Tamara.

“Huss, jangan kencang-kencang ngomongnya.” Alex menjawab dengan bisikan juga. “Ayo naik mobil Om dulu,” lanjutnya.

“Om, antarkan kami sampai gang kontrakan saja. Aku kenal bapak kontrakannya, dia bapak temanku,”

“Baiklah ade cantik.” Mereka juga tidak meninggalkan Mayrin dan Dendra hanya berdua membereskan pakaian dan barang-barang lain ke kosannya, mereka menghubungi walinya yaitu Om dan Tante mereka dan segera menyusul keponakannya itu.

“Mayrin aku dan bapak juga mau bantuin yaa.” Mayta tiba dengan baju kotornya karena baru selesai main bola dengan anak laki-laki gang rumahnya. Mayta adalah teman kecil Mayrin. Mayrin tersenyum pada teman lamanya itu, dia masih saja tomboy sama seperti dulu. “Tapi aku mandi dulu ya.” Mayrin mengangguk, bapak kosan atau bapaknya Mayta datang dengan kasur baru untuk penghuni baru juga.

Sejak kemarin Alex dan Tamara sulit menghubungi walinya Mayrin dan Dendra, dan keesokan harinya dia mendatangi rumah walinya untuk memberi tahu keberadaan dua keponakannya itu. Tantenya datang terlambat kemarin, karena apartemen saudarinya sudah ada garis polisinya. Sejak kemarin mereka kesulitan mencari keberadaan keponakannya itu.

“Pah, ini ada rekan Dara dan Dira. Mereka tahu keberadaan anak-anak, Papa apa kita bisa ke sana sekarang?”

“Papa sedang ada tamu penting di kantor, Mama siap-siap saja dulu nanti agak sorean pekerjaan Papa sudah selesai lalu kita ke sana bersama-sama.”

Lihat selengkapnya