SAAM HANUM

Ana Dzikriani Thaibah
Chapter #2

Mundo De Ensueno

Mayrin sekarang sudah mau lulus SMA, dia masih bingung dengan impiannya sendiri. Hari itu sekolahnya mengadakan bakti sosial sebagai syukuran selesai ujian, hanya menunggu selangkah lagi dia akan pergi ke dunia baru.

“Aduh!” Mayrin bertubrukan dengan seorang laki-laki yan tampaknya lebih tua 3-5 tahun darinya, wajahnya penuh jenggot dan kumis tipis.

“Maaf.”

“Apa kamu belum bercukur?” Mayrin bertanya demikian, dan laki-laki itu seperti bingung orang yang baru kali pertama berpapasan bertanya demikian. Dia hanya mengangguk. “Ini aku ada cukur, awalnya untuk omku tetapi nanti gampang aku beli lagi saja,”

“Oh?” laki-laki itu semakin bingung, tetapi tangannya menerima.

“Sama-sama.” Lantas dia tertawa kecil, Mayrin Hanum pergi begitu saja karena bakti sosialnya belum selesai. Bukan hanya memberikan sembako, tetapi dia dan teman-temannya akan membersihkan panti asuhannya juga.

 

Sebenarnya Mayrin belum tenang setelah ujian, dia harap-harap cemas menunggu kabar kelulusannya. Akan dikirim lewat pos katanya, berbeda dengan tahun lalu saat kakak tingkatnya penguman kelulusan SMA di sekolah dan menyemprot seragamnya dengan pewarna kemasan botol kaleng, sekarang tahunannya agak berbeda dan lebih bermakna. Mayrin agak iri pada Dendra, karena dia baru lulus SD dan tidak setegang dirinya.

Sejak selesai ujian dan tidak ada kegiatan sekolah Mayrin dan Dendra sudah pindah ke rumah tantenya, Mayta kesepian karena biasanya dia sering tidur di kosan bersama Mayrin. Sejak SMP dan SMA Mayrin dan Mayta memang sudah berpisah sekolah, dan sekarang tampaknya kampus atau jalan mereka pun berbeda. Sebagai anak bapak kosan, Mayta akan mengambil jurusan dengan yang paling dekat dengan penjualan rumah atau mungkin jurusan ekonomi. Sementara itu Mayrin belum tahu, dia tidak ikut pula saat tes masuk universitas seperti teman-temannya yang lain.

Mayrin cap sidik jari ke sekolahnya, dan pulangnya mampir ke toko musik. Dia bertemu lagi dengan laki-laki yang menubruknya saat itu, tetapi Mayrin tidak mengenalinya karena dia sudah mencukur jenggot dan kumis tipisnya. Pemuda yang ternyata masih muda dan tidak setua seperti yang disangka Mayrin menyapa dan Mayrin tersenyum hanya untuk kesopanan, lalu Mayrin pergi karena kaset dan CD yang dia mau sudah ketemu. Tidak sia-sia dia menabung karena apa yang dimau selalu terwujud meskipun membutuhkan waktu yang lama. Namun beberapa langkah Mayrin meninggalkan toko musiknya, dia kembali dengan berjalan mundur karena melihat informasi training penyiar radio yang ditempel di kaca kemudian Mayrin kembali masuk ke toko musiknya lagi untuk mengambil formulir pendaftaran itu. Laki-laki yang sudah cukuran dan sebagai kasir di toko musik itu pun tersenyum kala Mayrin bergegas mengambil formulirnya karena hanya tersisa tiga saja, dia masukkan ke dalam tasnya dan pergi tanpa balik lagi ke toko musiknya kali ini.

Jika memilih berkuliah, Mayrin merasa dirinya masih bingung ingin menginginkan apa. Impiannnya masih berubah-ubah, tetapi yang pasti dia suka musik dan suka bernyanyi. Dia ingin mencoba hal yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya, yang membuat Mayrin menyukai radio karena pesan dan request-nya sering dibacaoleh penyiar.

Lihat selengkapnya