Sekarang Mayrin sudah mau lulus SMA, dia masih bingung dengan impiannya sendiri. Hari itu sekolahnya mengadakan bakti sosial sebagai syukuran selesai ujian, hanya menunggu selangkah lagi dia akan pergi ke dunia baru.
“Aduh!” Mayrin bertubrukan dengan seorang laki-laki yang tampaknya lebih tua 3-5 tahun darinya, wajahnya penuh jenggot dan kumis tipis.
“Maaf.”
“Apa kamu belum bercukur?” Mayrin bertanya demikian dan laki-laki itu seperti orang bingung yang baru kali pertama berpapasan bertanya demikian, dia hanya mengangguk. “Ini aku ada alat cukur, awalnya untuk omku tetapi nanti gampang aku beli lagi saja,”
“Oh?” laki-laki itu semakin bingung, tetapi tangannya menerima alat cukur itu.
“Sama-sama.” Lantas dia tertawa kecil karena belum bilang berterima kasih, Mayrin pergi begitu saja karena bakti sosialnya belum selesai. Dalam bakti sosial itu selain memberikan sembako, teman satu angkatan bersama Mayrin pun akan membersihkan panti asuhannya juga. Laki-laki itu menjatuhkan kotak softlens-nya saat akan merapikan kantung sweater-nya karena dia harus memasukan alat cukur pembelian Mayrin juga, tetapi dia segera mengambilnya kembali kemudian berjalan ke arah kiri.
Sebenarnya Mayrin belum tenang setelah ujian, dia harap-harap cemas menunggu kabar kelulusannya. Akan dikirim lewat pos katanya, berbeda dengan tahun lalu saat kakak tingkatnya penguman kelulusan SMA di sekolah dan menyemprot seragamnya dengan pewarna kemasan botol kaleng, sekarang tahunannya agak berbeda dan lebih bermakna. Mayrin agak iri pada Dendra, karena dia baru lulus SD dan tidak setegang dirinya.
Sejak selesai ujian dan tidak ada kegiatan sekolah Mayrin dan Dendra sudah pindah ke rumah tantenya, Mayta kesepian karena biasanya dia sering tidur di kosan bersama Mayrin. Sejak SMP dan SMA Mayrin dan Mayta memang sudah berpisah sekolah, dan sekarang tampaknya kampus atau jalan mereka pun berbeda kembali. Sebagai anak bapak kosan, Mayta akan mengambil jurusan dengan yang paling dekat dengan penjualan rumah atau mungkin jurusan ekonomi. Sementara itu Mayrin belum tahu, dia tidak ikut pula saat tes masuk universitas seperti teman-temannya yang lain.
Mayrin cap sidik jari ke sekolahnya, dan pulangnya mampir ke toko musik. Dia bertemu lagi dengan laki-laki yang menubruknya saat itu, tetapi Mayrin tidak mengenalinya karena dia sudah mencukur jenggot dan kumis tipisnya. Pemuda yang ternyata masih muda dan tidak setua seperti yang dikira Mayrin itu menyapa dan dia tersenyum hanya untuk kesopanan.
“Ini saja?” Mayrin mengangguk, pemuda itu menekan angka jumlah pembelian Mayrin di kasir dan segera membungkusnya dengan rapi.