Dendra berusaha menurunkan berat badan untuk salah satu syarat diterima sebagai calon Paskibraka Nasional. Sama seperti adiknya sekarang yang memimpikan menjadi Paskibraka Nasional, dulu Mayrin pun begitu tetapi tidak lulus. Sekarang impiannya terwujud lewat adiknya yaitu Dendra, Mayrin tidak tahan menggoda adiknya itu dan sengaja memakan ayam crispy juga ice cream di depan Dendra. Lantas setelah itu Mayrin masuk kamar dan mengambil paket yang belum dia buka dan memberikannya pada Dendra yang tidak paham dengan kacang-kacangan dalam kemasan itu.
“Bodoh! Itu sereal sarapan yang bagus untuk menurunkan berat badan, kamu tidak perlu diet susah-susah. Nanti Kakak yang akan memasakkan menu sehat buat kamu ya De.”
“Setahuku selama ini masakan Kakak gak enak!”
“Kalau begitu masak sendiri!” Mayrin cemberut.
“Iya, iya nanti aku cobain!”
“Lagian kamu tuh De gak gendut kok, itu memang kelebihan beberapa kilo aja,”
“Ah masa?”
“Bodoh!”
“Tetap aja kan harus diimbangi olahraga,” sambil manyun dan tatapannya tetap ke televisi menonton kartun favoritnya.
“Masuk gym sana nanti kakak bayarin per bulannya!”
“Iya deh iya.”
Beberapa bulan kemudian, Mayrin juga om-tantenya melihat Dendra dalam barisan Paskibraka pasukan 17, betapa bangganya mereka mengharumkan nama keluarga dan bangsa. Masih terlihat di wajahnya bekas perjuangan Dendra panas-panasan kala berlatih Paskibra di lapangan, Mayrin masuk kamarnya dan kembali ke ruang tengah sambil membawa cream wajah untuk Dendra, Dendra memang secuek itu dengan penampilannya. Mayrin memindahkan channel saat Dendra ke dapur untuk mengambil camilan sehat dan minumannya, alangkah terkejutnya Dendra yang ingin melihat akhir permainan Bulu Tangkis jagoannya. Namun pada akhirnya Dendra yang mengalah dan menonton secara streaming. Drama yang sedang Mayrin tonton memang tidak dapat dia skip, sebegitunya mereka sering rebutan remot.
Dua tahun kemudian, tidak terasa hari ini adalah kelulusan SMA Dendra. Dia akan selalu mengingat masa SMA yang segalanya menjadi indah, masa-masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Masa yang tidak akan pernah terulang kembali, Dendra berfoto dengan teman-teman seangkatan sebelum acaranya dimulai.
Lili kuning sedikit layu dalam genggaman dan Mayrin Hanum memainkan hidungnya yang penuh dengan komedo sambil berkaca, sejenak dia bosan dengan hidung mungilnya. Sebenarnya dia mengidap pollinosis atau alergi serbuk bunga, dengan dalih memegang hidungnya terus-menerus dia berpura-pura memegang hidung yang banyak komedonya. Mayrin bersin-bersin karena debu jalanan, karena merasa malu duduk di trotoar sambil memegang bunga dia pun berdiri dan masih saja bersin-bersin akibat dari alerginya itu.
“Seharusnya aku memilih mawar saja kesukaannya, biarlah saja! Hari kelulusan bukan berarti aku harus memberinya bunga dan senyuman terbaik, tetapi senyuman jahat haha.” Mayrin Hanum mulai berjalan menuju gedung kelulusan Dendra.
”Haha pakai mobil dong!” Percikan genangan hujan disebabkan laju mobil hitam mengenai dress putihnya. Mayrin kembali duduk di trotoar, noda kasatmata tertetesi air mata dan lalu-lalang manusia melihatnya.
“Hemmm kelakuan bocah kaya sungguh keterlaluan!” Geram Carla pemilik toko bunga melepas celemek yang dia kenakan lalu membuka pintu dan menghampiri Mayrin. “Kamu tidak apa-apa? Sudahlah ayo bangun! Ini untuk Adikmu kan? Mayrin belum menjawab. “Jawab aku!”
“Hem iya,” mengusap air matanya yang reflek keluar saat genangan hujan mengotori dress-nya.
“Ikut aku!” Mayrin masih saja jongkok di trotoar dengan wajah yang dia sembunyikan dalam dekapan tangan, lantas Carla memegang bahu Mayrin dan membuatnya berdiri.
“Kamu kan tidak mengenali aku,” ucap Mayrin.
“Mengapa?”