SAAM HANUM

Ana Dzikriani Thaibah
Chapter #3

Masa Peralihan

Dendra berusaha menurunkan berat badan sebagai salah satu syarat agar diterima sebagai Paskibraka Nasional, Mayrin tidak tahan menggoda adiknya itu dan sengaja memakan ice cream dan ayam crispy di depan Dendra. Mayrin masuk kamar dan mengambil paket yang belum dia buka dan memberikannya pada Dendra yang tidak paham dengan kacang-kacangan dalam kemasan itu.

“Bodoh! Itu sereal sarapan yang bagus untuk menurunkan berat badan, kamu tidak perlu diet susah-susah. Nanti Kakak yang akan memasakkan menu sehat buat kamu ya De.”

“Setahuku selama ini masakan Kakak gak enak!”

“Kalau begitu masak sendiri!”

“Iya, iya nanti aku cobain!”

“Lagian kamu tuh De gak gendut kok, itu memang kelebihan beberapa kilo aja.”

“Ah masa?”

“Bodoh!”

“Tetap aja kan harus diimbangi olahraga,”

“Masuk gym sana nanti kakak bayarin per bulannya!”

“Iya deh iya.”

 

Mayrin Hanum memindahkan channel televisi untuk menonton drama yang dia suka, sementara Dendra ingin melihat pertandingan Bulu Tangkis, tetapi pada akhirnya Dendra yang mengalah dan menonton secara streaming. Ya, mereka sering sekali rebutan remot.

Sama seperti adiknya sekarang yang memimpikan menjadi Paskibraka Nasional, dulu Mayrin Hanum pun begitu tetapi tidak lulus. Sekarang impiannya terwujud lewat adiknya Dendra, betapa bangganya Mayrin Hanum melihat adiknya menjadi Pasukan Pengibar Bendera Nasional.

 

Waktu berlalu begitu cepat, hari ini adalah kelulusan SMA Dendra. Dendra akan selalu mengingat masa SMA itu yang segalanya menjadi indah, masa-masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Masa yang tidak akan pernah terulang kembali, Dendra berfoto dengan teman-teman seangkatannya sebelum acara dimulai.

 Lili kuning sedikit layu dalam genggaman dan Mayrin Hanum memainkan hidungnya yang penuh dengan komedo sambil berkaca, sejenak dia bosan dengan hidung mungilnya. Sebenarnya dia mengidap pollinosis atau alergi serbuk bunga, dengan dalih memegang hidungnya terus-menerus dia berpura-pura memegang hidung yang banyak komedonya. Mayrin Hanum yang sedang di trotoar itu bersin-bersin, karena malu duduk di trotoar sambil memegang bunga dia pun berdiri dan masih saja bersin-bersin akibat dari alerginya.

“Seharusnya aku memilih mawar saja kesukaannya, biarlah saja! Hari kelulusan bukan berarti aku harus memberinya bunga dan senyuman terbaik, tetapi senyuman jahat haha.” Mayrin Hanum mulai berjalan menuju gedung kelulusan Dendra.

”Haha pakai mobil dong!” Percikan genangan hujan disebabkan laju mobil hitam mengenai dress putihnya. Mayrin Hanum kembali duduk di trotoar, noda kasatmata tertetesi air mata dan lalu-lalang manusia melihatnya.

“Hemmm kelakuan bocah kaya sungguh keterlaluan!” Geram Carla pemilik toko bunga melepas celemek yang dia kenakan lalu membuka pintu dan menghampiri Mayrin Hanum. Kamu tidak apa-apa? Sudahlah ayo bangun! Ini untuk Adikmu kan? Jawab aku!”

“Hem iya,” mengusap air matanya.

“Ikut aku!” Mayrin masih saja duduk di trotoar dengan wajah yang dia sembunyikan dalam dekapan tangan, lantas Carla memegang bahu Mayrin dan membuatnya berdiri.

“Kamu kan tidak mengenali aku,”

Lihat selengkapnya